Oleh Much. Khoiri
Menulis resensi bukan sekadar membuat ringkasan buku. Ia adalah bentuk dialog paling jujur antara pembaca dan penulis, antara gagasan yang tertuang dan pemaknaan yang lahir kemudian.
Dalam keseharian saya sebagai editor, dosen, dan penulis, menulis resensi menjadi kegiatan yang tak terpisahkan dari kecintaan saya pada dunia literasi. Setiap kali membaca buku, saya seakan diundang masuk ke dalam dunia baru, dan setelah keluar, saya merasa perlu bercerita kembali kepada publik.
Tulisan ini tidak hendak membeberkan teknik meresensi secara formal. Saya hanya ingin berbagi pengalaman meresensi sejumlah buku penting yang pernah saya tulis untuk media massa. Dari buku monumental tentang A.A. Navis dan Pramoedya Ananta Toer, hingga buku tematis tentang Humaniora Digital, Sastra Wayang, seputar terorisme, literasi guru, dan inklusi sosial di perguruan tinggi. Semuanya adalah bagian dari perjalanan panjang saya tak bisa jauh dari buku tahun 2026 ini.
Menjelajah Pemikiran lewat Resensi
Salah satu pengalaman paling berkesan adalah ketika meresensi buku Seratus Tahun A.A. Navis: Kajian Kritis, Pemikiran, dan Visi Budaya (2024). Buku setebal 962 halaman ini menyuguhkan pemikiran Navis yang tajam sebagai “sang pencemooh”. Dalam resensi saya, saya berusaha tidak hanya menyajikan isi buku, tetapi juga menghubungkan kritik sosial Navis dengan kondisi kekinian. Menulis resensi untuk buku semacam ini menuntut kesabaran ekstra karena kita harus membaca secara utuh—atau setidaknya menangkap benang merah—dari puluhan artikel yang telah terkumpul.
Hal serupa saya alami ketika meresensi 100 Tahun Pramoedya Ananta Toer: Sastra, Politik Narasi, dan Kemanusiaan (2025). Dengan tebal 1168 halaman, buku ini adalah lautan pemikiran. Sebagai peresensi, saya tidak mungkin merangkum semuanya. Yang saya lakukan justru mencari satu titik terang: bagaimana Pram mengajarkan bahwa sastra dan kemanusiaan tak bisa dipisahkan dari pergulatan politik kebangsaan. Resensi itu kemudian saya akhiri dengan ajakan untuk merenungkan Indonesia hari ini.
Dua buku lain yang juga menarik adalah Sastra Wayang (2025) dan Humaniora Digital (2025). Keduanya sama-sama disunting oleh Novi Anoegrajekti dkk. dan diterbitkan oleh HISKI. Yang pertama mengajak kita melihat wayang sebagai cermin abadi yang terus bergerak seiring zaman. Yang kedua justru membuka cakrawala baru tentang bagaimana warisan budaya dapat dirajut di kanvas teknologi. Menulis resensi untuk dua buku ini mengajarkan saya bahwa peresensi harus lentur: kadang mendalami tradisi, kadang menjejak masa depan.
Tak kalah penting, saya juga meresensi buku Menjerat Teror(isme): Eks-Napiter Bicara, Keluarga Bersaksi! (2022). Buku ini berbeda karena langsung menyentuh isu keamanan dan kemanusiaan yang sensitif. Dalam resensi saya, saya menyoroti bagaimana buku ini memberi ruang bagi suara-suara yang jarang terdengar: mantan narapidana terorisme dan keluarganya. Di sinilah fungsi resensi tidak hanya sebagai ulasan, tetapi juga sebagai jembatan empati bagi publik.
Resensi lain yang saya tulis adalah untuk Publikasi Artikel Siswa di Media Massa (2025), buku tentang bagaimana guru dapat menjadi sponsor literasi bagi siswa. Saya menyebutnya gerakan berkelanjutan karena pendampingan menulis tidak bisa dilakukan secara instan. Buku ini mengingatkan saya bahwa perubahan literasi tidak dimulai dari kebijakan besar, melainkan dari ruang-ruang kecil di kelas yang digerakkan oleh para guru yang peduli.
Selanjutnya, saya meresensi buku Belajar Tanpa Batas: Inklusi Sosial di Perguruan Tinggi (2025) karya Raden Roro Nanik Setyowati dkk. Buku setebal 203 halaman ini mengangkat tema yang jarang disorot secara kritis: sejauh mana perguruan tinggi benar-benar menjalankan prinsip inklusi. Dalam resensi berjudul “Antara Slogan dan Realitas Panggung Inklusi di Perguruan Tinggi”, saya mencoba membedah kesenjangan antara retorika kebijakan dan praktik riil di lapangan.
Banyak kampus telah memasang spanduk dan menulis visi-misi tentang kesetaraan, tetapi ketika menyentuh soal akses bagi mahasiswa disabilitas, kurikulum yang responsif terhadap keberagaman, atau iklim kampus yang benar-benar ramah terhadap perbedaan, realitasnya sering kali pahit. Melalui resensi ini, saya tidak hanya mengapresiasi keberanian para penulis mengangkat isu sensitif, tetapi juga mengajak pembaca —khususnya pengelola perguruan tinggi— untuk berhenti sejenak dan bertanya: apakah inklusi sudah menjadi darah daging, atau sekadar pajangan di papan pengumuman?
Refleksi: Merawat Kebermaknaan
Setelah meresensi puluhan buku selama bertahun-tahun, saya sampai pada satu kesimpulan sederhana: menulis resensi adalah cara saya merawat kebermaknaan membaca. Tanpa resensi, sebuah buku bisa saja selesai dibaca lalu terlupakan. Tetapi, ketika saya menulis resensi —ketika saya memilah kata, merangkai argumen, menyusun kritik dan pujian— buku itu benar-benar hidup untuk kedua kalinya. Ia tidak hanya hadir di rak, tetapi juga di ruang publik, dalam diskusi, bahkan dalam kebijakan atau cara pandang orang lain.
Menulis resensi juga mengajarkan kerendahan hati. Saya tidak bisa sok tahu tentang semua buku. Setiap buku punya konteksnya sendiri, punya pembacanya sendiri. Tugas saya hanya menyampaikan dengan jujur: buku ini layak dibaca karena kelebihan dan kekurangannya.
Dalam dunia yang makin cepat dan serba singkat ini, menjadi peresensi berarti memilih untuk tidak terburu-buru. Itu berarti setuju untuk duduk lama, membaca dengan saksama, lalu menulis dengan saksama pula. Dan bagi saya, itu adalah bentuk perlawanan paling elegan terhadap zaman yang kerap mengabaikan kedalaman. Saya percaya, selama masih ada yang membaca dan meresensi dengan jujur, literasi Indonesia akan terus berdenyut. {*}
*) Much. Khoiri (nama pena Dr Drs Much. Khoiri, MSi.) adalah dosen Kajian Sastra/Budaya dan Menulis Kreatif di FBS Unesa, founder Rumah Virus Literasi, editor, dan penulis 81 buku.







