• Pasang Iklan
  • Redaksi
  • Contact
Sabtu, 3 Oktober 2026
No Result
View All Result
e-paper
Radar Jatim
  • Home
  • Bisnis
  • Hukum dan Kriminal
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Lifestyle
  • Contact
  • Home
  • Bisnis
  • Hukum dan Kriminal
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Lifestyle
  • Contact
No Result
View All Result
Radar Jatim
No Result
View All Result
Home Esai/Kolom

Pasar, Keragaman dan Arah Seni Rupa Kontemporer di Indonesia

by Radar Jatim
2 Oktober 2026
in Esai/Kolom
0
Ars Longa yang Patah, Generatio yang Terselamatkan ala Komunitas Padhang Njingglang

Arik S. Wartono

54
VIEWS

(Kritik atas Teks Kuratorial ARTSUBS 2026)

Oleh Arik S. Wartono

Sebagai catatan paling awal, saya harus menegaskan posisi saya. Saya secara pribadi sangat menginginkan ARTSUBS terus berlanjut. Dan, memang perlu terus berlanjut. Walau bagaimanapun, dalam tiga tahun terakhir, ARTSUBS sudah kadung menjadi pagelaran seni rupa kontemporer terbesar di Indonesia. Ini bukan hiperbola.

Mari kita bicara dengan data. Sejak pertama digelar pada 2024 di Pos Bloc Surabaya, ARTSUBS telah membawa 300 karya dari 154 seniman Indonesia. Edisi kedua pada 2025 di Balai Pemuda menghadirkan 130 seniman dan kolektif. Tahun ini, ARTSUBS 2026 kembali di Balai Pemuda dengan 113 seniman dan tujuh karya kolaborasi, menghadirkan sekitar 500 karya. Pameran ini berlangsung hampir dua bulan penuh, 19 September hingga 8 November 2026, dengan jam kunjung pukul 10.00 hingga 22.00 WIB.

Bandingkan dengan kiblat kita selama ini, ARTJOG. Pada ARTJOG 2024 misalnya, festival itu hanya menampilkan karya-karya dari 48 seniman dewasa individu maupun kelompok dari dalam dan luar negeri serta 36 seniman anak dan remaja. Total 84 seniman. Artinya dari segi skala fisik, terutama dalam hal jumlah seniman dan jumlah karya, ARTSUBS sudah melampaui ARTJOG dua hingga tiga kali lipat. ARTJOG boleh lebih dulu mapan secara wacana dan branding, tetapi dari segi kebesaran venue dan kerumunan karya, ARTSUBS adalah raksasa baru dalam pagelaran seni rupa kontemporer di Indonesia.

Namun, justru karena ia sudah kadung menjadi besar inilah, ia tidak boleh hanya dipuji-puji melulu. Pagelaran besar yang hanya dipuji akan menjadi tumpul dan tanpa arah yang berkualitas. Ia perlu kritik yang konstruktif, yang tajam tapi mencintai. Harapan saya sederhana: agar pagelaran besar ini tidak hanya membesar secara kuantitas, tapi juga mendalam secara kualitas. Agar ARTSUBS tidak hanya menjadi etalase besar dari apa yang sedang laku di pasar, tapi bisa menjadi ladang pembuka untuk sumbangsih wacana kepada dunia internasional. Sebuah pagelaran yang semestinya dunia tidak hanya melihat Indonesia, tapi belajar sesuatu dari Indonesia.

Dengan posisi itulah saya membaca teks kuratorial ARTSUBS 2026. Teks kuratorial yang terlalu rapi untuk sebuah medan yang seharusnya gaduh

Saya membaca teks kuratorial ARTSUBS 2026, “BATAS, AMBANG, DAN SEBERANG” yang ditulis Asmudjo J. Irianto dan Nirwan Dewanto, dengan dua perasaan yang bertolak belakang. Di satu sisi, ia adalah teks yang sangat indah, fasih, dan hampir sempurna secara akademis. Empat kategorisasi tentang batas yang dijaga, batas yang diperluas, batas yang diseberangi, dan batas yang dibuka adalah sebuah kerangka kerja kuratorial yang cerdas dan sangat membantu penonton untuk memahami kekusutan seni rupa hari ini.

