Oleh Arik S. Wartono
Di Jawa, tanah liat tidak pernah berhenti bicara. Ia diuleni di pesisir Gresik abad ke-14, dibakar di tungku Gosari. Lima ratus tahun kemudian ia bergema lagi di tanah gamping Kasongan, selatan Yogyakarta. Bentuknya berubah: dari kendi Majapahit menjadi guci ekspor, dari periuk dapur menjadi Loro Blonyo.
Apakah ada kaitan sejarah di antara keduanya? Memang belum tentu, bisa ya bisa juga tidak. Tapi ada hubungan logika: logika Jawa dalam memperlakukan tanah sebagai guru. Di dua tempat berbeda, dengan fragmen sejarah berbeda, manusia Jawa menemukan jawaban yang sama: membentuk tanah.
Kajian Fragmen Gerabah Gosari oleh Eko Jarwanto membuka pada satu kebenaran: Gosari yang saat ini secara administratif berada di Desa Gosari, Kecamatan Ujungpangkah, Kabupaten Gresik, Jawa Timur, bukan desa biasa. Di tahun 1298 Saka atau 1376 M, di bawah bayang Prasasti Butulan, Gosari adalah sentra industri¹. Di sana ditemukan tiga tungku elips berplester batu putih, sendang air berukura 5 x 10 meter, dan ribuan fragmen pottery fine paste: gerabah berdinding tipis, pori rapat, slip merah melingkar. Ini bukan cuma kerajinan rumah tangga. Ini industri berskala besar pada zamannya.
Menariknya, hingga kini jejak tungku pembakaran gerabah skala industri era Jawa klasik yang terdokumentasi rapi memang paling lengkap ada di Gresik. Gosari menghasilkan kendi barceret tipe Majapahit, botol mercury, vas, periuk, hingga piring. Sebanyak 84% sampai 92% temuannya adalah tembikar halus.
Teknologi ini menuntut lempung pilihan, teknik putar, dan pembakaran terkontrol. Air dari sendang, tanah dari embong, dan api dari tungku menyatu menjadi sistem produksi yang terhubung ke jaringan laut Majapahit. Kesamaan karakter dengan Trowulan membuktikan, bahwa Gosari adalah bagian dari rantai ekonomi kerajaan, memasok kebutuhan domestik, ritual, dan niaga². Tapi sejarah Jawa tidak pernah berjalan lurus. Ia bercabang.
Ketika Giri Dipukul Runtuh: Mataram dan Berubahnya Nalar Pesisir
Giri Kedaton, pusat Majelis Dakwah Walisongo, adalah waris nalar Majapahit yang maritim, terbuka, dan kosmopolit. Di bawah Sunan Prapen, Giri mencapai puncak kejayaannya, dihormati raja-raja Nusantara. Ia penghubung antara dunia pesantren, perdagangan, dan spiritualitas. Bagi Sultan Agung yang ingin menyatukan Jawa di bawah satu panji Mataram-Agraris, keberadaan Giri adalah gangguan. Alasannya lebih dalam: Jawa tidak boleh punya “matahari kembar”.
Penaklukan Giri Kedaton oleh Kesultanan Mataram terjadi pada tahun 1636 di bawah perintah Sultan Agung³. Mataram menyerang karena Giri Kedaton di bawah pimpinan Panembahan Kawis Guwa yang menolak tunduk sebagai daerah bawahan Mataram. Pengepungan dipimpin oleh Pangeran Pekik dari Surabaya, yang berhasil meredam kekuatan spiritual dan militer Giri Kedaton.
Penaklukan itu bukan hanya soal militer. Ia adalah demaritimisasi jilid dua setelah VOC⁴. Pusat-pusat keahlian pesisir dipatahkan. Para ahli, kiai, dan perajin kehilangan patron. Jaringan dagang yang dulu menghubungkan Gresik-Tuban-Surabaya ke Trowulan dan pedalaman, dipotong.
Babad Tanah Jawi dan Serat Kandha mencatat bagaimana pascapenaklukan Giri, banyak santri, abdi, dan seniman menyebar ke wilayah Mataram Baru.
Gerabah Gosari: Api di Ujung Pesisir
Di Desa Gosari, Ujungpangkah, Gresik, tanah tidak hanya dipijak. Ia dibentuk. Tapi sebelum bicara tungku dan fragmen, harus ingat satu hal: pesisir ini sudah lebih dulu bicara tentang komunitas Muslim.
