Oleh Much. Khoiri
Entah sejak kapan persisnya saya menjalani avokasi (profesi tambahan) sebagai editor, mungkin sejalan dengan avokasi saya sebagai penulis. Keduanya pun menjadi avokasi bagi profesi utama saya sebagai dosen Kajian Sastra/Budaya dan Creative Writing di Universitas Negeri Surabaya.
Menulis dan mengedit karya sendiri maupun karya orang lain adalah kegiatan yang tak terpisahkan. Selagi menulis, orang harus sanggup mengedit sendiri (swasunting) karyanya. Dua kegiatan itu, dengan demikian, sudah saya jalani sejak tahun 1986, tahun ketika saya memantapkan diri sebagai penulis.
Tetapi label sosial, atau predikat sosial, itu bukan buatan sendiri. Itu hak prerogatif publik pembaca atau komunitas. Rekognisi publik ini jadi penentunya. Namun, saya ingat, pada tahun 2011 saya telah menjadi editor buku kumpulan cerpen Ndoro, Saya Ingin Bicara (2011). Itu sekaligus menjadi “tonggak proklamasi” bagi saya sebagai penulis buku.
Sejak itu, rasanya saya seperti memeluk buku. Setiap tahun saya menggarap beberapa buku, baik buku karya sendiri, antologi, maupun karya teman penulis. Sering saya menjalani multiproject writing. Buahnya, ada puluhan buku yang saya hasilkan. Dan sejak 2021, saya memperoleh sertifikat kompetensi sebagai penulis buku nonfiksi dan editor buku.
Menjadi Editor
Di sini saya tidak membeberkan kisah saya menjadi editor dan penulis 3 buku ini: Pertama, buku Unesa Penggerak Asta Cita: Pemikiran Konstruktif Civitas Academica untuk Presiden (2025). Kedua, buku Seni, Sastra, dan Budaya Lokal: Pendekatan Multi-, Inter-, dan Transdisipliner (2025). Ketiga, buku sendiri Becoming a Creative Writer: Proses Kreatif Menuju Buku Paling Dicari (2025).
Saya hanya berbagi pengalaman menjalani tugas sebagai editor untuk 4 buku ini. Pertama, buku Beyond Teacher Training: Reframing Professional Development through Reflective Inquiry and Writing (2026). Ia merupakan bunga rampai tulisan akademik dan reflektif guru-guru SMA Surabaya dan Sidoarjo, sebagai hasil pelatihan intensif yang dilaksanakan oleh Rotary Club of Surabaya Persada.
Editing penuh perjuangan, tetapi terasa ringan ketika saya menghayati kedekatan dengan para penulisnya. Saya telah memberikan materi pelatihan, reflective writing, kepada para peserta yang penuh antusiasme. Jadi, di kover belakang kuning tua ini, saya menulis blurb atau endorsement:
“Buku ini lahir bukan dari ruang kosong dan kampa, melainkan dari proses pembelajaran dalam ruang pelatihan profesional yang memadai untuk melahirkan tulisan-tulisan beyond training. Keaktifan guru bertemu dengan antusiasme dosen pelatihan, jadilah produk pengetahuan berupa buku yang menyuguhkan konsep pengembangan profesional, karya tulis reflektif, dan karya tulis akademik (argumentatif).”
Kedua, buku Kisahku sebagai Pejuang Ilmu di UK (2026) karya Alma Putri Dhiafira, biasa dipanggil Dhea. Buku berkover ungu ini berisi perjuangan Dhea saat menempuh studi lanjut S2-nya di UK, mulai dari persiapan hingga pulang dari studi, termasuk pengalaman dan insight kultural yang diresapinya. Dheatermasuk penulis muda bertalenta, dengan tulisan yang mengalir dan dinamis, bahkan kerap menggunakan campur kode (code-mixing) dalam tulisannya.
Untuknya, saya berikan endorsement: “Dhea, penulis buku ini, telah bertindak sebagai pejuang ilmu yang sangat peduli akan pentingnya berbagi ilmu dan membudayakan literasi. Lewat esai-esainya yang spontan dan jujur dengan gaya bertutur, dia menorehkan pengalaman, pengamatan, dan insight yangkaya selama masa studi lanjut S2 di Inggris. Dia menulis bukan semata-mata untuk memuaskan diri, melainkan juga untuk memotivasi dan menggerakkan orang lain. Bagi para pemburu beasiswa, inilah buku penting yang wajibdijadikan referensi.”