Namun di sisi lain, justru kerapian itulah yang membuat saya curiga. Teks ini terlalu bersih. Terlalu damai. Ia menggambarkan perjumpaan sebagai sesuatu yang puitis, tempat batas-batas mengabur dan saling meresapi. Padahal di lapangan, yang terjadi dalam perjumpaan itu tidak selalu puitis. Yang terjadi adalah tabrakan kepentingan, tawar-menawar harga, dan negosiasi kuasa yang sangat kasar.

Sanento Yuliman, salah seorang kritikus seni rupa paling jernih yang pernah kita miliki, pernah mengingatkan dalam esai-esai awalnya: “Seni rupa adalah pertemuan antara yang tampak dan yang tak tampak.” Artinya, selalu ada yang disembunyikan di balik yang dipamerkan. Teks kuratorial yang indah ini adalah yang tampak. Yang tak tampak adalah logika pasar yang bekerja di bawahnya.

Inilah yang harus kita bicarakan pertama kali. ARTSUBS, yang sejak awal diposisikan sebagai sebuah proyek wacana, sebagai laboratorium seni rupa kontemporer di Surabaya, dalam dua tahun terakhir menunjukkan gejala yang tidak bisa ditutup-tutupi. Ia semakin cenderung menjadi art fair. Bahkan penyelenggara sendiri mengakui dalam konferensi pers bahwa ARTSUBS terus mengokohkan posisinya sebagai platform unik yang memadukan kedalaman artistik biennale dengan dinamika komersial art fair. Itu pengakuan jujur. Dan teks kuratorial yang begitu filosofis ini, jangan-jangan justru menjadi selubung estetis yang sangat indah untuk sebuah mekanisme pasar.

Saya tidak anti pasar. Seniman butuh hidup. Galeri butuh berputar. Tetapi, kita harus jujur menyebut nama. Jika memang orientasinya adalah art fair, katakanlah sebagai art fair yang cerdas. Jangan bersembunyi di balik jargon “ruang-antara” dan “resonansi yang bekerja pelan-pelan dalam jiwa-raga” sementara di dalam ruang pamer yang sesungguhnya terjadi adalah transaksi yang sangat materialistis.

Seperti dikatakan kritikus global Hal Foster, “The artist as ethnographer can easily become the artist as entrepreneur.” Seniman sebagai penjelajah batas bisa dengan mudah berubah menjadi seniman sebagai pengusaha batas.

Mitos “Proyek Merugi” yang Sudah Menjadi Komedi

Dan, di sinilah saya harus masuk ke kritik yang paling tajam, sekaligus paling sering dihindari karena dianggap tidak sopan. Kabarnya, penyelenggaraan ARTSUBS 1 dan 2, dan saya dengar gelagatnya di ARTSUBS 3 ini pun akan sama, selalu muncul narasi pengantar yang hampir ritual: “kami rugi”. Proyek ini merugi. Kami nombok.

Bahkan, kurator Nirwan Dewanto sendiri mengakui di media: “Realitasnya, penjualan karya hingga saat ini masih jauh dari cukup untuk menutup seluruh biaya penyelenggaraan ARTSUBS”. Saya harus katakan dengan lugas, hentikanlah narasi ini!

Alasan ini perlu kita kritisi secara khusus, karena wacana serupa juga selalu dilontarkan oleh pihak penyelenggara ARTJOG. Setiap tahun mereka mengaku rugi, tetapi penyelenggaraannya sudah sampai tahun ke-19. Logikanya sederhana saja. Jika sebuah proyek kesenian benar-benar merugi secara finansial, secara nalar bisnis yang paling dasar pun ia akan bubar maksimal di tahun ketiga atau mentok di tahun kelima. Tidak ada orang waras yang mau mengulang kerugian yang sama selama 19 kali berturut-turut.