Jauh sebelum Majapahit berdiri, jauh sebelum Prasasti Gosari dipahat 1376 M, di desa Leran, Manyar, 15 Km dari Gosari, sudah ada makam dengan nisan batu bertulis Arab Kufi. Nama yang terukir: Fatimah binti Maimun bin Hibatullah. Wafat 2 Desember 1082 M, 7 Rajab 475 H⁵.
Fatimah adalah perempuan Persia. Putri Syekh Maimun dari Iran dan Aminah dari Aceh. Ia perempuan Muslimah pertama yang tercatat dimakamkan di Tanah Jawa. Kompleks makamnya ditutup cungkup batu kapur, bentuknya mirip candi. Artinya, Leran dan Gosari di pesisir Gresik sejak abad ke-11 bukanlah tanah kosong. Ia tanah peradaban, dan dihuni oleh komunitas yang melek literasi, termasuk komunitas Muslim.

Sementara di ujung pesisir Gresik, pada dinding gua kapur Desa Gosari, Kecamatan Ujungpangkah, terdapat pahatan yang kini dikenal sebagai Prasasti Butulan atau Prasasti Gosari. Nama ‘Butulan’ berasal dari bahasa Jawa: ‘butul’ atau ‘batul’, yang berarti gua tembus. Memang, gua tempat prasasti ini berada memiliki lubang yang menembus ke sisi lain bukit. Ia bukan prasasti pada batu monolit, melainkan dipahat langsung pada dinding karst⁶.
Angka waktunya jelas: 1298 Saka atau 1376 Masehi, masa pemerintahan Raja Hayam Wuruk di Kerajaan Majapahit. Letaknya yang persis berdampingan dengan kawasan temuan ribuan fragmen gerabah menjadikan prasasti ini kompas kronologis paling penting untuk Situs Gosari. Tanpa prasasti ini, kita hanya punya tungku dan pecahan gerabah. Dengan prasasti ini, kita punya tahun dan nama.
Prasasti terdiri atas lima baris aksara Jawa Kuno. Beberapa bagiannya sudah aus dan cuil akibat usia dan penambangan bukit di sekitarnya. Namun, para peneliti seperti Ismail Lutfi, Arlo Griffiths, Goenawan Sambodo, hingga Eko Jarwanto, telah berupaya membacanya.
Dalam pembacaan Eko Jarwanto 2026, bunyinya kira-kira demikian:
“// divasa ning ngambal 1298 / duk winahon / denira sang rama sanadaya makadi / sira buyut ajrah talikur si- / ra kawuruhane“
Artinya:
“Pada ketika ini di Ngambal 1298 Saka (1376 M) / telah selesai dibangun / Oleh beliau, Sang Rama (pembesar desa) semuanya yang dipimpin / beliau Buyut Ajrah sang penjaga/pelindung / maka engkau ketahuilah“⁷
Dua nama muncul di sana: Sang Rama dan Buyut Ajrah. Mereka disebut sebagai pembesar desa dan pelindung. Artinya, pada abad ke-14 Gosari sudah memiliki struktur sosial dan kepemimpinan lokal yang kuat. Mereka bukan sekadar perajin. Mereka pengelola. Mereka yang mengorganisasi tanah, air, dan api menjadi sebuah industri. Isi prasasti tentang “selesai dibangun” juga menguatkan dugaan, bahwa yang dimaksud adalah pembangunan fasilitas desa, mungkin sendang, mungkin tungku, mungkin padukuhan itu sendiri.
Fragmen-fragmen kecil dari situs Gosari kawasan Ujungpangkah, Gresik yang saat ini tersimpan di Museum Sunan Giri, Gresik adalah bukti. Enam di antaranya bicara paling jelas: dasar vas, bibir periuk, cerat kendi, dasar piring.
Gosari bukan sekadar tempat terkumpulnya gerabah. Ia tempat produksi. Lihat jejaknya. Di Barat masjid dan sekitar Prasasti Butulan, tanah memuntahkan pecahan gerabah dalam jumlah besar. Bagaimana tanah menjadi gerabah? Jawabannya ada di tiga unsur: tanah, air, api.
