KEDIRI (RadarJatim.id) — Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, tidak memberikan tanggapan ketika ditanya mengenai kasus dugaan keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menyebabkan seorang siswi di Kabupaten Karo, Sumatera Utara, dilaporkan mengalami penurunan daya ingat hingga 70 persen.
Pertanyaan tersebut disampaikan kepada Zulkifli Hasan (Zulhas) seusai menghadiri penyaluran bantuan pangan beras di Balai Desa Gogorante, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Kediri, Kamis (10/9/2026).
Saat ditanya mengenai kasus tersebut, Zulhas tidak memberikan jawaban terkait kondisi korban maupun langkah pemerintah menangani kasus itu. Ia kemudian melanjutkan agenda dan memberikan keterangan mengenai kebijakan bantuan pangan beras pemerintah.
BACA JUGA:
Sikap tersebut menjadi sorotan karena kasus yang ditanyakan bukan sekadar keluhan kesehatan ringan. Seorang siswi berusia 16 tahun di Kabupaten Karo, Sumatera Utara, Febiola Br Purba, dilaporkan mengalami gangguan kesehatan diduga setelah mengonsumsi makanan dalam program MBG pada 13 Agustus 2026.
Menurut sejumlah laporan media, kondisi Febiola kemudian memburuk. Ia dilaporkan mengalami kejang, gangguan bicara, serta penurunan fungsi ingatan yang disebut keluarga mencapai sekitar 70 persen. Febiola juga disebut telah menjalani perawatan di sejumlah rumah sakit, termasuk RSUP H Adam Malik Medan. Salah satu laporan menyebut, dokter mempertimbangkan kemungkinan infeksi bakteri atau paparan racun jamur sebagai penyebab gangguan kesehatan yang dialaminya.
Namun, hubungan sebab-akibat antara konsumsi makanan MBG dan kondisi medis Febiola tetap perlu didasarkan pada hasil pemeriksaan medis dan investigasi resmi.
Kasus Febiola menambah sorotan terhadap persoalan keamanan pangan dalam pelaksanaan MBG. Hukumonline melaporkan, Febiola diduga mengalami kerusakan fungsi saraf berat, gangguan komunikasi, dan penurunan daya ingat hingga 70 persen setelah kasus yang diduga berkaitan dengan keracunan makanan MBG. Kasus tersebut kemudian mendapat perhatian Amnesty International Indonesia.
Laporan lain menyebut Febiola sebelumnya dikenal sebagai siswi berprestasi dan aktif sebagai wakil ketua OSIS. Kondisinya berubah setelah mengalami gangguan kesehatan tersebut. Karena itu, pertanyaan mengenai tanggung jawab pemerintah menjadi semakin penting, terutama ketika program MBG menyasar anak-anak sekolah.
Pertanyaan kepada Zulhas di Kediri juga tidak bisa dilepaskan dari pernyataannya beberapa hari sebelumnya mengenai pelaksanaan MBG. Zulhas sebelumnya diberitakan mengakui adanya kegagalan dalam pelaksanaan program MBG. Ia menyoroti persoalan yang terus muncul meskipun program tersebut telah berjalan hampir dua tahun.
Pada kesempatan lain, Zulhas juga menegaskan tidak boleh ada toleransi terhadap persoalan yang menyangkut keselamatan penerima manfaat MBG. Pernyataan tersebut membuat sikap pemerintah terhadap kasus-kasus dugaan keracunan MBG kembali menjadi perhatian.
Apalagi, persoalan yang muncul di lapangan tidak lagi hanya menyangkut makanan terlambat atau keluhan sakit perut, tetapi telah muncul laporan mengenai korban yang mengalami dampak kesehatan serius.
Di tengah agenda pemerintah memperkuat program pangan, termasuk bantuan beras dan kebijakan stabilisasi pangan, isu keamanan MBG masih menjadi pekerjaan rumah.
Zulhas dalam kunjungannya ke Kediri lebih banyak menyampaikan kebijakan pemerintah terkait bantuan pangan, tambahan 1 juta ton beras hingga Desember, beras SPHP, jagung murah untuk peternak, serta pemanfaatan beras turun mutu untuk kebutuhan industri.
Namun, ketika ditanya mengenai kasus dugaan keracunan MBG dengan korban yang dilaporkan mengalami gangguan ingatan hingga 70 persen, Zulhas tidak memberikan tanggapan sama sekali. Belum ada penjelasan dari Zulhas dalam kesempatan tersebut mengenai langkah pemerintah terhadap kasus Febiola, termasuk soal penanganan korban, hasil investigasi, maupun evaluasi terhadap standar keamanan pangan MBG.
Pertanyaan mengenai siapa yang bertanggung jawab ketika program yang dirancang untuk meningkatkan kesehatan anak justru diduga menimbulkan dampak kesehatan serius pun masih menunggu jawaban pemerintah. (rul)