Lalu mengapa ia tetap diulang? Karena ia tidak rugi. Atau setidaknya, ia rugi dalam pembukuan tertentu, tetapi untung besar dalam bentuk lain: akumulasi modal simbolik, jaringan, prestise, dan kuasa kultural. Inilah yang dalam ekonomi politik seni disebut sebagai konversi modal.

Maka, terus-menerus mengumbar wacana “rugi” sambil tetap menyelenggarakan acara besar secara periodik, lama-lama membuat eneg. Ia persis seperti wacana yang selalu dilontarkan oleh Pertamina dan PLN. Dua BUMN raksasa yang setiap tahun laporannya selalu merugi, tetapi anehnya direksi dan pejabat-pejabatnya selalu bertambah kaya-raya, dan perusahaannya tidak pernah bangkrut. Jika Pertamina dan PLN benar-benar rugi seperti yang mereka katakan, negara ini sudah lama gelap gulita dan tidak bisa bergerak. Tetapi faktanya justru tidak.

Jadi, wacana yang menentang nalar akal sehat seperti ini tidak perlu diterus-teruskan. Lebih bijaksana jika penyelenggara ARTSUBS berkata jujur: “Tahun ini kami belum balik modal secara finansial, tetapi kami mendapatkan keuntungan jejaring yang luar biasa,” atau “Kami sedang berinvestasi jangka panjang.”

Publik seni rupa Surabaya sudah cukup dewasa untuk memahami bahasa investasi. Yang tidak mereka butuhkan adalah drama melodrama kerugian yang dipelihara. Jim Supangkat pernah menyindir dengan pedas, “Pameran seni rupa kita sering kekurangan satu hal: kejujuran.”

Seni Rupa Kontemporer di Indonesia, Bukan Seni Rupa Kontemporer Indonesia

Kritik kedua saya adalah pada fondasi filosofis teks kuratorial itu sendiri, yang sebenarnya sangat global dan sangat Barat sentris. Teks itu menyebut “Seni kontemporer, dengan segala kelenturan dan kebebasannya, telah menjadi ruang .…” dan kemudian memetakan batas antara seni dan bukan-seni, antara keterampilan tangan dan kecerdasan buatan.

Kita harus berhenti sejenak di sini. Apa yang kita sebut sebagai Seni Rupa Kontemporer Indonesia itu sebenarnya problematik secara historis. Di dunia Barat, Eropa dan Amerika, Seni Rupa Kontemporer bisa dibaca sebagai sebuah antitesis, sebagai pemberontakan yang runtut terhadap Seni Rupa Modern. Mereka punya Modernisme yang mapan, dengan Greenberg, dengan Museum, lalu mereka hancurkan dengan Dada, Fluxus, dan Konseptualisme.

Pertanyaannya: Apakah Indonesia pernah punya Seni Rupa Modern yang mapan dalam pengertian Barat itu? Ataukah yang kita punya hanyalah riak-riak yang ikut arus Barat, dengan beberapa pengecualian seperti Persagi dan beberapa sanggar? Jika Modernisme kita saja masih problematik dan belum selesai didefinisikan, bagaimana mungkin kita melompat dan mengklaim memiliki Seni Rupa Kontemporer Indonesia yang otonom?

Maka lebih masuk akal, lebih jujur secara intelektual, dan lebih rendah hati jika kita menggunakan istilah “Seni Rupa Kontemporer di Indonesia”. Sebuah fenomena yang terjadi di wilayah geografis bernama Indonesia, bukan sebuah entitas gaya yang lahir dari rahim sejarah Indonesia sendiri.

Dan, di titik inilah masalah kurasi ARTSUBS menjadi krusial. Dalam pemilihan karya, kita tidak boleh terjebak pada selera kurator, tidak terjebak pada fetish media baru, tidak sok-sokan menjadi kontemporer hanya karena misalnya memakai video atau AI (syukurlah pada ARTSUBS 3, tentang karya video dan AI lebih minim untuk ditampilkan), atau lebih parah lagi karena pesanan sponsor. Buat apa? Jika hanya itu, maka ARTSUBS hanya akan menjadi katalog tren.

