GRESIK (RadarJatim.id) — Ratusan ribu jamaah dari berbagai daerah memadati kawasan Masjid Jami’ dan seputaran Alun-nlun Gresik dalam puncak Haul ke-71 Al-Qutb Al-Habib Abu Bakar bin Muhammad Assegaf, Rabu (3/6/2026).
Membanjirnya lautan manusia yang mengenakan pakaian serba putih tersebut menjadi bukti kecintaan umat kepada sosok wali kutub yang dikenal istiqamah dalam iman, tauhid, dan pengabdian kepada Allah SWT serta Rasulullah SAW.
Sejak pagi hari, jamaah telah memadati lokasi acara untuk mengikuti rangkaian haul (peringatan kematian) yang diawali dengan pembacaan Maulid Nabi Muhammad SAW. Sekitar pukul 09.00 WIB, acara dilanjutkan dengan arak-arakan salawat bersama jamaah Muhibbin yang berjalan kaki dari kediaman Habib Abu Bakar di Jl. Maulana Malik Ibrahim menuju Masjid Jami’ di sekitar Alun-alun Gresik.
Sejumlah habib dan ulama turut hadir dalam acara tersebut, di antaranya Habib Syech bin Abdul Qadir Assegaf, Habib Jindan bin Novel bin Salim, Habib Taufiq bin Abdul Qadir Assegaf, Ketua Umum Rabithah Alawiyah Habib Bidin Assegaf, Habib Zain Baharun, Lora Ismail Al-Kholilie, serta ulama lainnya. Hadir pula Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani, Ketua DPRD M. Syahrul Munir, juga Kapolres AKBP Ramadhan Nasution,
Ribuan jamaah memenuhi area Masjid Jami’, pelataran, hingga ruas-ruas jalan di sekitar alun-alun. Suasana khidmat terasa saat Habib Hadi bin Abdul Qadir Alaydrus memimpin pembacaan Surat Yasin dan doa tahlil. Selanjutnya, manaqib atau kisah perjalanan hidup Habib Abu Bakar Assegaf dibacakan oleh Habib Abdul Qadir bin Ali Assegaf.
Dalam tausiyah-nya, Pemangku Ponpes Bumi Sholawat Tulangan, Sidoarjo, KH Agoes Ali Masyhuri (Gus Ali) mengajak jamaah meneladani kehidupan Habib Abu Bakar Assegaf yang dikenal sebagai wali kutub pada zamannya. Sebab,lanjut Gus Ali, kemuliaan Habib Abu Bakar tidak lepas dari keteguhannya dalam menjaga iman, tauhid, dan ketaatan kepada Allah SWT.
“Beliau Al-Qutb Al-Habib Abu Bakar bin Muhammad Assegaf adalah seorang wali kutub pada zamannya. Beliau sangat istiqamah dalam iman, dalam tauhid, dan dalam ketaatan sehingga menjadi wali besar. Sejak kecil beliau di-tarbiyah oleh guru-gurunya menjadi orang yang mencintai Rasulullah SAW,” tutur Gus Ali.
Gus Ali juga menyampaikan, bahwa cinta kepada Rasulullah SAW harus ditempatkan di atas segala-galanya. Salah satu tanda cinta tersebut adalah memperbanyak salawat dan menyebut nama Rasulullah SAW dalam kehidupan sehari-hari.
“Setiap orang pasti mendambakan kebahagiaan, tetapi tidak semua mengetahui jalannya. Kunci kebahagiaan adalah mencintai Rasulullah SAW di atas segala-galanya, seluruh yang hadir saya doakan menjadi orang yang mencintai Rasulullah SAW,” ujarnya.
Sementara itu, Al-Habib Taufiq bin Abdul Qadir bin Husein Assegaf menekankan pentingnya pendidikan dalam membentuk generasi saleh, kata Habib Taufiq, pendidikan merupakan kebutuhan yang bahkan lebih penting daripada makanan jasmani karena berfungsi sebagai santapan rohani bagi anak-anak.
