SIDOARJO (RadarJatim.id) — Dedikasi, kedisiplinan, dan ketelitian tinggi dalam proses membimbing, membuat siswa SMK Negeri 1 Buduran Sidoarjo berhasil meraih prestasi membanggakan.
Lewat perjuangan tak kenal lelah, Dila Fitri Nabila berhasil menyabet Juara 1 Ajang Kompetensi Siswa (LKS) Nasional 2026 untuk Bidang Fashion Technology, yang dilombakan pada akhir Juli 2026 hingga awal Agustus 2026.
Menurut Guru Pembimbing, Diah menjelaskan bahwa pencapaian ini terbilang sangat istimewa, karena merupakan kali pertama sang siswa menjuarai kompetisi di bidang yang sama. Tentunya, sebelumnya sudah melehawati tingkat Kabupaten Sidoarjo hingga berlanjut meraih Juara 1 LKS tingkat Provinsi Jawa Timur.
Persiapan ketat, berpacu dengan waktu 10 jam. Proses panjang di balik kemenangan ini melibatkan simulasi intensif yang disesuaikan dengan standar industri dan kisi-kisi lomba.
Siswa dilatih secara berulang untuk menguasai setiap tahapan pembuatan blazer, mulai dari pembuatan pola, pemotongan bahan, teknik menjahit, hingga finishing.
”Persiapan saya dimulai dari latihan menjahit secara rutin. Ketepatan dan kecepatan dalam menjahit sebuah blazer saya lakukan berulang-ulang sampai memenuhi target batas waktu lomba, yaitu 10 jam. Waktu tersebut sangat singkat untuk menyelesaikan sebuah blazer yang rumit,” ungkap sang juara ini pada (7/8/2026) siang.
Selain mengasah keterampilan teknis, masa persiapan ini juga membentuk mentalitas yang kuat, ketelitian, serta kedisiplinan diri di bawah bimbingan intensif guru pembimbing.
Manajemen waktu menjadi tantangan terbesar yang harus dihadapi di arena lomba. Dalam durasi 10 jam, peserta dituntut merampungkan seluruh proses pembuatan blazer tanpa mengesampingkan kerapian dan ketepatan detail.
Tantangan teknis lainnya meliputi penataan pola, yaitu meletakkan pola dengan benar dan memberikan tanda sesuai standar industri.
Detail kerapian, yaitu untuk memastikan kerah, lengan, saku, dan finishing tetap presisi dan memenuhi kriteria penilaian. “Juga dalam pengelolaan mental, yaitu mengendalikan rasa gugup di bawah batasan waktu yang ketat,” ungkapnya.
Kunci keberhasilan ini tak lepas dari peran aktif guru pembimbing yang menerapkan metode pendampingan terstruktur. Pendampingan dimulai dari pemetaan kemampuan awal siswa, pemahaman kisi-kisi, hingga penyusunan program latihan bertahap.
”Dalam proses latihan, siswa tidak hanya dilatih keterampilan teknis, tetapi juga kedisiplinan, manajemen waktu, dan problem solving. Kami mengadakan simulasi dengan kondisi persis seperti lomba sebenarnya,” jelas sang guru pembimbing Bu Diah.
Sistem evaluasi berkala juga diterapkan setelah latihan. Setiap kekurangan dianalisis dan diperbaiki secara berulang hingga siswa mencapai target optimal dan siap bekerja secara mandiri di bawah tekanan.
Rasa bahagia, bangga, dan syukur tak terbendung saat pengumuman kemenangan. Semua rasa lelah selama berminggu-minggu terbayar tuntas dengan raihan gelar juara yang membawa nama baik sekolah.
”Saya sangat bersyukur dan bangga bisa membawa nama baik sekolah,” ungkapnya.
Prestasi ini membuat saya semakin percaya diri dan termotivasi untuk terus meningkatkan kemampuan.
“Saya akan terus belajar bahwa dengan latihan yang konsisten, disiplin, dan tidak mudah menyerah, hingga bisa mencapai hasil yang kita inginkan,” pungkas sang juara penuh optimisme.(mad)