Yang perlu dipertimbangkan adalah menengok lebih jauh pada pertumbuhan “seni yang lain (pinggiran?)”. Seni yang hidup di luar kanon wacana, yang lebih fleksibel dalam menghadapi perubahan karena ia tidak punya beban citra untuk dijaga. Justru di area itulah kita mungkin bisa lebih melihat dengan jernih bagaimana ekspansi mindset western bekerja dengan paradigma yang ambigu: di satu sisi berteriak ingin penguatan identitas lokal, tetapi di sisi lain terjebak memproduksi karya-karya yang merupakan produk massal yang repetitif, seragam, dan gampang dijual. Motif batik yang sekadar ditempel di atas resin, wayang yang dibuat neon, keris yang diberi lampu LED. Itu bukan dialog, itu hanya tempelan.

Ini adalah soal politik kebudayaan, bukan soal anut grubyuk pada pencitraan yang “ngotemporer“. Jika ARTSUBS ingin menjadi besar secara wacana, ia harus berani mengambil posisi politik kebudayaan ini. Berani menolak karya yang hanya kontemporer secara kulit, tetapi kosong secara gagasan. Berani memberi ruang lebih besar pada seniman-seniman “agaik lain” yang mungkin tidak instagramable, tetapi jujur sedang bergulat dengan proses kreatif dan identitasnya.

Mengapa pembedaan ini penting? Karena ini akan menentukan arahnya. Jika kita merasa sudah punya Seni Rupa Kontemporer Indonesia, maka tugas kita hanyalah mengikuti apa yang sedang tren di global. Ketika global sedang memuja “ketidakbergunaan” seperti karya Maurizio Cattelan berjudul Comedian tahun 2019, yakni sebuah pisang segar yang ditempel ke dinding dengan lakban dan laku 120.000 dolar, maka kita pun akan latah mengeksplorasi ketidakbergunaan serupa. Seniman kita mungkin akan membuat pisang ditempel di atas cobek, lalu menyebutnya dekonstruksi.

Boris Groys, filsuf seni kontemporer global, sudah mengingatkan fenomena ini dengan sangat telanjang: “Contemporary art has become a form of mass cultural production of the new, where the new is no longer new, but merely useless.” Seni kontemporer telah menjadi produksi massal atas yang baru, di mana yang baru itu tidak lagi baru, melainkan hanya tidak berguna.

Padahal, ekspresi kebudayaan leluhur kita tidak pernah mengenal ketidakbergunaan. Nenek moyang kita selalu mempertanyakan prinsip migunani, prinsip kebermanfaatan. Bahkan pada ekspresi budaya yang paling bersifat klangenan, kesenangan pribadi yang hampir tanpa tujuan, seperti merawat perkutut atau keris, selalu ada dimensi lelaku, ada dimensi etika, ada dimensi kosmologi yang membuatnya berguna untuk menata batin. Batik tidak pernah dibuat hanya untuk pajangan. Wayang tidak pernah dibuat hanya untuk jadi objek. Subak di Bali bukan sekadar sistem irigasi, tapi sistem religi.

Ki Hajar Dewantara pernah merumuskan dengan sangat indah tentang kebudayaan kita: “Kebudayaan adalah buah budi manusia yang adalah hasil perjuangan manusia terhadap dua pengaruh kuat: alam dan zaman.” Artinya kebudayaan selalu berguna untuk menjawab tantangan alam dan zaman. Dan budayawan kontemporer kita, Hilmar Farid, menegaskan kembali: “Tradisi bukanlah barang antik yang disimpan di museum, melainkan pengetahuan yang hidup untuk memecahkan masalah hari ini.”