Tanah diambil dari kawasan embong. Air diambil dari sendang. Satu berbentuk persegi 5 x 10 meter, berdinding bata. Satu lagi “sendang Ledua” melingkar dari batu kapur.
Api dinyalakan di tungku. Puslit Arkenas menemukan tiga elips, dibuat dari batu putih dan plester. Tungku 1: 325 x 260 cm, tungku 2: 327 x 225 cm, dan tungku 3: 440 x 260 cm.
Prosesnya sederhana, tapi menuntut kesabaran. Tanah ditumbuk, diayak, dicampur. Ia dibentuk dengan teknik putar, cetak, pilin, atau pijit. Lalu dijemur di bawah matahari, dibakar sekali dandi-finishing. Dari sinilah lahir pottery fine paste: tekstur halus, dinding tipis, pori rapat, ciri khas Majapahit Ware.
Keramik Cina Dinasti Song sampai Ming-Qing yang ditemukan bersama fragmen, dan hasil carbon dating dari abu tungku, menguatkan: masa keemasan Gosari adalah Singosari-Majapahit, abad ke-12-14, dan berlanjut sampai abad ke-15-18.
Enam fragmen di museum mengunci semua itu.
MG/2022/07/145A: dasar vas, 5 cm, fine paste.
MG/2022/07/145B: bibir periuk berslip merah.
MG/2022/07/145C: cerat kendi berlubang.
MG/2022/07/145D: dasar piring teknik putar.
MG/2022/07/145F: dasar vas berslip merah.
MG/2022/07/145E: bibir vas dengan dua garis putih dekoratif.
Gerabah Kasongan: Dari Tanah Lepas Menjadi Tanah Terkenal
Sekitar 8 km Barat Daya Yogyakarta, di tanah gamping Pedukuhan Kajen, Bangunjiwo, Bantul, ada desa yang hidup dari tanah. Namanya Kasongan. Ia lahir bukan dari perintah raja, tapi dari krisis. Pada masa kolonial, seekor kuda reserse Belanda mati di sawah warga. Karena takut, warga melepas hak tanahnya. Sawah pun tidak bisa ditanami lagi⁸.
Kiai Guru Abdul Raup yang disebut ‘Kiai Song’, ulama sekaligus seorang veteran Perang Jawa, melihat tanah itu dan berkata: “Jika tidak bisa menanam padi, tanamlah keterampilan.”
Kiai Guru Abdul Raup atau lebih tepatnya Kiai Haji Abdurrauf (atau Syekh Abdurrauf) adalah seorang ulama kharismatik di lereng Gunung Sumbing/Merapi (Kedu/Magelang) yang dikenal sebagai guru spiritual sekaligus basis kekuatan laskar dan santri yang mendukung perjuangan Pangeran Diponegoro selama Perang Jawa (1825–1830).
Ketika Diponegoro tertangkap 1830, para pengikutnya dikejar, diburu. KH Abdurrauf pun lari ke Selatan dan bersembunyi. Di tanah Bantul yang tandus itu ia berganti nama: Song. Dalam bahasa Jawa artinya payung. Simbol pelindung. Dari Song itulah lahir nama tempat: Ka-song-an. Tempat di bawah payung.
Kiai Song tidak hanya melindungi dengan doa. Ia melindungi dengan keterampilan. Saat banyak tanah pertanian warga dirampas penjajah Belanda. Sawah tidak bisa lagi diharapkan. Maka, ia ajarkan yang lain: mengolah tanah liat. Bukan untuk dijual ke raja, tapi untuk bertahan hidup. Kuali untuk menanak. Anglo untuk memasak. Kendil untuk menyimpan air.
Dari situ warga belajar mengempal tanah. Awalnya kendi, kendil, gentong, anglo. Kebutuhan dapur. Kebiasaan itu diwariskan, dari dapur ke dapur, dari generasi ke generasi.
Kasongan menciptakan cara dan tungkunya sendiri: teknik tempel, lelet, kerawang, gores⁹. Tanah digiling, dibentuk di atas perbot putar. Dijemur 2-4 hari, dibakar suhu rendah, di-finishing cat. Yang membuat Kasongan besar adalah keberaniannya berubah. Legenda kuda melahirkan motif kuda koden.
