SIDOARJO (RadarJatim.id) — Sebagai langkah preventif strategis membentengi generasi muda dari ancaman ideologi menyimpang, SMP Negeri 1 Gedangan menggelar forum ‘Pencegahan dan Penanganan Pengaruh Paham Radikalisme’ di aula sekolah, Senin (2/11/2026) pagi.
Kegiatan yang berlangsung pukul 09.00–11.00 WIB ini diikuti oleh dewan pendidik dan 70 siswa pilihan kelas 7, 8, dan 9. Dibuka oleh Kepala SMP Negeri 1 Gedangan Dr. Aris Setiawan, S.Pd., M.Pd., dihadiri langsung Anggota Komisi A DPRD Sidoarjo H. Rizza Ali Faizin, M.Pd.I., serta Kabid Kewaspadaan Nasional dan Penanganan Konflik Bakesbangpol Sidoarjo Farkhan, S.H., M.M.
Dalam pembukaannya, Dr. Aris Setiawan merumuskan tiga pilar utama penanganan siswa, yaitu pengawasan digital (larangan cyberbullying), mitigasi hoaks, dan penguatan literasi kritis.
“Saya berharap kegiatan semacam ini terus digalakkan, agar siswa menjadi lebih terbuka dan tidak inklusif, yang dapat memecah belah persatuan. Tidak berhenti di sini, tapi saya berharap masih banyak kegiatan yang mengundang instansi atau mitra dari luar kedepannya,” harap Dr. Aris.
Sementara itu, H. Rizza Ali Faizin (Gus Reza) menekankan pentingnya moralitas dan kebiasaan tabayyun (verifikasi faktual) agar siswa tidak mudah terprovokasi oleh konten digital yang memecah belah.
“Apa pun agama dan aliran di Indonesia pasti mengajarkan kebenaran, kebaikan, jangan mudah terpecah belah, karena tidak ada satu pun ajaran yang membenarkan kekerasan, terus bertabayun,” tegas Gus Reza_sapaan akrabnya.
Di sisi teknis kewaspadaan, Farkhan memaparkan modus infiltrasi radikalisme modern yang menyasar anak SMP berprestasi melalui sarana digital modern. “Motifnya memilih anak yang pandai, dan biasanya masuk lewat game di Roblox,” ungkap Farkhan.
Farkhan menjelaskan, kelompok ekstremis seperti ISIS dan TCC kini bergerak lebih intelektual, termasuk memanipulasi pengajaran bahasa asing.
Ia juga merinci indikator siswa terpapar radikalisme, antara lain: disorientasi sejarah nasional (menolak sejarah lokal dan mengidolakan simbol asing seperti NAZI), peningkatan perilaku perundungan (bullying), serta keterjebakan sistemik dalam jaringan seperti LML yang sulit dilepas tanpa intervensi luar.
Di akhir materi, Farkhan mengingatkan pentingnya peran pengawasan orang tua di rumah serta menjaga etika.
“Harus menghindari yang sekiranya merugikan diri sendiri dan orang lain. Kalian calon pimpinan. Siapa tahu di antara kalian ada yang menjadi presiden dan gubernur. Harus ngajeni guru dan menghindari orang yang tidak berakhlak baik. Tawaduk akhlak ditata,” pesan Farkhan.
Ia juga mengingatkan regulasi gabungan BNN dan Polri mengenai larangan penggunaan rokok elektrik (vape) demi keselamatan para siswa dari zat adiktif.(mad)








