SURABAYA (RadarJatim.id)–Menghadapi tantangan dunia industri yang kian kompetitif dan dinamis, Universitas Wijaya Kusuma Surabaya (UWKS) mengambil langkah taktis melalui akselerasi program Pengabdian Kepada Masyarakat (Penmas)
Kampus yang dikenal sebagai Kampus Budaya ini menggelar rangkaian pelatihan teaching factory berbasis English for Specific Purposes (ESP) guna mendongkrak kesiapan kerja sekaligus daya saing global generasi muda di tingkat sekolah menengah, tepatnya di SMA Hang Tuah 4 Surabaya pada 11 September 2026
Langkah strategis ini diambil sebagai respons konkret terhadap tantangan ketenagakerjaan nasional. Saat ini, lulusan lembaga pendidikan tidak hanya dituntut memiliki pemahaman akademis yang kuat, melainkan juga keterampilan praktis operasional (hard skills) dan kemampuan komunikasi internasional (soft skills) yang selaras dengan kebutuhan riil pasar kerja global.
Penmas UWK Surabaya yang diselenggarakan di SMA Hang Tuah 4 Surabaya diketuai oleh Diah Yovita Suryarini, S.Sos., M.Pd (Dosen) dengan anggota Dr. Amiruddin Hadi Wibowo, M.Pd. (Dosen) Octavia Sukma Hardianti (Mahasiswa) danTaka Aprilia (Mahasiswa) ini diikuti oleh 25 peserta, yang terdiri atas 10 guru dan 15 siswa.
Kegiatan diawali dengan registrasi dan pengisian angket pre-test, kemudian dibuka secara resmi oleh perwakilan pihak sekolah serta ketua tim pengabdian.
Dalam sambutannya, perwakilan pihak sekolah menyampaikan harapan besar agar pelatihan ini dapat menambah bekal nyata bagi siswa dalam menghadapi dunia kerja. Selain itu, program ini diharapkan mampu memberikan inspirasi segar bagi para guru dalam mengembangkan model pembelajaran inovatif di kelas.
Sejalan dengan hal tersebut, Ketua Tim Penmas UWK Surabaya menjelaskan bahwa tujuan utama dari pelatihan teaching factory berbasis ESP ini adalah untuk menjembatani kompetensi lulusan sekolah dengan kebutuhan riil industri.
“Rangkaian kegiatan ini dikemas secara interaktif ke dalam tiga sesi utama, yaitu sesi paparan narasumber, sesi studi kasus, serta sesi diskusi dan tanya jawab, ” Ujar Diah Yovita Suryarini, S.Sos., M.Pd, Kamis (1/10/2026).
Sesi pertama yang berfokus pada penyampaian konsep diisi oleh narasumber yang juga menjabat sebagai Kaprodi Pendidikan Bahasa Inggris UWKS, Dr. Amiruddin Hadi Wibowo, M.Pd. Beliau mengawali sesi dengan memberikan pertanyaan pemantik mengenai pengalaman peserta menggunakan bahasa Inggris di luar kelas, serta gambaran pekerjaan yang diminati oleh para siswa.
Lebih lanjut, Dr. Amiruddin memaparkan adanya jurang pemisah (gap) antara kompetensi lulusan saat ini dan kebutuhan dunia kerja. Sebagai solusi, beliau mengenalkan konsep Teaching Factory (TEFA) sebagai model pembelajaran berbasis produksi atau jasa, serta menjelaskan perbedaannya dengan General English.
Penjelasan diperkuat dengan visualisasi model integrasi TEFA–ESP yang menunjukkan bahwa kesiapan kerja yang matang dibangun dari perpaduan kompetensi teknis dan komunikasi profesional.
Sesi kedua diisi dengan bedah studi kasus dan praktik langsung. Narasumber memaparkan hasil analisis kebutuhan ESP pada berbagai bidang strategis, seperti kemaritiman, logistik, administrasi perkantoran, hingga perhotelan dan pariwisata.
Usai pemaparan materi, para siswa dibagi ke dalam beberapa pasangan untuk mempraktikkan dialog dunia kerja secara bergantian. Untuk memastikan kualitas praktik, narasumber bersama mahasiswa pendamping UWKS memberikan umpan balik langsung (feedback) terkait pelafalan (pronunciation), intonasi, hingga penggunaan ungkapan kesopanan (politeness expressions).
Siswa juga didorong untuk memodifikasi dialog sesuai dengan situasi kerja yang mereka bayangkan agar latihan tidak sekadar menjadi hafalan teks.
Pada sesi terakhir, giliran para guru berdiskusi mengenai peluang penerapan model TEFA–ESP di sekolah. Beberapa ide inovatif muncul, seperti penerapan proyek studi kasus layanan, tugas bermain peran (roleplay), hingga pengaitan materi pelajaran dengan profesi di bidang kemaritiman.
Kendati demikian, para guru juga mengutarakan sejumlah tantangan lapangan, mulai dari keterbatasan waktu mengajar hingga perbedaan tingkat kemampuan bahasa Inggris siswa.
Menanggapi hal itu, narasumber memberikan solusi taktis berupa langkah sederhana yang bisa segera dimulai, salah satunya dengan menyisipkan satu tugas komunikasi kerja pada setiap unit pembelajaran.
Di sisi lain, para siswa mengekspresikan refleksi positif mengenai pengalaman berharga yang mereka dapatkan selama sesi praktik. Kegiatan edukatif ini ditutup dengan pengisian angket post-test dan angket kepuasan, penyerahan sertifikat secara simbolis, serta sesi foto bersama.
Program pengabdian masyarakat ini mendapatkan apresiasi tinggi dari para praktisi pendidikan dan manajemen sekolah mitra. Kehadiran tim akademisi UWKS dinilai sukses memberikan perspektif baru, memperkaya metode pengajaran guru, sekaligus memperluas wawasan karir masa depan para siswa sejak dini.
Melalui program-program inovatif dan perluasan jangkauan pengabdian seperti ini, Prodi Pendidikan Bahasa Inggris UWKS terus mengukuhkan perannya dalam mendukung agenda nasional untuk mengoptimalkan bonus demografi Indonesia.
Kemitraan strategis ini diharapkan dapat terus bergulir secara konsisten demi melahirkan sumber daya manusia yang unggul, adaptif, berkompetensi global, dan siap menjadi motor penggerak ekonomi bangsa di era digital (MP/RJ1)






