SURABAYA (RadarJatim.id) – Pameran seni rupa kontemporer Artsubs yang sedang berlangsung di Balai Pemuda Surabaya saat ini ternyata juga diikuti oleh kalangan yang dalam kesehariannya bukan dikenal sebagai seniman murni.
Sesuai dengan temanya: border (batas), treshold (ambang), dan beyond (seberang), maka kehadiran Andy Rahman tergolong kategori beyond karena dihasilkan oleh orang yang sehari-hari justru bukan berprofesi sebagai seniman murni.
“Arsitektur harus meminimalkan kerusakan lingkungan,” tegas pemilik Biro Andy Rahman Architect yang didirikan pada 2006 bersama Abdi Manaf ini.
Hal ini mengemuka dalam acara bertajuk Wicara Seniman – Andy Rahman di Artsubs, di selasar Balai Budaya Surabaya, Sabtu (3/10/2026) yang dimoderatori Asmudjo J. Irianto.
Alumnus ITS tahun 2004 ini menghadirkan karya bertajuk “Cakra Manggilingan” yang dipajang persis di pintu masuk ruang pamer. Nampak bangunan berupa tumpukan material mirip batu bata yang terpasang hampir melingkar, dengan bata-bata yang melayang-layang di bagian ruangan tengah.
Instalasi tersebut tidak sekadar menghadirkan bentuk visual, tetapi juga merepresentasikan hubungan manusia dengan alam semesta, hubungan sesama manusia, dan hubungan manusia dengan Tuhan. Filosofi Cakra Manggilingan mengingatkan bahwa kehidupan senantiasa berputar. Manusia tidak sepatutnya sombong ketika berada di atas dan tetap bersyukur ketika berada di bawah.
Peraih Nominasi ArchDaily Building of the Year ini mengakui bahwa keterlibatannya dalam pameran seni rupa merupakan pengalaman pertama. Ia melihat adanya perbedaan mendasar antara praktik arsitektur dan penciptaan karya seni. Menurutnya, arsitektur pada umumnya berangkat dari kebutuhan fungsi, sedangkan karya instalasi dalam ruang pameran memiliki orientasi yang lebih spesifik sebagai karya seni.
Andy Rahman mengembangkan eksplorasi material bangunan dengan memanfaatkan limbah plastik dan PVC sebagai alternatif bahan konstruksi masa depan. Karya tersebut menjadi salah satu bentuk pertemuan antara disiplin arsitektur dan seni rupa kontemporer. Tidak sekadar menghadirkan ekspresi visual, instalasi ini juga membawa gagasan tentang keberlanjutan lingkungan, pemanfaatan warisan tradisi Nusantara, serta hubungan manusia dengan alam.
Bagi Andy, keberlanjutan bukan sekadar persoalan memilih material, melainkan juga menyangkut cara seorang arsitek memperlakukan lingkungan dalam proses pembangunan. Ia berupaya menunjukkan kepada klien bahwa rancangan arsitektur seharusnya merespons kontur tanah dan mempertahankan objek alami yang telah ada di lokasi pembangunan.
Prinsip yang dipegang adalah selama manusia tidak mengeksploitasi alam secara berlebihan, bumi memiliki kemampuan untuk memulihkan dirinya sendiri.
Andy juga menekankan pentingnya kejujuran dalam penggunaan material. Menurutnya, nenek moyang memiliki kepekaan terhadap iklim dengan tidak berusaha melawannya, melainkan merespons kondisi alam melalui pemilihan dan penampilan material secara tepat.
Arsitektur, dengan demikian, harus bertumpu pada ketersediaan material serta pemberdayaan potensi lokal demi menjaga keberlanjutan. Pandangan tersebut sekaligus menempatkan arsitek pada posisi penting dalam sektor pembangunan. Sebab, keputusan desain dan pemilihan material memiliki konsekuensi langsung terhadap lingkungan. (rio)







