SURABAYA (Radarjatim.id) – Tenun Kluwung bertajuk Barik karya Dr. Sn. Inty Nahari, S.Pd., M.Ds., dosen Program Magister Terapan Industri Kreatif, Fakultas Vokasi Universitas Negeri Surabaya (UNESA), dipamerkan dalam kriya internasional Becoming: Prakriti–Pustaka–Padma di Agung Rai Museum of Art (ARMA) Museum, Ubud, Bali.
Barik, dipamerkan di Museum ARMA dengan Program Studi Kriya, Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Seni Indonesia (ISI) Bali tersebut menampilkan 79 karya dari 50 seniman dan praktisi kriya yang berasal dari delapan negara, yakni Indonesia, Belanda, Amerika Serikat, India, Iran, Jerman, Kenya, dan Swiss
Dalam pameran tersebut, Inty menghadirkan Barik, karya tenun kluwung berbahan serat daun nanas dari kawasan Kelud. Material alam ini diolah dengan mempertahankan karakter alaminya, seperti tekstur, ketebalan, warna, dan garis-garis yang terbentuk selama proses pengolahan.
“Barik merupakan karya tenun kluwung yang menggunakan serat daun nanas dari kawasan Kelud. Material alam tersebut diolah dengan tetap mempertahankan karakter seratnya, mulai dari tekstur, ketebalan, warna, hingga garis-garis alami yang terbentuk selama proses pengolahan,” ujar Inty.
Melalui karya tersebut, Inty mengangkat hubungan antara alam, material, manusia, dan waktu dalam proses penciptaan kriya. Menurutnya, kain tidak hanya dipahami sebagai produk akhir, tetapi juga menjadi ruang perjumpaan antara pengetahuan tradisional, lingkungan, dan pengalaman manusia.
“Setiap garis yang hadir pada permukaan tenunan menyimpan gerak. Ada ritme yang teratur sekaligus tidak terduga, seolah memperlihatkan bahwa alam tidak pernah sepenuhnya tunduk pada kehendak manusia,” katanya.
Selain mengeksplorasi material lokal, Barik juga mengangkat isu keberlanjutan melalui pemanfaatan serat daun nanas yang selama ini banyak dipandang sebagai limbah pertanian menjadi material kriya bernilai artistik. Pendekatan tersebut menunjukkan potensi pengembangan material ramah lingkungan sekaligus penguatan tradisi tenun kluwung sebagai praktik kriya yang terus berkembang.
Pameran Becoming: Prakriti–Pustaka–Padma mengangkat tiga gagasan utama, yaitu Prakriti sebagai representasi alam, Pustaka sebagai pengetahuan dan tradisi intelektual, serta Padma atau bunga teratai sebagai simbol pertumbuhan dan transformasi. Melalui keikutsertaan dalam pameran ini, Barik turut memperkenalkan kekayaan material lokal Indonesia dalam forum seni kriya internasional. (RJ9)






