SIDOARJO (RadarJatim.id) — Penerapan program Budaya Sekolah Aman dan Nyaman (BSAN) di lingkungan sekolah jenjang Sekolah Dasar mendapatkan respon yang sangat positif, sangat luar biasa dari para peserta yang merupakan para perwakilan guru SD dari 18 kecamatan yang ada di wilayah Kabupaten Sidoarjo.
Kegiatan yang dikemas dalam workshop tersebut, dilaksanakan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Sidoarjo berkerjasama dengan INOVASI (Inovasi untuk Anak Sekolah Indonesia) program kemitraan Pemerintah Australia dan Indonesia dalam bidang pendidikan dasar, mendapatkan respon positif dari para pendidik, pada 21 dan 22 Juli 2026 di Aula SMP Negeri 2 Sidoarjo.
Salah satu peserta, Demes Ria Setyorini dari pendidik kelas rendah dari SD Negeri Putat Tanggulangin, usai mengikuti kegiatan pelatihan BSAN yang berlangsung selama dua hari menjelaskan bahwa pelatihan tersebut memberikan pemahaman mendalam secara komprehensif, mulai dari konsep dasar hingga tahap implementasi nyata di lapangan.
“Hari pertama kami dibekali materi konsep BSAN melalui modul inti dan modul tambahan. Sementara di hari kedua, fokusnya lebih ke simulasi dan praktik implementasi, sehingga kami memiliki gambaran yang jelas untuk menerapkannya langsung di sekolah,” jelasnya.
Berbagai materi dan praktik yang didapatkan selama pelatihan dinilai sangat aplikatif untuk diterapkan kepada para siswa. Salah satu metode yang paling berkesan adalah penggunaan ‘Roda Emosi’, sebuah alat bantu untuk mengenalkan berbagai jenis emosi kepada anak sekaligus mengajarakan teknik pengontrolan diri saat emosi meluap.
Melalui metode ini, siswa diajarakan langkah-langkah pengendalian diri secara terstruktur. Stop (Berhenti sejenak), Berpikir dan Tindakan. Selain roda emosi, pelatihan ini juga mengenalkan permainan ‘Lampu Lalu Lintas (Merah, Kuning, Hijau)’ sebagai sarana edukasi pencegahan perundungan (anti-bullying).
Permainan ini dirancang untuk membantu anak-anak membedakan batas wilayah perilaku antara candaan yang wajar, bercanda yang berpotensi menyakiti, hingga tindakan perundungan yang harus dihindari.
“Saya meyakini bahwa jika program ini dijalankan secara rutin dan konsisten, lingkungan sekolah yang aman, nyaman, dan berkarakter akan terbentuk dengan baik di Kabupaten Sidoarjo,” ungkap Bu Demes_sapaan akrabnya.
Kendati demikian, ia menyoroti pentingnya adanya proses monitoring dan evaluasi (monev) berkala dari pihak penyelenggara maupun dinas terkait. Hal ini bertujuan agar implementasi di lapangan tidak berhenti sekadar sebagai pemenuhan tugas formalitas belaka.
“Kami berharap ada pemantauan dan diseminasi berkelanjutan dalam kurun waktu 3 hingga 6 bulan ke depan. Jangan sampai semangat ini berhenti setelah pengiriman foto atau video tugas saja. Konsistensi itu kunci agar ilmu yang didapat tidak sia-sia,” harapnya lagi.
Respon positif juga diungkapkan salah satu peserta Edi Kusuma, perwakilan guru jenjang kelas atas dari SDN Tambaksumur, Kecamatan Waru. Ia mengungkapkan rasa antusiasnya terhadap ilmu dan materi baru yang diperoleh selama kegiatan berlangsung. Menurutnya, materi yang disajikan sangat relevan dan memberikan wawasan segar yang belum pernah didapatkan sebelumnya.
“Ini merupakan ilmu baru bagi kami, terutama di Sidoarjo. Pengenalan Modul Pembiasaan Karakter Hebat ini sangat luar biasa dan berkesan. Insya Allah materi ini akan kami implementasikan di lembaga masing-masing serta didesiminasikan ke Kelompok Kerja Guru (KKG) di Kecamatan Waru,” kata Edi.

Salah satu materi yang dinilai paling berkesan dan krusial selama pelatihan adalah pembahasan mengenai masa pubertas bagi peserta didik kelas besar (kelas 4, 5, dan 6). Edi menjelaskan bahwa materi tersebut sangat dibutuhkan untuk membantu siswa yang mulai memasuki masa pubertas agar dapat, atau mampu mengenali perubahan dan ciri-ciri fisik tubuhnya. Juga bisa memahami cara bersikap dan mengendalikan emosi dengan baik, serta bisa menjaga dan mengendalikan diri secara positif.
Lebih lanjut, Edi menyampaikan bahwa program modul pembiasaan karakter ini sangat selaras (relate) dengan Capaian Pembelajaran (CP) yang ada di sekolah, khususnya pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial (IPAS) kelas 5.
Sementara itu, Kabid Mutu Pendidikan dari Dinas Dikbud Sidoarjo Dr. Lilik Sulistyowati, M.Pd juga menegaskan melalui komitmen bersama ini, Sidoarjo menargetkan terciptanya lingkungan sekolah yang sepenuhnya bebas dari berbagai bentuk tindakan negatif.
“Tujuan utamanya adalah menjadikan sekolah sebagai tempat yang benar-benar aman, nyaman, dan menyenangkan. Kita ingin memastikan tidak ada lagi perundungan (bullying), cyberbullying, maupun kekerasan, baik kekerasan verbal, fisik, hingga kekerasan seksual di lingkungan sekolah,” tegasnya.(mad)







