SURABAYA (Radarjatim.id) – Bisnis Affiliate Indonesia dinilai masih mempunyai peluang besar. Industri ini akan besar dan berkembang dalam lima hingga 10 tahun kedepan. CEO & Founder DIGIMARU Michael Sugiharto, didampingi CEO Superstar Agency Andri Firmansyah menegaskan, ekosistem affiliate di Indonesia masih berada pada tahap awal, jika dibandingkan dengan China.
Berdasarkan data yang dihimpun, jumlah affiliator saat ini masih relatif kecil dibandingkan dengan jumlah pengguna media sosial, khususnya TikTok. Sebelumnya, mereka berdua diundang TikTok ke China, untuk melihat perkembangan ekosistem affiliate di negara tersebut.

Menurut Michael, di China bisnis affiliate mulai berkembang dari aktivitas individu menjadi perusahaan khusus.
“Lima sampai 10 tahun ke depan, affiliate ini adalah opportunity yang bagus banget,” kata Michael dalam acara Superstar Affiliate Revolution di Surabaya, Minggu (06/09/2026).
Sejumlah perusahaan besar di China disebut telah memiliki akun affiliate sendiri, termasuk perusahaan penerbangan yang mendorong pramugarinya ikut melakukan aktivitas penjualan.
Michael menjelaskan, Indonesia masih memiliki ruang pertumbuhan besar. Jumlah affiliator diperkirakan kurang dari dua juta orang, sementara penduduk Indonesia mencapai 280 juta dan pengguna TikTok sekitar 194 juta.
“Jadi, masih sedikit sekali. Peluangnya masih gede, masih blue ocean banget.”
Namun, perkembangan affiliate marketing di Indonesia masih menghadapi tantangan. Salah satunya pemahaman brand dan seller terhadap pemasaran melalui affiliate dan media sosial yang dinilai belum merata.
“Banyak brand terutama brand lokal masih belum mengerti cara kerjanya,” ungkapnya.
Michael menilai brand asal China lebih cepat beradaptasi karena telah memahami strategi pemasaran berbasis affiliate. Kondisi tersebut berbeda dengan sebagian brand lokal yang masih lambat dalam pengiriman sampel produk maupun pembahasan komisi.
“Brand China sudah ngerti bagaimana cara marketing-nya, sehingga dalam beberapa tahun saja sudah bisa merambah market sangat luas.”
DIGIMARU, kata Michael, turut memberikan edukasi kepada brand dan seller agar mampu beradaptasi dengan pola pemasaran digital.
“Kami mengedukasi brand bagaimana menang dengan platform baru dan gaya berjualan yang baru.”
Sementara itu, CEO Superstar Agency Andri Firmansyah mengatakan Superstar Affiliate Revolution digelar selama dua hari, 5-6 September 2026, di Surabaya. Superstar Agency, mempertemukan affiliator dengan berbagai brand untuk membuka peluang kerja sama secara langsung.
Sekitar 700 hingga 900 affiliator hadir dalam kegiatan tersebut. Peserta berasal dari berbagai daerah, terutama Jawa Timur dan sebagian Jawa Tengah. Sementara jumlah brand yang terlibat mencapai sekitar 40 hingga hampir 50 brand.
“Brand dan affiliator saling membutuhkan, tetapi kadang mereka enggak ketemu,” kata Andri.
Melalui Superstar Agency sebagai MCN resmi TikTok dan Shopee, affiliator dipertemukan dengan brand untuk memperoleh sampel produk, harga, dan komisi. Brand juga mendapat akses kepada lebih banyak kreator.
Salah satu programnya adalah Meet the Creators, yang mempertemukan affiliator pemula dengan top creator untuk berbagi strategi membuat konten dan live streaming.
Andri menyarankan calon affiliator menguasai pengetahuan terlebih dahulu sebelum mulai membuat konten. Setelah itu, pengetahuan tersebut harus dipraktikkan secara konsisten.
“Nomor satu yang paling penting adalah knowledge, ilmunya dulu. Kalau sudah dapat ilmunya, jadikan ilmu itu jadi skill,” katanya.
Menurutnya, tiga hingga enam bulan pertama menjadi periode penting bagi affiliator pemula. Hasil yang lebih terasa umumnya mulai muncul setelah enam bulan hingga satu tahun jika dilakukan secara konsisten.
Salah satu peserta, Novika dari Bojonegoro, mengaku baru sekitar satu tahun menekuni affiliate. Kini ia fokus membuat konten kategori home living di TikTok dan menargetkan penghasilan hingga Rp1 juta per hari.
“Sehari 10 konten, durasi 15 detik saja cukup,” kata Novika. (RJ9)







