Oleh Much. Khoiri
Di tengah arus globalisasi yang cenderung homogen dan pragmatisme pendidikan yang kerap melupakan akar budaya, pernahkah kita berhenti bertanya: ke mana arah ilmu pengetahuan kita? Apakah kita hanya sibuk mengejar teori-teori asing, sementara kekayaan lokal yang ada di depan mata kita biarkan layu?
Pertanyaan itu menggelayut dalam benak saya ketika pertama kali dipercaya menjadi salah satu editor buku Seni, Sastra, dan Budaya Lokal: Pendekatan Multi-, Inter-, dan Transdisipliner (Unesa University Press, 2025). Buku 562 halaman ini bukan sekadar kumpulan makalah ilmiah. Ia adalah sebuah monumen intelektual sekaligus surat cinta dari puluhan murid kultural kepada seorang guru besar, Prof Dr Haris Supratno, sebagai kado purnatugas. Dan sebagai editor, saya merasa terhormat menjadi bagian dari upaya “menyalakan lilin ilmu” yang telah diwariskan oleh sang guru.
Merangkai Mozaik Ilmu
Ketika naskah-naskah mulai berdatangan, saya dan tim editor dihadapkan pada tantangan besar. Puluhan tulisan dari berbagai disiplin —sosiologi, antropologi, psikologi, linguistik, pedagogi— harus dirangkai menjadi sebuah buku yang utuh dan koheren. Kami tidak ingin menghasilkan sekadar kumpulan artikel yang berdiri sendiri. Kami ingin sesuatu yang lebih: sebuah buku yang mencerminkan semangat sang guru, yang selalu mendorong murid-muridnya untuk melampaui sekat-sekat disiplin.
Maka kami memutuskan untuk menyusun buku ini menjadi tiga bagian utama. Bagian pertama menelaah Sosiologi Seni, Sosiologi Sastra, dan Psikologi Sastra. Bagian kedua mengupas Antropologi Seni, Antropologi Sastra, hingga Antropolinguistik dan Psikolinguistik. Bagian ketiga membahas etnopedagogi dan pendidikan karakter berbasis budaya lokal. Keragaman ini adalah cerminan keyakinan kami: bahwa ilmu tidak boleh terkurung dalam ruang sempit.
Menemukan Berlian di Tengah Keragaman
Salah satu pengalaman paling berharga sebagai editor adalah ketika saya membaca dan menyunting artikel-artikel yang memiliki objek kajian yang sangat kontekstual. Saya masih ingat saat pertama kali membaca naskah tentang waranggana (penari tayub) profesional bernama Darsini. Saya tersenyum. Tidak banyak buku akademik yang berani membahas sosok seperti Darsini secara mendalam. Atau ketika saya menyunting tulisan tentang peran domestik perempuan ludruk di Jember yang ternyata memegang kunci strategis dalam keberlangsungan seni tradisi.
Saya membaca tulisan-tulisan itu dan berpikir: inilah yang dimaksud dengan “menyalakan lilin.” Lilin itu tidak menyala di ruang kuliah yang sunyi. Ia menyala di dapur rumah tangga para seniman, di antara anak-anak yang menunggu ibu mereka pulang dari panggung, di antara ekonomi keluarga yang bergantung pada seni yang mereka geluti. Sebagai editor, saya merasa bertanggung jawab untuk memastikan suara-suara ini terdengar dengan jelas.
Menembus Disiplin: Multi, Inter, dan Trans
Saya juga merasa tertantang ketika menyunting artikel-artikel yang mengusung pendekatan multi-, inter-, dan transdisipliner. Ketika Riki Nasrullah menulis tentang “Narasi, Nalar, dan Neurolinguistik,” ia tidak hanya membaca karya Prof Haris sebagai teks sastra, tetapi juga sebagai proses kognitif-afektif yang memengaruhi otak dan emosi pembaca. Ini adalah lompatan metodologis yang segar—sesuatu yang mungkin tidak akan muncul jika kita tetap terkurung dalam disiplin yang kaku.
Demikian pula, kajian tentang Tari Topeng Cisalak sebagai media pendidikan karakter memperlihatkan bagaimana sebuah tarian tradisional dapat menjadi instrumen penguatan moral yang lebih efektif daripada sekadar ceramah di kelas. Sebagai editor, saya merasa perlu memastikan, bahwa gagasan-gagasan segar ini tidak kehilangan ketajamannya selama proses penyuntingan. Saya ingin pembaca merasakan kegembiraan intelektual yang saya rasakan saat pertama kali membaca naskah-naskah ini.
