SIDOARJO (RadarJatim.id) — Upaya mendorong mahasiswanya untuk berani bermimpi dan siap menghadapi Era AI (Artifical Intelligence), Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) telah menggelar kegiatan International Guest Lecture.
Pihak UNUSIDA telah menghadirkan akademisi dari Malaysia, Assoc. Prof. Ts. Dr. Shukor Sanim Mohd Fauzi dari Universiti Teknologi MARA (UiTM), pada (4/6/2026) di Auditorium Lantai 5 Gedung A UNUSIDA.
Kegiatan yang mengusung tema “AI and the Future of Civilization: Pedagogical Reconstruction, Economic Acceleration, and Contemporary Ethical Matrices in the ASEAN Context” ini diikuti oleh mahasiswa, dosen, serta civitas akademika UNUSIDA.
Acaranya menjadi ruang dialog akademik mengenai perkembangan kecerdasan buatan AI dan dampaknya terhadap masa depan peradaban manusia, khususnya di kawasan ASEAN.
Mewakili Rektor UNUSIDA, Ketua PCNU Sidoarjo, KH Zainal Abidin, dalam sambutannya mengajak mahasiswa untuk memiliki cita-cita besar serta semangat belajar yang tidak pernah padam.
Menurutnya, kemajuan sebuah bangsa dan peradaban hanya dapat diraih oleh generasi yang haus ilmu pengetahuan dan berani bermimpi melampaui batas.
“Jangan pernah bangga dengan kebodohan. Kalau kita tidak ingin tertinggal oleh negara lain, kampus lain, atau kelompok lain, maka satu-satunya cara adalah terus belajar, terus ingin tahu, dan terus mengejar cita-cita setinggi langit,” tegasnya.
Kiai Zainal juga mengingatkan bahwa salah satu tantangan terbesar generasi muda Indonesia adalah rasa malas yang sering muncul karena lingkungan yang relatif nyaman.
Ia menegaskan bahwa kemalasan menjadi faktor yang dapat menghambat kemajuan umat dan bangsa.
“Allah memberikan negeri yang nyaman kepada kita. Namun jangan sampai kenyamanan itu melahirkan kemalasan. Kalau rasa malas dibiarkan, kita akan tertinggal dari kelompok-kelompok lain yang terus bergerak dan berkembang,” katanya.
Ia berharap mahasiswa UNUSIDA sebagai kader Nahdlatul Ulama mampu menjadi generasi unggul yang kelak memimpin berbagai sektor kehidupan, mulai dari pendidikan, pemerintahan, hingga pembangunan masyarakat.
“Jika hari ini kalian memiliki semangat belajar yang luar biasa dan mampu menghilangkan rasa malas, maka kalian pantas menjadi pemimpin Nahdlatul Ulama, memimpin Kabupaten Sidoarjo, Provinsi Jawa Timur, bahkan Indonesia di masa depan,” harap Kiai Zainal.
Dalam sesi utama, Prof. Shukor Sanim menjelaskan bahwa AI bukan lagi sekadar teknologi masa depan, melainkan telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari yang memengaruhi pendidikan, kesehatan, perbankan, pertanian, hingga pemerintahan.
Ia menyampaikan bahwa dunia saat ini sedang mengalami pergeseran peradaban besar. Jika revolusi industri mengubah cara manusia bekerja secara fisik, maka AI mengubah cara manusia berpikir, mengambil keputusan, dan berkreasi.
“AI is no longer science fiction. The future is not about replacing humans with AI, but empowering humans with AI, (AI bukan lagi fiksi ilmiah. Masa depan bukanlah tentang menggantikan manusia dengan AI, tetapi memberdayakan manusia dengan AI.)” ungkapnya.
Dalam bidang pendidikan, Prof. Shukor menekankan pentingnya rekonstruksi pedagogi. Menurutnya, mahasiswa tidak lagi membutuhkan dosen hanya sebagai sumber informasi, melainkan sebagai pembimbing yang menanamkan kebijaksanaan, kemampuan berpikir kritis, etika, dan kreativitas.
Ia menjelaskan bahwa AI mampu melakukan sintesis penelitian dalam hitungan detik, menghasilkan kode program secara otomatis, menerjemahkan bahasa secara instan, hingga membantu pembuatan berbagai konten akademik. Karena itu, perguruan tinggi harus bertransformasi dari sekadar penyedia informasi menjadi pengembang kemampuan manusia (human capability development).
Selain itu, ia juga memaparkan potensi besar AI dalam mempercepat pertumbuhan ekonomi ASEAN. Berdasarkan proyeksi ekonomi digital kawasan, ASEAN berpeluang mencapai nilai ekonomi digital hingga 1 triliun dolar Amerika Serikat pada tahun 2030.

Namun, ia mengingatkan bahwa kawasan ASEAN harus menjadi produsen inovasi AI, bukan sekadar konsumen teknologi yang dikembangkan negara lain.
Di sisi lain, Prof. Shukor menyoroti berbagai tantangan etis yang muncul seiring perkembangan AI, seperti penyebaran hoaks, deepfake, plagiarisme, sitasi palsu, hingga ketergantungan berlebihan terhadap teknologi.
Oleh karena itu, pendidikan etika digital dan tata kelola AI menjadi kebutuhan mendesak bagi perguruan tinggi.
Menurutnya, ASEAN memiliki karakteristik unik berupa keberagaman budaya, bahasa, dan agama. Karena itu, pengembangan AI harus tetap menjaga nilai kemanusiaan, privasi, harmoni sosial, dan inklusivitas masyarakat.
Lebih lanjut, Prof. Shukor menegaskan bahwa teknologi hanyalah alat. Masa depan peradaban yang lebih baik hanya dapat terwujud apabila manusia mampu mengarahkan teknologi dengan kebijaksanaan, kepemimpinan, dan nilai-nilai etika yang kuat.
“Mahasiswa UNUSIDA harus memperluas perspektif global, memahami tantangan revolusi kecerdasan buatan, serta mempersiapkan diri menjadi generasi yang adaptif, inovatif, dan berdaya saing di tingkat internasional. Terima kasih atas sambutan dan antusiasnya, semoga bisa berjumpa di lain waktu,” pungkasnya.(mad)






