SIDOARJO (RadarJatim.id) — Komitmen untuk terus meningkatkan kualitas mutu satuan pendidikan menjadi motivasi utama di balik keberhasilan kepala sekolah dalam menyelesaikan studi lanjutnya hingga jenjang Doktoral (S3).
Langkah akademik ini diambil bukan sekadar untuk mengejar gelar, melainkan sebagai bekal nyata dalam mengelola sekolah agar lebih berkualitas, adaptif, dan mampu bersaing.
Itulah ungkapan Kepala SMP Negeri 1 Gedangan Dr. Aris Setiawan, S.Pd M.Pd usai dinyatakan Lulus Ujian Terbuka Doktor (S3) Manajemen Pendidikan Universitas Negeri Surabaya, pada (15/6/2026) pagi.
Ditemui di sekolanya, Aris Setiawan menceritakan bahwa perjalanan kuliahnya dimulai pada tahun 2019, yang juga bertepatan dengan awal mula dirinya diangkat menjadi kepala sekolah.
Meski telah mengantongi pengalaman yang sangat matang sebagai Wakil Kepala Sekolah (Wakasek) selama 20 tahun—masing-masing 10 tahun di SMP Negeri 3 Taman dan 10 tahun di SMP Negeri 1 Sidoarjo, ia mengaku merasa perlu melengkapi diri dengan kebaruan ilmu.
“Dari pengalaman menjadi Wakasek itulah saya merasa masih kurang mantap. Maka perlu ditunjang dengan kebaruan-kebaruan yang bisa membekali saya dalam mengelola satuan pendidikan, supaya bisa berkualitas dan menjadi yang terbaik,” tutur Pak Aris_sapaan akrabnya.
Ia menambahkan, jika sebuah sekolah belum mampu menjadi yang terbaik, maka sekolah tersebut harus menjadi yang pertama atau tampil berbeda melalui inovasi dan keunikan tersendiri.
Menurutnya, implementasi dari ilmu dan komitmen tersebut telah dibuktikannya di sekolah-sekolah yang pernah ia pimpin sebelumnya. Saat menjabat di SMP Negeri 2 Buduran, telah menginisiasi program School of Character. Fokus pada pembangunan karakter anak ini terbukti sukses memicu lahirnya berbagai prestasi siswa yang terus mengalir hingga saat ini.
Keberhasilan serupa kini diterapkan di SMP Negeri 1 Gedangan ini. Melalui keselarasan program dan pemanfaatan kearifan lokal, sekolah ini berhasil menyabet berbagai predikat prestisius, di antaranya sebagai Sekolah Adiwiyata Nasional, Sekolah Toleransi, serta Sekolah PJHS (Pendidikan Jaringan Hebat Sehat) Nasional.
“Tak hanya itu, sekolah ini juga menerapkan konsep sekolah sehat dan aman dengan memastikan jajanan siswa bebas dari zat berbahaya (5P), memiliki sertifikasi halal, serta berkomitmen kuat dalam meminimalkan penggunaan plastik di lingkungan sekolah,” urai Pak Aris yang sebelumnya sudah S2 Bahasa Inggris ini.
Menurutnya, kualitas suatu sekolah sering kali menjadi cerminan dari sosok pemimpinnya. Oleh karena itu, ia menekankan bahwa keberhasilan program sekolah tidak boleh hanya menjadi “gebrakan sesaat”, melainkan harus berkelanjutan.
Dalam memimpin, ia menerapkan empat pilar utama yang disingkronkan dengan teori-teori pendidikan yang didapatkannya dari bangku perkuliahan:
• Keteladanan: Pemimpin harus mampu memberikan contoh yang baik bagi seluruh warga sekolah.
• Komitmen: Membangun komitmen bersama yang melibatkan seluruh lini, mulai dari kepala sekolah, guru, siswa, hingga petugas kebersihan (tukang kebun).
• Konsistensi: Menjaga kinerja dan kualitas agar tetap berjalan baik, dengan atau tanpa kehadiran langsung dari pimpinan.
• Kebersamaan: Menumbuhkan rasa memiliki bahwa kemajuan dan kualitas sekolah adalah tanggung jawab bersama.
“Ketika teori yang kami dapatkan dari kampus disinkronkan dengan apa yang kami lakukan di lapangan, Alhamdulillah hasilnya luar biasa,” jelas Mantan Ketua MKKS SMP Negeri 1 Sidoarjo ini.
Pak Aris juga mengungkapkan sebuah penelitian disertasi yang mendalam mengenai dunia pendidikan. Penelitian ini menyoroti bagaimana satuan pendidikan merespons kebijakan pemerintah yang mewajibkan penerapan Kurikulum Merdeka dengan pendekatan deep learning (pembelajaran mendalam) yang dimulai pada tahun ajaran 2025/2026 lalu.
Disertasi yang berhasil dipertahankan tersebut berjudul “Implementasi Manajemen Pembelajaran dengan Pendekatan Deep Learning (Studi Kasus Multi Situs di SMP Negeri 1 Gedangan dan SMP Negeri 4 Sidoarjo)”.
Peneliti mengungkapkan bahwa kebaruan (novelty) dari penelitian ini berfokus pada bagaimana pihak sekolah mengelola satuan pendidikan melalui manajemen pembelajaran berbasis pendekatan deep learning.
Saya memilih SMP Negeri 1 Gedangan dan SMP Negeri 4 Sidoarjo sebagai lokus atau tempat penelitian bukan tanpa alasan. Kedua sekolah tersebut dinilai telah sukses melaksanakan Kurikulum Merdeka dengan pendekatan deep learning.
Selain itu, kedua sekolah ini memiliki karakteristik dan keunikan yang sangat khas:
• SMP Negeri 1 Gedangan: Dikenal dengan keunggulannya sebagai Sekolah PJAS (Pangan Jajanan Anak Sekolah) Aman, Sekolah Toleransi, serta meraih predikat Adiwiyata Nasional.
• SMP Negeri 4 Sidoarjo: Memiliki keunikan sebagai sekolah penyelenggara KAKSB (Kelas Khusus Seni Budaya) serta memiliki pengembangan program kewirausahaan yang sangat luar biasa.
“Dari keunikan dan keunggulan masing-masing sekolah tersebut, kami memotret bagaimana implementasi manajemen pembelajarannya,” terangnya.
Linimasa Akademik Aris Setiawan ada yang menarik, dari Bahasa Inggris Berbelok ke Manajemen Pendidikan. Ia ceritakan kalau gelar Doktor di bidang Manajemen Pendidikan ini menjadi arah baru dalam riwayat pendidikan saya. Sebelumnya, sudah menyelesaikan studi Sarjana (S1) dan Magister (S2) di bidang Pendidikan Bahasa Inggris.
Saat ditanya mengenai perubahan fokus tersebut, ia menjelaskan bahwa langkah ini diambil karena tuntutan profesi yang saat ini sudah tidak lagi menjadi guru kelas.
“Karena posisi saya bukan guru lagi, sehingga saya perlu untuk mengisi dan menimba ilmu bagaimana cara mengelola sekolah. Maka dari itu, saya melanjutkan S3 ke Manajemen Pendidikan,” pungkas Aris Setiawan.(mad)