Jika keragaman yang kita eksplorasi di ARTSUBS 2026 hanya mengikuti ketidakbergunaan ala Cattelan itu, maka kita sedang melakukan bunuh “diri kultural”. Kita melepaskan akar migunani kita demi tepuk tangan sesaat dari pasar global yang memang sedang mabuk dengan absurditas.

Mandat yang Tak Bisa Dipikul Sendiri

Teks kuratorial ARTSUBS 2026 menutup dengan harapan yang sangat indah: agar seni kontemporer menjadi simpul dalam jaringan makna yang lebih luas, agar rasa penasaran beririsan dengan penghiburan. Itu harapan yang mulia. Tetapi harapan itu tidak akan pernah tercapai jika beban itu dipikul sendirian oleh sebuah event organizer seni, apalagi yang ngakunya rugi melulu.

Diperlukan sebuah kerja sama yang strategis dan konstruktif antara ARTSUBS dengan pihak-pihak perguruan tinggi di Jawa Timur, khususnya di Surabaya. Kita punya Unesa dengan pendidikan seninya yang punya sejarah panjang, kita punya UK Petra dengan desainnya, ITS dengan teknologinya, Unair dengan kajian budayanya, dan tentu saja Universitas Brawijaya (UB), Universitas Ciputra, dll.

Selama ini hubungan antara art event dengan kampus hanya bersifat seremonial: kampus diminta mengirim mahasiswa untuk jadi volunteer atau pengunjung, atau paling banter diskusi pemantas agenda.

Padahal Wakil Dekan I FBS Unesa sendiri, Prof Dr Anas Ahmadi, sudah memberi sinyal: ARTSUBS bergerak sebagai wadah seni kontemporer yang dapat menaungi dunia seni, bahkan pendidikan yang tidak hanya dari rumpun seni, sehingga dapat menyegarkan ekosistem seni di Surabaya.

Kritik-saran yang saya tawarkan adalah mandat riset yang mendalam. ARTSUBS harus berani datang ke rektorat dan berkata: Mari kita riset bersama, apa sebenarnya arah seni rupa kontemporer di Indonesia yang bisa kita tawarkan sebagai sumbangsih pemikiran kepada dunia?

Bangsa ini punya keris, yang diakui UNESCO sebagai mahakarya. Punya batik, punya wayang, punya subak, dan ratusan ekspresi budaya rupa lain yang telah memberi kontribusi penting bagi kekayaan peradaban dunia. Itu semua lahir bukan dari iseng, tapi dari riset estetik yang panjang oleh para empu dan leluhur. Seperti kata para Empu: “keris tidak dibuat dalam sehari, ia ditempa dalam laku puasa dan pengetahuan tentang besi, api, dan doa.”

Maka, mestinya era kontemporer kita juga mampu memberikan sumbangsih yang setara. Bukan hanya mengimpor pisang dilakban, tapi mengekspor konsep migunani sebagai antitesis dari kemubaziran seni global. Arthur Danto pernah mengatakan “The end of art is the beginning of philosophy.” Akhir dari seni adalah awal dari filsafat. Maka ARTSUBS harus berhenti hanya memamerkan benda, dan mulai memamerkan filsafat yang lahir dari benda-benda itu.

Pekerjaan riset sebesar ini tidak adil jika mandat moral-etisnya hanya dibebankan kepada ARTSUBS. Apalagi jika ARTSUBS terus membangun citra diri sebagai “korban yang merugi”. Kampus punya sumber daya intelektual, punya laboratorium, punya mahasiswa pascasarjana yang haus akan topik disertasi. ARTSUBS punya panggung, punya jaringan seniman, punya pasar. Pertemuan keduanya adalah perjumpaan yang sesungguhnya, bukan perjumpaan metaforis seperti yang tertulis di teks kuratorial.

Jika itu terjadi, maka tema Batas, Ambang, dan Seberang akan menemukan makna yang paling konkret. Batas antara kampus dan pasar diseberangi. Ambang antara tradisi dan teknologi dilewati. Dan, kita akhirnya bisa benar-benar melangkah ke seberang, bukan hanya membayangkan seberang dari dalam ruang pamer yang ber-AC.

