Catatan Arik S. Wartono
Tanggal 27 Juli sampai 2 Agustus 2026, Galeri Bentara Budaya Jakarta menjadi rumah bagi 100 mimpi. Harian Kompas bersama Kementerian PPPA, Kemensos, dan Kemendikdasmen menggelar Canvas of Dreams 2026, National Youth Art Competition & Exhibition untuk pelajar SD hingga SMP se-Indonesia. Pengumuman 10 penerima apresiasi utama diagendakan pada 28 Juli 2026.
Di antara 100 karya terpilih kategori cerpen, puisi, komik, video dan lukisan, ada 20 lukisan pilihan yang dipamerkan. Satu karya yang layak dicatat: Mimpi dan Harapan karya Glenys Cailyn Bechumaira, berusia 12 tahun. Ia pelukis asal Gresik, walau dalam publikasi tertulis Surabaya. Lukisannya menggunakan media paperclay-gypsum dan akrilik di atas kanvas, 70 x 40 Cm.
Cailyn adalah murid Sanggar DAUN. Ia tidak melukis keramaian. Ia melukis sebuah pohon dan matahari terbit. Dalam konsep karyanya ia menulis:
“Bagiku, pohon adalah harapan. Walau dunia sekitarnya abu-abu dan sepi, ia tetap tumbuh. Matahari merah itu imajinasiku: hangat, berani, dan mengingatkan, bahwa setiap hari akan ada awal baru. Mimpi tidak harus ramai. Cukup satu titik cahaya, dan imajinasi kita bisa menghidupkan seluruh dunia.”
Kalimat itu tidak mungkin lahir dari kelas yang hanya mengejar teknik melukis apalagi gelar juara. Ia lahir dari ruang yang memberi anak waktu untuk merenung. Dan, itu yang selama ini kami coba jaga di Sanggar DAUN.
Jawa Timur Tidak Pernah Kosong
Mari kita bicara lebih detail berbasis data. Dalam event kompetisi dan pameran ini, dari 100 karya terpilih nasional, 33 nama berasal dari Jawa Timur. Di lukisan, 6 dari 20 karya adalah anak Jatim. Itu 30%. Pada karya komik, 9 dari 20 dari Jatim (45%). Sementara pada karya video, Jatim menyumbang 7 dari 20 (35%) dan pada cerpen dan puisi masing-masing 6 dari 20 karya.
Nama-namanya tersebar: Surabaya, Gresik, Sidoarjo, Kediri, Banyuwangi, Ngawi, Blitar, Jombang, Pasuruan, Malang, Batu, Bojonegoro. Mereka berusia dalam kisaran 7 hingga 15 tahun. Dalam karya, mereka bicara tentang Pembangkit Listrik Tenaga Kebaikan, PATRA, Kota Kecil Dentima, Klinik Curhat Telinga Lebar, Menatah Mimpi Nusantara, Dari Mimpi Jadi Aksi, dll.
Ini bukan kebetulan. Ini pola. Ini bukti ekosistem. Anak-anak kita bisa berpikir, bisa merasa, dan bisa merumuskan persoalan zamannya lewat gambar, kata, dan media rekam. Data ini sebenarnya sudah cukup untuk mematahkan asumsi ngawur bahwa “Jawa Timur kosong”.
Sebuah kompetisi dan pameran seni rupa anak berskala nasional memang tidak bisa serta merta mewakili kondisi seni rupa Indonesia secara makro. Namun, setiap pencapaian generasi anak-anak tentu tidak mungkin dihasilkan dari ruang kosong, pasti ada ekosistem yang menopangnya.
Lalu pertanyaannya: jika produktivitas dan kualitasnya seperti ini, mengapa dalam buku sejarah seni rupa Indonesia, nama-nama dari Jatim sering terlewat, atau kalau pun masuk cuma jadi jadi catatan kaki? Mengapa setiap kali ada kajian seni rupa Indonesia, narasi masih berputar di poros yang itu-itu saja?
Kekosongan Mesin Narasi
Profesor Djuli Djatiprambudi dari Universitas Negeri Surabaya (Unesa), peneliti, kurator dan kritikus seni rupa nasional, pernah menyampaikan:
“Saya sendiri menyimpan sekitar 3.500 katalog cetak. Sekitar 2.000 di antaranya sudah saya digitalisasi. Pameran di Jatim saja ada sekitar 700 katalog cetak. Jika semua itu diriset dengan sungguh-sungguh, suara-suara yang selama ini ngawur mengatakan Jatim ‘kosong’ akan diam dengan sendirinya.”