“Harapan setiap orang tua adalah memiliki anak yang saleh. Namun itu harus melalui proses pendidikan. Makanan hanya untuk jasmani, sedangkan pendidikan adalah makanan bagi rohani anak-anak kita,” katanya.
Habib Taufiq kemudian mengutip firman Allah SWT dalam Surah At-Tahrim ayat 6 yang memerintahkan umat Islam menjaga diri dan keluarganya dari api neraka.
“Ya ayyuhalladzina amanu qu anfusakum wa ahlikum naran wa quduhan nasu wal hijarah….”
“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu….” (QS. At-Tahrim: 6)
Habib Taufiq menjelaskan pandangan Sayyidina Ali bin Abi Thalib, mengenai makna ayat tersebut, yakni dengan mendidik keluarga agar melaksanakan yang wajib, meninggalkan yang haram, melazimi yang sunnah dan menghindari yang makruh.
“Jika dilakukan secara istiqamah, itulah usaha untuk melindungi diri dan keluarga dari siksa neraka,” jelasnya.
Pesan senada juga disampaikan Al-Habib Jindan bin Novel bin Salim bin Jindan, yang mengajak jamaah untuk tidak sekadar menghadiri haul, tetapi juga mengambil pelajaran dari warisan ilmu, akhlak, dan keteladanan para wali Allah.
“Alhamdulillah, kita hadir di haul Al-Qutb Al-Habib Abu Bakar bin Muhammad Assegaf. Insya Allah dengan berkah beliau, kita menjadi orang yang mengikuti dan meneladani jalan orang-orang yang dimuliakan Allah SWT,” ujarnya.
Habib Jindan mengingatkan bahwa setelah mendengar kisah dan keteladanan para auliya, umat Islam harus berusaha memperbaiki akhlak dan perilakunya agar tidak mencoreng ajaran Rasulullah SAW.
“Kita menyaksikan dan mendengar warisan ilmu serta akhlak mereka. Setelah ini apa yang akan kita lakukan? Apakah kita masih akan terus mencoreng wajah Rasulullah dengan akhlak dan perbuatan buruk kita?” katanya.
Habib Jindan juga mengajak para orang tua, untuk mempersiapkan generasi yang mencintai Nabi Muhammad SAW, menghormati para ulama dan orang saleh, serta menjauhi budaya yang bertentangan dengan nilai-nilai Islam.
“Mari kita didik anak-anak kita menjadi pembela Nabi, pembela auliya dan orang-orang saleh. Jangan arahkan mereka meniru perbuatan dajjal, baik dalam berpakaian maupun bermuamalah yang tidak peduli antara yang halal dan yang haram,” pesannya.
Rangkaian puncak haul kemudian dilanjutkan dengan doa para habib yang dipimpin Habib Abu Bakar bin Ali Assegaf. Acara berakhir sekitar pukul 11.30 WIB dan para jamaah meninggalkan lokasi dengan tertib.
Sebelum puncak haul, berbagai kegiatan telah digelar, di antaranya rouhah, khataman Kitab Ihya Ulumuddin, pembacaan qasidah Habib Abu Bakar Assegaf, serta lantunan salawat yang dipimpin Habib Syech bin Abdul Qadir Assegaf pada Selasa (2/6/2026).
Sebagai informasi, Al-Qutb Al-Habib Abu Bakar bin Muhammad Assegaf wafat pada 17 Zulhijah 1376 H atau bertepatan dengan tahun 1957 M dalam usia 91 tahun. Ia dimakamkan di kompleks pemakaman Masjid Jami’ Alun-alun Gresik dan hingga kini terus dikenang sebagai salah satu ulama besar yang meninggalkan warisan ilmu, dakwah, serta kecintaan kepada Rasulullah SAW bagi umat Islam. (har)