Surabaya tidak butuh art fair lain yang dibungkus jargon. Surabaya butuh sebuah proyek kebudayaan yang berani berpikir jauh, yang jujur soal modal, dan yang rendah hati untuk kembali belajar dari kampusnya sendiri. Karena hanya dengan itulah, kebesaran ARTSUBS secara fisik akan sebanding dengan wacananya. [*]

Gresik, 2 Oktober 2026

*) Arik S. Wartono, Pendiri Sanggar DAUN, tinggal di Gresik, Jawa Timur.

Tags: ArtSubs 2026Keragaman dan ArahKontemporerPasar Seni Rupa

Related Posts

Nyoman Nuarta: Gagasan Besar Harus Diperjuangkan

Nyoman Nuarta: Gagasan Besar Harus Diperjuangkan

by Radar Jatim
21 September 2026
0

SURABAYA (Radarjatim.id) - Bagi pematung...

Surabaya Simpul Percakapan Seni Kontemporer

Surabaya Simpul Percakapan Seni Kontemporer

by Radar Jatim
15 September 2026
0

SURABAYA (RadarJatim.id) — Surabaya tidak...

Surabaya Masih di Pinggir Medan Seni Rupa Indonesia?

Surabaya Masih di Pinggir Medan Seni Rupa Indonesia?

by Radar Jatim
12 September 2026
0

SURABAYA (RadarJatim.id) -  Mengapa peta...

Load More
Next Post
SD Negeri Dukuh Tengah Lestarikan Budaya Jawa Melalui Program ‘JULIJA’

SD Negeri Dukuh Tengah Lestarikan Budaya Jawa Melalui Program ‘JULIJA’

Radar Jatim Video Update

Berita Populer

  • Tangis Haru Mewarnai Suasana Penjemputan Siswa SMA Negeri 1 Wonoayu

    Tangis Haru Mewarnai Suasana Penjemputan Siswa SMA Negeri 1 Wonoayu

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Soft Launching KM Dharma Kencana V, Fasilitas Mewah Berkapasitas 1.400 Penumpang

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ribuan Warga Padati Alun-alun Tugu Malang, Dukung MBG Menuju 82 Juta Penerima Manfaat

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ribuan Warga Doakan Keluarga Besar SMK Antartika 2 Sidoarjo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Analisis Semantik Puisi ‘Aku Ingin’ Karya Sapardi Djoko Damono

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Radar Jatim adalah media online Jatim yang memberikan informasi peristiwa dan berita Jawa Timur dan Surabaya terkini dan terbaru.

Kategori

  • Artikel dan Opini
  • Ekonomi Bisnis
  • Ekosistem Lingkungan
  • Esai/Kolom
  • Feature
  • Finance
  • HAM
  • Hukum dan Kriminal
  • Infrastruktur
  • Kamtibmas
  • Kemenkumham
  • Kesehatan
  • Ketenagakerjaan
  • Komunitas
  • Kuliner
  • Lain-lain
  • Layanan Publik
  • Lifestyle
  • Literasi
  • Nasional
  • Olah Raga
  • Ormas
  • Otomotif
  • Pariwisata
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Peristiwa
  • Pertanian
  • Peternakan
  • pinggiran
  • Politik
  • Religi
  • Sastra/Budaya
  • Sosial
  • Tekno
  • TNI
  • TNI-Polri
  • Transportasi
  • video
  • Wisata

Kami Juga Hadir Disini

© 2020 radarjatim.id
Susunan Redaksi ∣ Pedoman Media Siber ∣ Karir

No Result
View All Result
  • Home
  • Politik
  • Hukum dan Kriminal
  • Nasional
  • Lifestyle
  • Tekno
  • Ekonomi Bisnis
  • Artikel dan Opini

© 2020radarjatim.id

Login to your account below

Forgotten Password?

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In