SURABAYA (RadarJatim.id) – Suasana auditorium T2 Universitas Negeri Surabaya (Unesa) pada Minggu (14/6/2026) terasa berbeda. Ini bukan soal perkuliahan biasa, melainkan panggung kecil yang menjelma menjadi berbagai dunia: dari ruang keluarga yang mencekam, pedesaan Skotlandia pascaperang, hingga kamar remaja yang penuh tekanan.
Sebanyak 12 drama berbahasa Inggris dipentaskan oleh mahasiswa S1 Sastra Inggris Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Unesa angkatan 2024 sebagai tugas akhir mata kuliah Drama and Performance. Ke-12 drama tersebut adalah: The Game, Why Cupid Came, Mine Eyes Have Seen, A Long Ago, An Irish Engagement, Campbell of Kilmohr, He Said & She Said, Trifles, Scuba Lessons, The Intruder, The Judgement of Paris, dan Clothes for their Souls.
Pementasan ini sengaja membatasi jumlah penonton secara langsung. Tujuannya, untuk mengoptimalkan proses perekaman yang nantinya diunggah ke kanal media sosial. Meski begitu, auditorium T2 tetap padat oleh audiens yang terdiri atas para dosen, mahasiswa Unesa, dan mahasiswa dari perguruan tinggi lain.
Dalam sambutannya, Dr Ali Mustofa, MPd, Koordinator Prodi Sastra Inggris, menyampaikan apresiasi yang tinggi atas penyelenggaraan even ini.
“Apresiasi setinggi-tingginya saya sampaikan atas upaya kalian dalam pementasan ini. Kalian berhasil memahami dan mementaskan salah satu genre sastra tertua, yakni drama,” ujarnya.
Ia menegaskan, bahwa mementaskan drama membutuhkan pemahaman dan kerja literer yang utuh. Karenanya, pelaksanaanya membutuhkan energi ekstra mulai persiapan, mengoordinasikan tim, hingga pementasannya.
“Mementaskan drama bukan hanya memahami teks tulis drama, melainkan juga mengubah teks tulis menjadi teks visual, dan itu membutuhkan kerja kolaborasi tim yang baik. Itulah mengapa, kali ini kalian telah belajar banyak darinya,” tambah Ali Mustofa.
Ragam Tema yang Digelar
Dua belas drama yang dipentaskan mengusung tema yang beragam dan mendalam. Di antaranya: Mine Eyes Have Seen menyoroti konflik antara patriotisme dan kesetaraan ras bagi warga Afrika-Amerika di masa perang. An Irish Engagement mengangkat hasrat dan realita dalam perjodohan yang rumit. Campbell of Kilmohr mengeksplorasi pengkhianatan, kesetiaan, dan kekuasaan negara pasca pertempuran di Skotlandia.
Tak kalah menarik, He Said & She Said membahas kuasa, persetujuan, dan akuntabilitas dalam hubungan remaja. Trifles – drama klasik karya Susan Glaspell – menghadirkan kisah pembunuhan misterius yang mengkritik ketidakadilan gender melalui hal-hal kecil yang dianggap sepele oleh laki-laki. Lalu, The Intruder berhasil mengeksplorasi ketakutan akan kematian yang tidak terlihat dalam suasana yang penuh kecemasan.
Respons Audiens dan Apresiasi
Pementasan yang berlangsung secara bergilir ini mendapat respons hangat dari para penonton. Beberapa audiens mengaku tersentuh dan terbawa suasana.
“Yang The Intruder itu bikin merinding. Suasananya hening tapi mencekam. Saya sampai ikut tegang,” ujar Dewi, mahasiswi Sastra Inggris semester 4.
Seorang mahasiswa dari perguruan tinggi lain juga mengaku paling terkesan dengan He Said & She Said. “Dramanya terasa sangat dekat dengan realitas remaja saat ini. Isu consent itu dikemas tidak menggurui, justru menusuk. Ada teman saya sampai menangis,” katanya.
Dosen pengampu mata kuliah Drama, Dr Much. Khoiri, MSi, selaku Ketua Tim Dosen Drama and Performance, menambahkan, pementasan ini merupakan agenda tahunan yang terus dijaga keberlanjutannya.
“Detail drama insya-Allah dapat dilihat di kanal YouTube. Kami berharap ini dapat menjaga keberlanjutan pementasan drama dari tahun ke tahun,” ungkapnya.
Kesuksesan pementasan ini tak lepas dari dukungan Himpunan Mahasiswa Prodi (HMP) Sastra Inggris. “Teman-teman HMP begitu sigap membantu persiapan dan pelaksanaan pementasan ini, termasuk mengundang teman-teman mahasiswa dari perguruan tinggi lain. Kami sangat berterima kasih,” pungkas Much. Khoiri.
Dengan berakhirnya pementasan, para mahasiswa tak hanya menyelesaikan tugas akhir, tetapi juga membuktikan, bahwa teks sastra klasik hingga kontemporer bisa hidup kembali, dan mampu mengguncang emosi penonton. (sha)