Masuknya Sapto Hudoyo 1971-1972 memberi sentuhan seni. Sahid Keramik dan Timbul Raharjo sejak 1980-an membawanya ke pasar internasional¹⁰. Disamping kuda koden, ikon lainnya adalah Loro Blonyo: sepasang pengantin dari Keraton.
Kini, dimotori oleh Heru Siswanto, lebih dari 300 perajin gerabah di Kasongan, ekspor puluhan kontainer/bulan. Sejak 2013 ia ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia.
Benang Merah Gosari dan Kasongan
Lalu apa hubungan Gosari dan Kasongan? Mari tarik garisnya lebih jauh ke belakang.
Sebelum ada tungku Gosari, sebelum ada Prasasti Butulan 1376 M, di Leran, Manyar, sudah ada nisan. Nama di atasnya: Fatimah binti Maimun. Wafat 1082 M. Tiga ratus tahun kemudian, di Gosari, Sang Rama dan Buyut Ajrah memimpin pembangunan desa dan menyalakan api di tiga tungku elips.
Lalu, 500 tahun kemudian lagi, di Bantul, Kiai Song mengajarkan warga melepas cangkul dan mengolah tanah liat.
Kasongan secara administratif berada di wilayah Kabupaten Bantul. Di sana tidak ditemukan prasasti batu. Yang ada adalah kisah lisan: cerita tentang asal-usul nama Kasongan dan Bantul. Nama Bantul yang sering diucapkan mBantul, lahir dari dua versi ingatan rakyat. Versi pertama, mengisahkan Ki Ageng Mangir Wanabaya yang berseteru dengan Panembahan Senopati dari Mataram. Saat rombongan pembawa upeti berjalan menuju Keraton, beban di pundak mereka naik-turun, mentul-mentul. Dari situlah lahir kata Bantul.
Versi kedua, lebih batiniah: ngembat mentul, menggambarkan hati Ki Ageng Mangir yang bimbang dan ragu saat menghadap raja Mataram¹¹.
Lihat bedanya, sekaligus miripnya. Gosari menandai dirinya dengan batu dan angka, prasasti Butulan, dari kata ‘Butul’ atau ‘Batul’ sering diucapkan ‘mButul’ atau ‘mBatul’. ‘Bantul’ atau yang sering diucapkan ‘mBantul’ menandai dirinya dengan tubuh dan rasa.
Gosari berkata: “Pada tahun ini kami membangun.” Bantul berkata: “Pada masa itu hati kami goyah.”
Tapi keduanya bicara tentang hal yang sama: bagaimana manusia Jawa menempelkan makna pada tanahnya.
Di Gosari, tanah kapur dipahat menjadi prasasti agar anak cucu tahu kapan desa itu berdiri dan siapa yang memimpin. Sementara di Kasogan Bantul, tanah gamping dipijak dan dikisahkan agar anak cucu ingat bagaimana leluhur bertahan saat sawah dirampas.
Secara teknis, caranya juga beda. Gosari: fine paste, dinding tipis, bakar tinggi. Kasongan: teknik tempel, bakar rendah, finishing cat.
Lihat persamaannya: Gosari punya tanah embong dan sendang untuk industri. Kasongan punya tanah sawah, gamping dan air untuk mengolah lempung. Gosari menguasai fine paste dan slip merah era Majapahit. Kasongan mengasah teknik tempel dan finishing terakota untuk pasar modern. Gosari memasok kebutuhan kerajaan. Kasongan menembus pasar internasional.
Dari Sang Rama dan Buyut Ajrah yang membangun desa di atas batu, ke Kiai Song yang membangun keterampilan di atas tanah lepas. Dari prasasti yang mengkhawatirkan karena ditambang, ke nama desa yang lahir dari beban mentul-mentul.
Inilah benang merah yang tidak terlihat: Jawa selalu punya cara untuk memastikan tanahnya tidak dilupakan. Kadang dengan pahatan. Kadang dengan cerita.
Filosofi Tanah: ‘Urip Iku Urup’
Naskah-naskah klasik sudah mengingatkan. Dalam Serat Wedhatama Mangkunegara IV, ada ajaran: “Urip iku urup”, hidup itu harus menyala dan menerangi¹². Gerabah adalah metafornya. Tanah yang mati, dibakar, lalu menjadi terang karena bisa dipakai orang.
