BANYUWANGI – Ketua Komisi IV DPRD Banyuwangi, Patemo, mengulas solusi jitu untuk mencegah dan mengatasi kemacetan horor yang saat ini kerap terjadi di Pelabuhan Ketapang Banyuwangi, Jawa Timur.
Jalan keluar mengatasi macet di pintu gerbang menuju Pulau Bali itu terdiri dari dua cara, yakni jangka pendek dan jangka panjang.
Jangka pendeknya, kata Patemo, PT ASDP Indonesia Ferry harus segera melakukan koordinasi dengan regulator dan pemerintah daerah termasuk kepolisian untuk menahan sementara pergerakan kendaraan dari luar pelabuhan saat terjadi lonjakan atau cuaca buruk.
Selain itu menerapkan manajemen rekayasa lalu lintas dengan mengalihkan kendaraan dari jalan raya utama menuju jalur alternatif guna mencegah kepadatan parah di depan Pelabuhan Ketapang.
Mengelola area penyangga di Terminal Sritanjung Ketapang dan kawasan kantong parkir di Bulusan untuk menampung truk logistik sehingga antrean tidak meluber ke jalan nasional.
“Langkah-langkah tersebut harus terus dievaluasi melalui rapat koordinasi bersama pemangku kepentingan agar kelancaran distribusi logistik dan kenyamanan masyarakat tetap terjaga,” ucap Ketua Komisi IV DPRD Banyuwangi.
Untuk program jangka panjang, lanjut politisi asal Kecamatan Bangorejo, PT ASDP Indonesia Ferry diminta segera mengajukan pembangunan dermaga baru dan peningkatan dermaga MB dengan kapasitas besar sehingga mampu melayani kendaraan berbobot 50 ton, termasuk truk sumbu tiga.
“Biang terjadinya kemacetan di Pelabuhan Ketapang ini adalah dermaga, bagaimana dermaga ini bisa segera di upgrade dengan kapasitas yang lebih besar sehingga bisa melayani penyeberangan kendaraan tonase di atas 50 ton,dan kendaraan logistic tidak harus antri di Buffer Zone,” tandas Patemo.
Selain persoalan dermaga di Pelabuhan Ketapang, Komisi IV DPRD Banyuwangi juga mendesak agar operasional kapal Long Distance ferry (LDF) di Pelabuhan Tanjungwangi dimaksimalkan Kembali.
Jumlah kapal yang melayani penyeberangan menuju Lombok melalui Pelabuhan Tanjungwangi berkurang dari empat kapal menjadi dua kapal.
“Berkurangnya kapal yang beroperasi melalui Pelabuhan Tanjungwangi menjadikan distribusi kendaraan logistik terganggu dan memaksa sebagian kendaraan logistik beralih jalur melalui Pelabuhan Ketapang menuju Bali,” paparnya.***







