KEDIRI (RadarJatim.id) – Tidak banyak publikasi, ternyata di Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri ada komunitas literasi yang menarik. Yaitu komunitas bedah buku yang anggotanya mayoritas anak muda. Di era digital dan distraksi digital yang sering dianggap sebagai ancaman bagi budaya membaca, komunitas ini membuktikan bahwa kegiatan membaca buku masih diminati anak muda.
Menurut data terbaru dari Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa tingkat kegemaran membaca masyarakat Indonesia mengalami peningkatan signifikan dalam empat tahun terakhir. Indeks Tingkat Kegemaran Membaca (TGM) nasional mencapai angka 72,44. Angka ini merupakan pencapaian tertinggi dalam lima tahun terakhir. Yang lebih menarik, generasi muda atau Gen Z ternyata menjadi kontributor terbesar dalam lonjakan positif ini.
Setidaknya aktivitas literasi yang dilakukan Komunitas Bedah Buku di Pare ini membuktikan hal itu. Komunitas ini secara rutin mengadakan acara bedah buku yang dihadiri oleh mayoritas kaum muda. Didirikan sejak 2023 anggotanya terdiri dari ibu rumah tangga, penggiat literasi, rumah kreatif, seniman, guru dan mahasiswa, khususnya di sekitaran Kampung Inggris, yaitu Desa Tulungrejo dan Desa Pelem.
Di dekat kawasan inilah komunitas bedah buku ini berkegiatan, mengasah pikiran kritis, mempertemukan buku, pemikiran dan pembaca dengan diskusi yang hangat dan menyenangkan. Sebulan sekali, komunitas ini menggelar acara bedah buku, berbagai genre. Mulai sejarah, politik sampai sastra. Melalui akun IG @rasanrasanbuku, komunitas ini mempublikasikan acara yang akan berlangsung maupun sudah berlangsung.
Kegiatan terbaru yang diadakan adalah acara bedah buku #Reset Indonesia: gagasan Indonesia Baru pada Jumat lalu (30/10) di Griya Padminingsih, Pare. Dipandu moderator diskusi, Ghulam Pambayung dan pengulas buku, Richard, acara ini dihadiri sekitar 40 orang. Di teras yang asri, mereka menyimak paparan narasumber dengan penuh minat.
Buku yang menjadi obyek bahasan tersebut ditulis oleh empat jurnalis beda generasi, yakni Farid Gaban, Dandhy Laksono, Yusuf Priambodo dan Benaya Hanobu. Diterbitkan tahun 2025, berjumlah 448 halaman. Buku ini merupakan hasil perjalanan panjang dan ekspedisi jurnalistik keempat penulis mulai dari Pulau Weh sampai gedung DPR dan Sekretariat Negara.
Bulan sebelumnya, komunitas ini menggelar bedah buku di tempat yang sama. Buku Pah Pinan: Jagat Raya Mollo dan Seisinya, terbitan Indonesia Tera. Buku ini merupakan kumpulan esai personal yang ditulis oleh orang-orang Mollo, Nusa Tenggara Timur. Dari IG komunitas, acara bedah buku ini dihadiri oleh banyak pengunjung kaum muda.
Menurut Gelar Prakosa, salah satu kordinator komunitas, buku yang dibahas memang bermacam-macam dan setiap orang diberi kesempatan untuk membahas karya buku yang sudah ia baca. Komunitas juga memberi wadah bagi penulis buku yang ingin membahas karya bukunya untuk dibedah bersama. “Kegiatan komunitas kami lebih bersifat sharing isi buku yang sudah dibaca anggota komunitas, kemudian didiskusikan bersama” ujar Gelar. (rio)







