SIDOARJO (RadarJatim.id) Ketua Kelompok Fraksi Komisi VII DPR RI Fraksi Partai Gerindra, Ir.H.Bambang Haryo Soekartono, M.I.Pol (BHS) berharap agar harga eceran tertinggi (HET) telur sesuai dengan yang sudah ditetapkan oleh pemerintah. Saat ini peternak telur ayam mengeluh harga telur dari kandang menurun diangka Rp 23.500 perkilogramnya.
Untuk mengetahui kondisi dilapangan, BHS langsung turun dan menemui peternak telur di wilayah daerah pemilihannya yakni di Kabupaten Sidoarjo. Dewan Pakar DPP Partai Gerindra ini menegaskan harga telur ideal bagi peternak tidak boleh berada di bawah Rp 23.500 per kilogram.
“Karena banyak peternak kesulitan mengganti ayam yang sudah tidak produktif karena margin usaha semakin menipis. Kebijakan Harga Acuan Pembelian sebesar Rp 26.500 per kilogram yang ditetapkan pemerintah diharapkan dapat menjaga keberlanjutan usaha peternak,” kata BHS, Sabtu (20/6/2026). .
Saat berdialog dengan peternak ayamk petelur di Desa Suwaloh Kecamatan Balongbendo, para peternak telur berharap agar harga telur bisa kembali stabil diangka Rp 26.500. Dengan harga tersebut peternak sudah mendapatkan keuntungan dan keberlangsungan usahanya bisa terjaga.
Dari aspirasi yang disampaikan peternak telur ayam, turunnya harga telur dipicu kondisi kelebihan pasokan setelah banyak pelaku usaha masuk ke sektor ayam petelur seiring meningkatnya permintaan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Dimana awal adanya program MBG banyak pelaku usaha baru maupun peternak telur yang menambah jumlah ayam telurnya.
Dan dibulan ini merupakan puncak panen raya telur sehingga harga telur menjadi menurun. Di sisi lain, harga pakan kini juga mengalami kenaikan akibat pengaruh nilai tukar dolar.
”Bahan baku konsentrat masih banyak bergantung pada impor sehingga perlu dukungan pemerintah agar biaya produksi bisa ditekan,” tegasnya.
Dalam kunjungannya, BHS juga memberikan uang pembinaan kepada Sutikno, peternak telur ayam dii Desa Suwaloh, senilai Rp 4 juta. Sutikno dalam kesempatan itu menyampaikan bahwa harga telur ayam di tingkat peternak dijual dengan harga Rp 23.500 per kilogram. Banyaknya pasokan telur membuat harga telur semakin menurun.
“Kami berharap harga telur kembali naik supaya bisa menyejahterakan petani,” katanya.
Penurunan harga ini diakui terjadi akibat melimpahnya pasokan telur di pasaran atau oversupply. Sebab permintaan telur saat program Makan Bergizi Gratis (MBG) mulai berjalan ada peningkatan hingga harga telur naik. Kenaikan harga saat itu membuat banyak pelaku usaha tertarik menambah populasi ayam petelur.
“Waktu MBG dimulai, harga telur sempat naik. Akhirnya banyak pengusaha yang menambah populasi dan masuk ke usaha ayam petelur. Dua bulan terakhir menjadi puncaknya karena banyak ayam mulai produksi dan panen telur, sehingga terjadi kelebihan pasokan,” katanya.
Kondisi ini diperparah dengan biaya produksi juga masih tinggi, lantaran kebutuhan pakan mengalami kenaikan akibat pengaruh nilai tukar dolar. Pihaknya berharap pemerintah dapat turun tangan untuk membantu menjaga kestabilan harga telur agar peternak tidak semakin terbebani.
“Kami tidak berani membbuat pakan alternatife karena bisa berdampak pada penurunan produksi telur. Harapan kami pemerintah bisa membantu menstabilkan harga telur dikisaran Rp 26.500 per kilogram sesuai HET, sudah cukup baik dan bisa membantu peternak bertahan,” katanya.
Sementara itu, Camat Balongbendo Ardi Anindita menegaskan bahwa pemerintah daerah mendukung upaya menjaga stabilitas harga telur agar usaha peternak tetap bertahan. Pihaknya juga menyampaikan terima kasih kepada Ir.H.Bambang Haryo Soekartono, M.I.Pol, selaku anggota DPR RI yang berkenan berkunjun ke peternak telur ayam di wilayahnya.
“Terima kasih kami sampaikan kepada Bapak BHS yang langsung hadir disini. Kami sangat mendukung langkah untuk menjaga harga telur tetap stabil sehingga masyarakat dan pelaku usaha dapat terus survive menjalankan usahanya,” kata Ardi Anindita. (RJ1)







