SIDOARJO (RadarJatim.id) — Event Fortasi (Forum Ta’aruf dan Orientasi Siswa) Bersinar, merupakan kegiatan tahunan yang digelar di SMA Muhammadiyah 2 Sidoarjo (SMAMDA), atau padas sekolah umum disebut MPLS (Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah) tahun ajaran baru 2026/2027 telah usai.
Namun masih ada sesuatu yang menarik dalam rangkaian Fortasi tersebut, yakni saat Parade Ekstra atau Demo Ekstra Kurikules. Ada salah satu ektra Karawitan yang tampil luar biasa.
Ekstra Seni Karawitan yang tampil di Auditorium KH Ar. Fachruddin, gedung SMAMDA sangat keren membuat tampilan para siswa semakin wah dan menggema seluruh aula.
Ekstrakurikuler Seni Karawitan tampil memukau, banyak suara tepuk tangan dari siswa siswi baru, tentunya belum mengenal apa itu Karawitan. Mereka beramai-ramai mengabadikan momen tersebut melalui HP masing-masing.
Hampir semua kamera murid baru tertuju di ekstra Karawitan, yang menampilkan Laras Pelog Gamelan, sungguh menakjubkan untuk bisa dinikmatinya.
Kepala SMA Muhammadiyah 2 Sidoarjo, M. Zainul Arifin,S.Kom.,MM juga mengaku sangat terkagum dengan keindahan suara gamelan Jawa, tentunya ekstra ini harus kita dukung, peminatnya tidak sebanyak ekstra lain, membutuhkan tenaga ekstra.
Ia mengatakan salah besar kalau Seni Karawitan ini masih ada anggapan kuno, tidak kekinian, tidak modern. Masih sedikit yang beranggapan seni ini memiliki filosofi tinggi.
“Tetapi bagi yang paham, karawitan itu ilmu filsafat tinggi, Gatra, Irama, Laya, Laras, Slendro, Pelog, dan lain sebagainya,” ungkapnya.
Nayla, siswi kelas 11 mengaku sangat senang mengikuti ekstra ini. “Selain suaranya merdu, juga teknik menabuhnya rumit, membutuhkan keahlian khusus, dan ini merupakan suatu tantangan bagi saya,” akunya.
Farida, Koordinator Ekstrakurikuler di SMAMDA terus mengupayakan segala cara agar ekstra seni karawitan selalu ada sepanjang masa.
Menurut Sang Pelatih, Murlan, S.Sn Gr mengatakan kalau Seni Karawitan yang menggunakan Gamelan ini tak lekang oleh waktu.
“Seni Karawitan yang akrab dikenal oleh masyarakat luas sebagai warisan leluhur ini, ternyata masih ada tangan-tangan generasi muda sadar akan keberadaanya sekarang ini,” katanya.
Makanya kalau tidak banyak diminati oleh anak muda akan berada diambang keheningan, jika tidak ada yang menyentuhnya. “Kalau bukan kita, terus siapa lagi yang akan melestarikan,” tegas Pak Murlan_sapaan akrabnya.(mad)