Catatan Jujur Editor
Tentu, sebagai editor, saya juga harus jujur tentang tantangan yang kami hadapi. Sebagai buku antologi, kualitas tulisan para kontributor tidak sepenuhnya merata. Beberapa artikel sangat kuat secara teori dan data, sementara yang lain lebih bersifat deskriptif dan kurang tajam dalam analisisnya. Tugas saya dan tim editor adalah membantu penulis menemukan ketajaman itu, tanpa menghilangkan suara asli mereka.
Saya juga menyadari, meskipun mengusung semangat lokal, sebagian besar artikel masih sangat bergantung pada kerangka teori Barat, semisal Foucault, Barthes, Lévi-Strauss, dan Lickona. Sebagai editor, saya sempat bertanya: akankah muncul lebih banyak konsep yang digali langsung dari kearifan lokal Nusantara? Misalnya, bagaimana konsep ‘rasa‘ dalam budaya Jawa atau ‘siri’ dalam budaya Bugis dapat dijadikan pisau analisis setara dengan teori-teori tersebut.
Namun, saya memilih untuk melihat ini bukan sebagai kekurangan, melainkan sebagai pintu yang masih terbuka. Buku ini bukan akhir, tetapi justru awal. Ia adalah undangan bagi generasi berikutnya untuk terus menggali, mengembangkan, dan bahkan menggantikan teori-teori asing dengan konsep-konsep dari tanah sendiri. Dan sebagai editor, saya merasa bangga telah menjadi bagian dari awal mula itu.
Untuk Siapa Buku Ini?
Untuk siapa buku ini? Pertama, mahasiswa sastra, bahasa, dan Antropologi. Buku ini adalah laboratorium metode. Pelajari bagaimana penulis menerapkan semiotika Barthesian pada Serat Darmagandhul atau bagaimana antropologi sastra digunakan untuk membaca kepercayaan rakyat Nias dalam novel Manusia Langit.
Kedua, guru dan dosen, terutama di daerah. Bagian ketiga buku ini merupakan gudang inspirasi untuk menciptakan bahan ajar berbasis kearifan lokal. Contoh dari Kalimantan Selatan dan Toraja menunjukkan bahwa pendidikan karakter akan lebih membumi jika berakar pada tradisi yang dekat dengan keseharian siswa.
Ketiga, pemerhati budaya dan pegiat seni. Buku ini membuktikan bahwa seni tradisional tidak usang. Bab tentang adaptasi Cerita Panji di era digital adalah bacaan yang mencerahkan—menunjukkan bagaimana tokoh Dewi Rengganis dapat menjadi ikon feminisme di media sosial.
Menyalakan Lilin Kita Sendiri
Yang jelas, buku Seni, Sastra, dan Budaya Lokal bukan hanya kado untuk Prof Haris Supratno. Ia adalah warisan terbuka bagi siapa pun yang percaya bahwa ilmu pengetahuan tidak boleh terkurung dalam menara gading. Seperti yang tertulis dalam prolog, “Nyala ilmu tidak sekadar dilanjutkan lewat logika, tetapi dihayati lewat cinta yang tak henti-hentinya terhadap hidup dan keberagamannya.”
Akhirnya, buku ini mengajak kita untuk berani meruntuhkan sekat-sekat disiplin. Sebagai editor, saya menyaksikan sendiri bagaimana proses penyuntingan buku ini mengubah cara pandang saya. Pada hakikatnya, kehidupan itu sendiri tidak pernah berjalan secara monodisiplin. Ia selalu bersifat multi, inter, dan trans. Dan di tengah sekat-sekat itulah, kita semua dipanggil untuk menyalakan lilin kita sendiri. {*}
*) Much. Khoiri (nama pena Dr Drs Much. Koiri, MSi) adalah dosen Kajian Sastra/Budaya dan Menulis Kreatif di FBS Unesa, founder Rumah Virus Literasi, editor, penulis 81 buku, serta peresensi dan penulis esai lepas untuk berbagai media massa. Profil lengkap: https://muchkhoiri.com/2021/01/tentang-penulis/*






