• Pasang Iklan
  • Redaksi
  • Contact
Rabu, 16 September 2026
No Result
View All Result
e-paper
Radar Jatim
  • Home
  • Bisnis
  • Hukum dan Kriminal
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Lifestyle
  • Contact
  • Home
  • Bisnis
  • Hukum dan Kriminal
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Lifestyle
  • Contact
No Result
View All Result
Radar Jatim
No Result
View All Result
Home Sastra/Budaya

Spektrum Sutasoma: Saat Putra Mahkota Tak Hendak Menjadi Raja

by Radar Jatim
16 September 2026
in Sastra/Budaya
0
Spektrum Sutasoma: Saat Putra Mahkota Tak Hendak Menjadi Raja
8
VIEWS

Panggung Spektrum Sutasoma dibuka oleh keagungan Sri Raja Bajrajana yang sedang gundah. Putra mahkota Pangeran Sutasoma menolak tahta karena menganggap singgasana dibangun di atas “tumpukan tulang belulang”.

Sutasoma memilih ahimsa, jalan kedamaian. Istana pun ditinggalkan. Ia mengembara di hutan sekaligus ruang pencucian batin.

Hutan dalam pentas ini bukan sekadar rimba tempat bertapa. Ia menjelma metafora “hutan ego” manusia modern. Di sanalah masa lalu bertemu abad ke-21.

Tokoh-tokoh pengawal dan narator membawa satire tentang kehidupan manusia yang gemar mengenakan topeng kesucian, kedermawanan, bahkan korban di ruang media sosial. Kebaikan dapat dipertontonkan, pengorbanan dapat dikemas, dan kesalehan dapat menjadi citra yang dipertukarkan demi pengakuan.

Yang dipersoalkan bukan media sosialnya, melainkan ego yang bersembunyi di baliknya.

Topeng menjadi penting, karena manusia tidak selalu menampilkan wajah aslinya. Ada topeng mencari pujian. Ada topeng untuk memperoleh pengakuan. Ada kebaikan yang kehilangan ketulusan karena sibuk mencuri perhatian orang lain.

Dalam pengembaraan Sutasoma bertemu berbagai bentuk kegelapan. Raksasa Purusada yang kelaparan, sang raja pemburu manusia. Menjadi ujian atas keteguhan hatinya. Sutasoma menyerahkan tubuhnya saat hendak dimakan. Tak melawan dengan kebencian. Ia justru bersedia menyerahkan tubuhnya apabila dapat mengakhiri kelaparan Purusada.

Di sinilah kasih tanpa syarat menemukan bentuk paling ekstrem. Ia memberi tak harap kembali.

Puncak pertunjukan, Purusada tersadar. Pertemuan keduanya tidak berakhir dengan menang atau kalah. Justru batas antara gelap dan terang mulai runtuh. Sutasoma dan Purusada seperti dua sisi yang selama ini dipisahkan topeng duniawi. Yang satu dianggap cahaya, yang lain kegelapan. Tetapi keduanya berasal dari hakikat kemanusiaan yang sama.

Bhinneka Tunggal Ika

Repertoar Spektrum Sutasoma diadaptasi dari Kakawin Sutasoma. Karya Mpu Tantular yang hidup di Kerajaan Majapahit pada akhir abad ke-14. Kitab ini merupakan kisah epik pengembaraan putra mahkota Negeri Hastinapura. Pangeran Sutasoma yang tampan dan konon titisan Sang Buddha.

Pengembaraan Sutasoma dalam hutan bertemu berbagai makhluk seperti naga, raksasa, dan singa lapar, yang akhirnya malah menjadi pengikutnya. Kisahnya menekankan kerukunan hidup di bawah ajaran Hindu-Siwa dengan Buddha.

Kakawin Sutasoma terdiri atas 148 pupuh (bab). Karya sastra ini berisi sekitar 1.210 bait. Semboyan negara Indonesia, “Bhinneka Tunggal Ika”, berada dalam bait kelima pupuh 139.

Kutipan aslinya: Rwāneka dhātu vinuvus vara Buddha Visvā, Bhimukti rakva ring apan kenā parvvanosĕn, Mangka ng Jinatvâ kalavan Çivatatva tunggal, Bhinnêka tunggal ika tan hana dharma mangrwa.

Artinya, Buddha dan Siwa merupakan dua zat yang berbeda. Mereka memang berbeda, tetapi bagaimanakah bisa dikenali? Sebab kebenaran jina Buddha dan Siwa adalah tunggal. Terpecahbelahlah itu, tetapi satu jugalah. Tidak ada kerancuan dalam kebenaran.

Mpu Tantular menempatkan ungkapan tersebut sebagai gagasan tentang keberagaman yang tidak meniadakan kesatuan kebenaran. Spektrum Sutasoma membawa kembali gagasan itu ke ruang kontemporer: ketika perbedaan identitas mudah berubah menjadi sekat, sementara individualitas bekerja diam-diam mendada tentang kebenaran.