Nagarakretagama pupuh 15-16 menyebut desa-desa di Jawa Timur yang ahli dalam kerajinan sebagai penyangga ekonomi kerajaan¹³. Mereka bukan bangsawan, tapi mereka yang membuat kerajaan bisa makan dan beribadah.
Serat Centhini mencatat bagaimana di setiap perjalanan, tokoh-tokohnya selalu singgah di desa perajin. Karena di sanalah peradaban diuji: apakah masih mampu membuat kendi untuk air, periuk untuk nasi, dan vas untuk sesaji.
Bagi Nusantara Worldview, gerabah bukan sekadar komoditas. Ia adalah sebentuk “perjanjian” antara manusia dan tanah. Manusia mengambil tanah, membentuknya, membakarnya, lalu mengembalikannya ke peradaban dalam bentuk yang berguna. Inilah mandala ekonomi: bukan menumpuk, tapi mengalirkan.
Karena itu ketika Giri Kedaton runtuh, keahliannya tidak ikut mati. Ia urup. Ia pindah, menyala di tempat lain.
Penutup: Memulihkan Ingatan Tangan
Kini kita sering memisahkan Gosari dan Kasongan. Yang satu “arkeologi”, yang lain “UMKM”. Padahal keduanya adalah satu nafas. Gosari mengajari kita, bahwa Jawa pernah punya industri gerabah kelas dunia sejak abad 12-14, dengan teknologi fine paste dan jaringan distribusi sampai Trowulan. Sementara Kasongan mengajari kita bahwa keahlian itu tidak pernah punah. Ia beradaptasi, dari peralatan dapur ke produk seni, dari pasar lokal ke pasar global.
Penaklukan Giri 1636 oleh Sultan Agung memang memutus satu pusat. Tapi, ia tidak memutus rantai. Rantai itu hanya memanjang, dari Leran ke Gosari ke Bantul, dari Majapahit ke Republik.
Jika ingin Indonesia kuat, jangan hanya membangun pabrik. Pulihkan juga bengkel-bengkel tanah. Karena bangsa yang lupa cara membentuk tanahnya, akan mudah dibentuk oleh bangsa lain. Dan sejarah sudah membuktikan: yang bisa membentuk tanah, pada akhirnya akan membentuk zaman. {*}
*) Arik S. Wartono, Pendiri dan Pembina Sanggar DAUN, tinggal di Gresik.
CATATAN KAKI:
- Eko Jarwanto, Fragmen Gerabah Gosari: Jejak Produksi dan Kehidupan Masyarakat Masa Lalu (Gresik: Disparekrafbudpora Kab. Gresik, 2026).
- Roy Jordaan, “Traces of the Walisongo in Javanese Ceramics”, Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde 164, no.2 (2008).
- M.C. Ricklefs, A History of Modern Indonesia since c. 1200 (Stanford: Stanford University Press, 2008), hlm. 78-81.
- Heather Sutherland, “The Making of a Bureaucratic Elite”, dalam The State and Society in Indonesia (Singapore: ISEAS, 1984).
- Kompleks Makam Fatimah binti Maimun, Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Timur, diakses 21 Agustus 2026.
- “Prasasti Butulan”, Data Pokok Situs Cagar Budaya, Kemendikbudristek, diakses 21 Agustus 2026.
- Pembacaan dan Terjemahan Eko Jarwanto, dalam Buku Gerabah Gosari (Gresik: Disparekrafbudpora Kab. Gresik, 2026).
- “Sejarah Gerabah Kasongan”, Website Resmi Desa Wisata Kasongan, diakses 21 Agustus 2026.
- “Sentra Industri Gerabah Bangunjiwo”, Website Desa Bangunjiwo, diakses 21 Agustus 2026.
- CAN, “Kenali Gerabah Kasongan dari Bantul Yogyakarta”, Ditjen Kekayaan Intelektual Kemenkumham RI, 9 Maret 2024.
- “Asal-Usul Nama Bantul”, Website Resmi Pemerintahl Kabupaten Bantul, diakses 21 Agustus 2026.
- Mangkunegara IV, Serat Wedhatama, dalam P.J. Zoetmulder, Manunggaling Kawula Gusti (Jakarta: Gramedia, 1983).
- Mpu Prapanca, Nagarakretagama, alih bahasa Slamet Muljana (Jakarta: Bhratara, 1979).






