BOJONEGORO (RadarJatim.id) – Sejarah baru tercatat dalam dinamika kepolisian di Kabupaten Bojonegoro. AKBP Yenni Diarty resmi menjabat sebagai Kapolres Bojonegoro setelah serah terima jabatan di Gedung Mahameru Polda Jawa Timur, Selasa (28/7/2026).
Penunjukan ini bukan sekadar pergantian personel, melainkan simbol evolusi kepemimpinan Polri yang semakin inklusif dan responsif terhadap perubahan sosial.
Berdasarkan Surat Telegram Kapolri Nomor ST/1336/VI/KEP/2026, Yenni membawa pengalaman strategis dari jabatannya sebelumnya sebagai Kasubdit Regident Ditlantas Polda Sumatera Selatan. Latar belakang ini memberikan perspektif unik mengenai manajemen lalu lintas dan ketertiban umum yang dapat diadaptasi untuk konteks wilayah Bojonegoro.
Prosesi pelantikan yang dipimpin Kapolda Jatim Irjen Pol Nanang Avianto menegaskan bahwa penugasan ini merupakan bagian dari rotasi berbasis kompetensi dan meritokrasi.
Yang menarik perhatian adalah pendekatan kultural yang ditunjukkan Yenni sejak hari pertama. Sapaan “kulo nuwun” yang ia gunakan bukan sekadar basa-basi, melainkan manifestasi dari cultural intelligence atau kecerdasan budaya dalam kepemimpinan.
Dalam ilmu komunikasi publik, kemampuan menyesuaikan diri dengan kode budaya lokal adalah kunci membangun legitimasi dan kepercayaan (trust) masyarakat. Dengan menghormati adat setempat, seorang pemimpin menunjukkan kerendahan hati sekaligus keseriusan untuk berintegrasi dengan komunitas yang dilayaninya.
“Selaku orang baru, saya ucapkan kulo nuwun. Semoga dapat diterima dengan baik dan memberikan pelayanan terbaik,” ujarnya, Rabu (29/7/2026).
Pernyataan ini mencerminkan paradigma kepolisian kontemporer yang bergeser dari pendekatan otoritatif menjadi kolaboratif-partisipatif. Permintaan dukungan dan masukan secara terbuka adalah bentuk akuntabilitas sosial, di mana keamanan tidak lagi dianggap sebagai monopoli institusi, melainkan tanggung jawab bersama (shared responsibility).
Kehadiran perempuan di pucuk pimpinan Polres Bojonegoro juga membuka ruang diskusi tentang diversitas kepemimpinan. Berbagai studi menunjukkan bahwa keberagaman gender dalam posisi strategis berkorelasi positif dengan peningkatan empati organisasi, pengambilan keputusan yang lebih komprehensif, serta efektivitas penyelesaian konflik melalui dialog. Tantangan bagi AKBP Yenni kini adalah menerjemahkan latar belakang teknisnya di bidang lalu lintas menjadi kebijakan holistik yang mencakup aspek keamanan, ketertiban, dan kesejahteraan masyarakat.
Dengan kombinasi kompetensi profesional, kepekaan kultural, dan komitmen kolaboratif, kepemimpinan AKBP Yenni Diarty diharapkan tidak hanya menjaga stabilitas kamtibmas, tetapi juga memperkaya ekosistem pelayanan publik di Bojonegoro yang humanis, modern, dan berakar pada kearifan lokal. (Pradah)