Pernyataan itu penting. Karena ia menunjukkan dua hal sekaligus. Pertama, datanya ada. Kedua, datanya belum dibaca.
Masalah kita bukan pada event. Bukan pada kualitas. Masalah kita ada pada distribusi dan dokumentasi. Karya jalan. Pameran selesai. Lalu hilang. Tidak ada yang cukup serius mengumpulkan arsipnya, lalu mendistribusikannya secara efektif. Tidak ada yang melembagakan, bahkan belum ada yang menuliskan dalam bahasa sejarah. Media seni yang konsisten meliput bisa dihitung jari. Kurator yang mau turun ke Mojokerto, Blitar, atau Gresik juga relatif sedikit.
Akibatnya, data 33% seperti ini tidak pernah berubah menjadi legitimasi. Ia berhenti di event dan pengumuman website, lalu tenggelam. Dan 10 tahun kemudian mungkin orang akan bertanya lagi: “Loh, dulu di Jatim ada apa?”
Generasi Pewaris Wacana
Anak-anak adalah masa depan. Tapi masa depan tidak turun dari langit. Masa depan akan direbut oleh siapa yang paling serius hari ini memberikan ruang agar anak bisa berkembang sesuai potensi dan minatnya.
Lihat Cailyn Bachumaira. Ia diberi ruang merenung, maka ia pun melukis harapan. Lihat Kimmi Varisha dari Surabaya yang masuk 2 kategori sekaligus. Lihat Cendekia Sanarta dari Gresik yang menulis puisi Bumi Aku Ingin Kau Tetap Bernapas. Mereka sudah bicara.
Tapi siapa yang akan mewarisi wacana ini? Apakah 20 tahun lagi masih ada yang menulis: pada 2026, anak-anak Jatim sudah merespons isu teknologi, ekologi, dan kemanusiaan lewat lukisan, komik, cerpen, puisi dan video?
Jika tidak ada generasi muda hari ini yang mau masuk ke Omah Mikir Prambudi di Batu, memindai 700 katalog milik Prof Djuli, mewawancarai guru-guru sanggar, dan menulis ulang, maka karya-karya ini akan jadi “kejutan” lagi di tahun 2046. Dan, kita akan mengulang luka yang sama: punya anak-anak hebat, tapi tidak punya sejarah untuk meletakkannya.
Karena itu, tugas generasi muda hari ini tidak cukup hanya membuat karya. Tugasnya adalah menjadi pembaca arsip, penulis, kurator, dan distributor. Arsip tanpa pembaca adalah gudang. Dan, gudang tidak akan pernah mengubah masa depan.
Penutup: Tiga Langkah Strategis
Apa yang harus kita lakukan sekarang? Pertama, berhenti menunggu legitimasi pihak lain. Jika data ada di tangan kita, aktifkan. Pamerkan. Terbitkan. Buat jurnal sekalipun kecil, buat arsip digital terbuka, buat podcast, buat apa saja yang membuat orang di luar Jatim mau membaca.
Kedua, kembalikan fungsi sanggar dan sekolah sebagai ruang kreatif sekaligus kontemplatif, bukan pabrik lomba. Lihat Cailyn. Ia tidak melukis untuk menang. Ia melukis karena ia punya pertanyaan tentang harapan. Itu yang membuat karyanya sampai ke Jakarta.
Ketiga, bangun jejaring distribusi. Kita butuh lebih banyak artchemis, lebih banyak penulis, lebih banyak kurator yang mau turun ke Gresik, Blitar, Ngawi, bukan hanya ke kota besar. Tanpa itu, karya sebagus apa pun akan tetap tinggal di studio.
Hentikan siklus ‘pamer lalu lupa’. Tanpa tiga langkah ini, maka setiap event penting hanya akan jadi angka statistik yang indah, lalu hilang.
Canvas of Dreams bukan sekadar kompetisi. Ia adalah cermin. Dan, cermin itu menunjukkan satu hal: Jawa Timur tidak kekurangan anak yang bermimpi. Yang kita kekurangan adalah orang dewasa yang mau mencatat mimpinya.
Cailyn percaya satu titik cahaya cukup menghidupkan seluruh dunia. Tugas kita sekarang adalah menjadi titik cahaya itu. Membaca. Mengarsipkan. Menulis. Menyebarkan. Sebab, 20 tahun lagi, orang tidak akan bertanya “siapa yang menang”. Orang akan bertanya “siapa yang menulis sejarahnya”. {*}
*) Arik S. Wartono, Pendiri dan Pembina Sanggar DAUN, tinggal di Gresik.







