SIDOARJO (RadarJatim.id) – Dalam merealisasikan program ‘GERAK MELATI” (Memanfaatkan Lahan Tidur) agar lebih tepat dan bermanfaat, SMP Negeri 4 Waru telah membahasnya melalui kegiatan “Workshop Adiwiyata Program GERAK MELATI: Green Innovation for Future Generation,” pada (23/10/2026) pagi di Ruang Pertemuan Sekolah.
Kegiatan GERAK MELATI yang dicanangkan leh Dinas Dikbud Sidoarjo ini, di SMP Negeri 4 Waru difokuskan pada inovasi pembelajaran berbasis lingkungan melalui budidaya Melon Hidroponik dan pembuatan Lubang Resapan Biopori.
Berlangsung mulai pukul 08.30 WIB dihadiri oleh seluruh Bapak/Ibu Guru SMP Negeri 4 Waru serta dibuka terlebih dahulu oleh Kepala Sekolah, Mar’atus Solicha, S.Pd., M.Pd.
“Program ini mengusung konsep One School With One Area Of Excellence (Satu Sekolah – Satu Keunggulan) untuk mengubah lahan sekolah yang belum optimal menjadi laboratorium pembelajaran yang nyata, produktif, dan berkelanjutan,” jelas Mar’atus Solicha.

Agar programnya bisa berjalan secara maksimal, pihak sekolah telah telah menghadirkan narasumber yang mumpuni di bidangnya, yakni Kepala Bidang Guru dan Tenaga Kependidikan (Kabid GTK) Disdikbud Sidoarjo, Moh. Shobirin, M.Pd dan narasumber utama, M. Koko Ardyansyah, S.P., Manajer Agribisnis dari Direktorat Pengembangan Bisnis dan Investasi Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (UMSIDA).
Dalam pemaparannya, M. Koko Ardyansyah menjelaskan tahapan budidaya, meliputi penyemaian, pindah tanam, cek air/nutrisi, perambatan dan pemangkasan, penyerbukan buatan, hingga pembesaran dan pemananen (usia 65–90 HST/Hari Setelah Tanam).
Sedangkan untuk lubang resapan Biopori, dibuat secara vertikal dengan diameter 10–15 cm dan kedalaman 80–100 cm.
“Berfungsi menyerap air hujan dan memproses sampah organik (daun kering dan sisa sayuran mentah) menjadi kompos melalui bantuan mikroorganisme tanah,” jelasnya.
Melalui program ini, saya harapkan tidak hanya menjadi tempat belajar teori, tetapi juga mengintegrasikan ilmu ke dalam berbagai mata pelajaran seperti IPAS/IPA, Matematika, Bahasa Indonesia, Seni, hingga Kewirausahaan.
”Pertanian bukan hanya tentang menanam tanaman di tanah. Dengan pengetahuan dan teknologi, kita dapat membudidayakan melon secara terukur. Daun kering pun bukan sampah, melainkan aset lingkungan jika dikelola dengan tepat,” harap M. Koko.

Sementara itu, Moh. Shobirin, M.Pd menjelaskan bahwa latar belakang lahirnya GERAK MELATI adalah masih banyaknya area atau lahan kosong di lingkungan sekolah yang belum dimanfaatkan secara optimal.
Padahal, lingkungan sekolah memiliki potensi besar sebagai laboratorium pembelajaran nyata. ”Prinsip utama GERAK MELATI adalah lahan minimal, manfaat maksimal. Keterbatasan lahan tidak boleh menjadi hambatan bagi sekolah untuk menciptakan keunggulan. Kita ingin mengubah lahan tidur menjadi lahan belajar, dan dari lahan belajar menjadi lahan produktif,” katanya.
Melalui program ini, sekolah dibebaskan memilih model keunggulan yang disesuaikan dengan kondisi dan karakteristik lahannya. “Bisa budidaya tanaman buah (seperti melon), tanaman obat, sayuran, budidaya ikan, hingga peternakan edukatif. Termasuk juga penerapan sistem hidroponik, vertikultur, tanaman obat, dan kolam ikan,” terang Shobirin.
Jadi, GERAK MELATI bukan sekadar kegiatan bercocok tanam biasa, melainkan sebuah siklus pembelajaran nyata yang mencakup 9 tahapan. ” Merenchanakan, Menanam/Memelihara, Mengamati, Mencatat, Mengelola, Memanen, Mengolah, Memasarkan, hingga Mengevaluasi,” urainya.(mad)








