SURABAYA (RadarJatim.id) — Prof Dr Kisyani Laksono, MHum tampil sebagai salah satu pembedah dalam Seminar Nasional Budaya Ke-Unesaan, Kamis (1/10/2026). Ia membawakan materi bertajuk Membumikan Nilai Budaya Ke-Unesaan: Evaluasi Strategis dan Rencana Aksi Nyata, dengan pesan utama, bahwa teknologi hanyalah mesin akselerasi, sedangkan karakter adalah kemudi yang menentukan arah.
Prof Kisyani membuka paparannya dengan ilustrasi ruang kelas yang hening: mahasiswa sibuk memakai AI, karya nampak sempurna. Tetapi, ketika diminta menjelaskan logikanya, mereka terdiam.
“Apakah teknologi membuat kita melompat maju, atau justru kita berlari di atas treadmill digital yang bergerak cepat, menguras energi, namun tidak berpindah ke mana-mana?” ujarnya.
Dari ilustrasi itu, ia menyoroti 120 akademisi dari beragam disiplin —Teknik, Kedokteran, Psikologi, Soshum, Seni, dan Olahraga— yang melepaskan kacamata birokrasi untuk membedah realitas kampus. Buku ini lahir bukan dari dekrit top-down, melainkan dari otokritik autentik yang berani mengakui kesenjangan antara slogan dan realitas operasional.
Prof Kisyani lalu membedah tiga pilar buku Unesa Bergerak. Pilar pertama, Growing with Character, menghadapi tantangan AI dan etika digital. Ia menawarkan Model 4P+1D dan menegaskan: karakter tidak tumbuh dari fitur, melainkan dari figur.
Pilar kedua, Satu Langkah di Depan, mencakup digitalisasi, ekspansi FK dan FKG, serta kemandirian ekonomi, namun terancam fetisisme angka dan kompetisi superfisial. Pilar ketiga, Bersama Bisa Bekerja Sama, menyoroti inklusi dan kolaborasi, tetapi masih terbentur ego sektoral dan silo birokrasi.

Dari ketiga pilar itu, Prof Kisyani menyusun matriks diagnostik yang mempertemukan slogan institusional dengan realita lapangan. Growing with Character berhadapan dengan mahasiswa pasif yang takut salah. Akar masalahnya adalah hilangnya psychological safety.
Satu Langkah di Depan berhadapan dengan kompetisi toksik dan riset yang hanya mengejar indeksasi. Akarnya adalah dominasi Human Capital Theory. Sementara Bersama Bisa Bekerja Sama berhadapan dengan ego sektoral dan resistensi adaptasi kurikulum. Akarnya adalah keengganan birokrasi keluar dari zona nyaman.
Ia lalu mengajukan titik balik kognitif: dari pragmatisme era disrupsi menuju humanistic pedagogy Generasi Emas 2045. Jika pendidikan hanya berorientasi kesiapan pasar kerja dan pemeringkatan, dosen menjadi administrator fitur LMS dan mahasiswa menjadi operator prompt AI. Sebaliknya, jika berorientasi penciptaan agen perubahan yang berdaya tahan mental, dosen bertindak sebagai figur empatik pembangun nalar kritis dan mahasiswa menjadi pemikir mandiri yang mengontrol etika teknologi.
Pada tataran eksekusi mikro, Prof Kisyani mendorong dosen mengubah asesmen dari produk akhir menjadi evaluasi berbasis proses, menerapkan empathic teaching, dan menjadikan AI sebagai sparring partner, bukan joki. Mahasiswa diajak menerapkan growth mindset dan mengenali 24 VIA Strengths, sementara tenaga kependidikan didorong menggantikan birokrasi kaku dengan Service Level Agreement berbasis empati serta mewujudkan kampus inklusif melalui perubahan sikap.
Pada level makro, ia merekomendasikan empat langkah: fondasi AI dan etika melalui regulasi Trustworthy AI; redesain KPI berbasis dampak; integrasi Satgas PPKS dan ekosistem hijau melalui audit inklusi berkala; serta transparansi Good University Governance lewat digitalisasi anggaran terdesentralisasi untuk memangkas silo birokrasi.
Prof Kisyani juga menyoroti perlunya menghapus sekat epistemologis. Olah raga, seni, dan disabilitas —tiga pilar keunggulan Unesa— tidak boleh eksklusif di fakultasnya masing-masing, melainkan harus dilebur menjadi DNA kurikulum lintas disiplin. Mahasiswa teknik, paparnya, perlu mempelajari estetika desain yang humanis. Mahasiswa hukum mendapat injeksi etika sports law, dan seluruh mahasiswa baru wajib mengikuti modul kesadaran universal design.
Dalam analisis SWOT yang dipaparkannya, kekuatan Unesa terletak pada multi-perspektif 120 penulis dan pilar keunggulan unik. Kelemahannya adalah dominasi refleksi kualitatif dan risiko sloganisme. Peluangnya adalah menjadi model percontohan budaya PTN-BH. Sementara ancamannya adalah jurang implementasi slogan, komersialisasi otonomi, dan ancaman integritas akademik akibat AI.
Ia menutup dengan otokritik terhadap tiga penyakit institusional: sloganisme, fetisisme indeksasi, dan ego sektoral. Mengutip Rektor Unesa Prof Dr Nurhasan, MKes, Prof Kisyani mengingatkan, bahwa dunia tidak akan menunggu.
“Tetapi jika kita bergerak bersama, dengan karakter yang kokoh, inovasi yang tak pernah padam, dan kolaborasi yang tulus, maka Unesa bukan hanya akan sampai ke garis akhir, tetapi juga akan menjadi petunjuk arah bagi yang lain,” tandasnya.
Sementara itu, Ketua LPPM Unesa sekaligus Ketua Panitia Seminar, Prof Dr Muhammad Turhan Yani, MA, dalam sambutannya mengungkapkan, bahwa buku tersebut disusun melalui proses panjang.
“Buku ini terhimpun dari 120 tulisan dosen-dosen terpilih dan komitmen mencintai Unesa dengan menyumbangkan pikiran dan refleksi,” ujarnya. (har)