Semboyan persatuan tidak cukup hanya dipajang di dinding kantor sebagai kata-kata. Ia menuntut keberanian untuk menanggalkan topeng kekuasaan, pencitraan, kesombongan, bahkan rasa paling benar sendiri. Sebab pertarungan terbesar manusia bukanlah menaklukkan orang lain, melainkan menaklukkan angkara murka yang tumbuh di dalam dirinya.

Saat panggung gelap. Lakon berakhir. Justru pertanyaan berpindah kepada penonton, topeng apa yang masih kita kenakan?

Di situlah Spektrum Sutasoma menyentil kenyataan. Semboyan kerap hanya dijadikan pajangan atau slogan. Tanpa diresapi kebenaran hakikinya. Di mana manusia berani menanggalkan “topeng kekuasaan” demi kedamaian bersama.

​​Pahlawan sejati bukanlah mereka yang sibuk membangun narasi “kebaikan” di media sosial, melainkan mereka yang berani melumpuhkan angkara murka dalam dirinya melalui ketulusan dan pengorbanan tanpa syarat.

Lakon telah usai. Namun pertunjukan yang sesungguhnya baru saja dimulai. Rangkaian kalimat ini menjadi semacam pintu keluar sekaligus cermin bagi penonton Spektrum Sutasoma.

Karya teater ini diadaptasi dan disutradarai Harwi Mardianto. Bukan sekadar sajian kisah klasik, melainkan pantulan kegelisahan manusia hari ini.

Pementasan berdurasi 26 menit 45 detik di STKW Surabaya, Senin, 14 September 2026, Sutasoma tidak berhenti sebagai tokoh masa lalu. Ia hadir di tengah dunia yang dipenuhi pencitraan, politik identitas, keserakahan, yang kerap bersembunyi di balik berbagai topeng.

Catatan terakhir usai pementasan, bahasa teater berhasil divisualisasi penata teknis intermedial Deva Rizki Listianto sangat memukau. Terutama saat mengurai spiritualitas Sutasoma. Tapi ketika terjadi dialog antarpemain, drama ini jadi antiklimaks.

Pertanyaannya, apakah bahasa selalu berwujud dialog? Mengapa bukan berupa lipatan kain yang menjulur dari atap panggung, warna lampu, gerak pemain, atau kepulan asap yang mistis di tengah deru teknologi mutakhir? (Rusdi Zaki)

Tags: Putra MahkotaSpektrum SutasomaTeater

Related Posts

SD Nufi Kenalkan Sejarah Indonesia Melalui Gelar Karya Siswa

SD Nufi Kenalkan Sejarah Indonesia Melalui Gelar Karya Siswa

by Radar Jatim
29 Januari 2024
0

SIDOARJO (RadarJatim.id) -- Di tengah...

Load More

Radar Jatim Video Update

Berita Populer

  • Tangis Haru Mewarnai Suasana Penjemputan Siswa SMA Negeri 1 Wonoayu

    Tangis Haru Mewarnai Suasana Penjemputan Siswa SMA Negeri 1 Wonoayu

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Soft Launching KM Dharma Kencana V, Fasilitas Mewah Berkapasitas 1.400 Penumpang

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ribuan Warga Padati Alun-alun Tugu Malang, Dukung MBG Menuju 82 Juta Penerima Manfaat

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ribuan Warga Doakan Keluarga Besar SMK Antartika 2 Sidoarjo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Analisis Semantik Puisi ‘Aku Ingin’ Karya Sapardi Djoko Damono

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Radar Jatim adalah media online Jatim yang memberikan informasi peristiwa dan berita Jawa Timur dan Surabaya terkini dan terbaru.

Kategori

  • Artikel dan Opini
  • Ekonomi Bisnis
  • Ekosistem Lingkungan
  • Esai/Kolom
  • Feature
  • Finance
  • HAM
  • Hukum dan Kriminal
  • Infrastruktur
  • Kamtibmas
  • Kemenkumham
  • Kesehatan
  • Ketenagakerjaan
  • Komunitas
  • Kuliner
  • Lain-lain
  • Layanan Publik
  • Lifestyle
  • Literasi
  • Nasional
  • Olah Raga
  • Ormas
  • Otomotif
  • Pariwisata
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Peristiwa
  • Pertanian
  • Peternakan
  • pinggiran
  • Politik
  • Religi
  • Sastra/Budaya
  • Sosial
  • Tekno
  • TNI
  • TNI-Polri
  • Transportasi
  • video
  • Wisata

Kami Juga Hadir Disini

© 2020 radarjatim.id
Susunan Redaksi ∣ Pedoman Media Siber ∣ Karir

No Result
View All Result
  • Home
  • Politik
  • Hukum dan Kriminal
  • Nasional
  • Lifestyle
  • Tekno
  • Ekonomi Bisnis
  • Artikel dan Opini

© 2020radarjatim.id

Login to your account below

Forgotten Password?

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In