Ketiga, buku Menyelami Dunia Rotary Youth Exchange (2026) karya Enny Ambarwati. Beliau adalah ketua Rotary Club of Surabaya Persada, yang telah malang-melintang mengurus aneka kegiatan pendidikan dan literasi. Buku ini berisi tulisan-tulisan penulis tentang apa, mengapa, dan bagaimana —plus testimoni para alumni— peserta program Rotary dari tahun ke tahun. Menjadi editor buku ini juga berarti berkejaran dengan waktu, sejalan dengan kesigapan penulis.
Untuk beliau, saya menghadiahi blurb ini: “Penulis buku ini berbagi bukan hanya pengetahuan, melainkan juga pengalaman dan tawaran insight yang kaya dalam mengelola aneka program Rotary Youth Exchange. Kekayaan pengetahuan dan pengalaman penulis membuatnya layak untuk membagikannya kepada pembaca: bagi keluarga Rotary, buku ini hadir sebagai penyegaran; bagi pembaca awam, buku ini hadir sebagai pencerahan.
Gaya bahasa yang lugas dan natural –sering spontan dengan alih kode diksi Indonesia dan Inggris—membuat buku ini enak diikuti dan dipahami. Bagi para pemburu informasi tentang seluk-beluk RYE, inilah buku penting yang wajib dijadikan pegangan.”
Keempat, buku Budaya Ke-Unesa-an, sekarang masih dalam proses review dan editing dengan tim editor, yakni Prof Setya Yuwana Sudikan, Prof Muhammad Turhan Yani, dan saya sendiri. Kami telah menampung 119 judul naskah dari penulis dengan panjang tulisan masing-masing 850–1.000 kata. Review dan editing masih berlangsung, jadi belum bisa dipastikan bagaimana tampilan akhir buku ini. Kami masih menikmati prosesnya.
Namun, proses review dan editing buku ini dapat saya pastikan tidak jauh berbeda dari proses yang sama untuk buku Unesa Penggerak Asta Cita: Pemikiran Konstruktif Civitas Academica untuk Presiden (2025). Mengapa? Penulisnya sama-sama berasal dari berbagai unit dan lembaga di seluruh Universitas Negeri Surabaya, dengan keragaman gaya penulisan dan perspektif.
Hingga akhir April 2026, sudah tiga judul buku yang tuntas saya editori, dan mulai Mei 2026 ini sudah masuk ke tugas editing buku keempat. Sebuah perjuangan untuk menjadikan naskah buku menjadi buku yang layak dibaca oleh masyarakat. Berjuang untuk mencermati bobot ide, penataan ide-idenya, serta penggunaan bahasa. Sebuah perjuangan dalam jalan yang senyap.
Saya dengar, akan ada tiga judul buku lagi yang meminta saya menjadi editor. Namun, tidak akan saya beberkan di sini—biarlah semua itu bergulir bersama waktu. Namun, patut saya akui bahwa menjadi editor itu tidak enteng; bahkan lebih berat daripada menjadi penulis, setidaknya dalam kasus saya. Kalau jadi penulis, nama langsung tampak di kover buku; jadi editor, namanya tersembunyi dan gerakannya senyap.
Refleksi
Menggarap pekerjaan editor untuk empat buku dalam rentang waktu yang hampir bersamaan bukanlah sekadar soal teknis menyunting kata dan kalimat. Lebih dari itu, menjadi editor berarti ikut bertanggung jawab atas lahirnya sebuah karya yang nantinya akan dinikmati, dipelajari, bahkan dikritik oleh publik. Setiap coretan, saran, dan diskusi dengan penulis mengajarkan saya untuk terus rendah hati: karena di balik setiap naskah yang saya edit, ada proses panjang yang dialami penulisnya, yang tidak selalu saya ketahui.
Editing, bagi saya, kini terasa seperti tugas kultural yang senyap tapi menentukan. Saya tidak sekadar membenahi tulisan, melainkan juga menjaga percikan api pengetahuan agar tidak padam di tengah jalan. Ke depan, saya sadar, bahwa dunia kepenulisan dan penyuntingan tidak pernah berhenti menawarkan pelajaran baru.
Setiap buku membawa tantangan sendiri, setiap penulis membawa gaya dan kebutuhan yang berbeda. Namun, justru di situlah letak kebermaknaannya: menjadi editor berarti terus belajar seumur hidup, tanpa pernah merasa cukup puas, tetapi juga tanpa pernah kehilangan rasa ingin tahu. Dan di jalan yang senyap itu, saya justru menemukan denyut paling jujur dari dunia literasi. {*}
*) Much. Khoiri (nama pena Dr Drs Much. Koiri, MSi.) adalah dosen Kajian Sastra/Budaya dan Menulis Kreatif di FBS Unesa, founder Rumah Virus Literasi, editor, dan penulis 81 buku. Profil lengkap: https://muchkhoiri.com/2021/01/tentang-penulis/.







