SIDOARJO (RadarJatim.id). Masyarakat Sidoarjo saat ini dibuat resah atas naiknya harga minyak goreng termasuk minyakkita yang harganya diatas harga eceran tertinggi (HET). Jika selama ini HET minyakkita Rp 15.700 perliter kini di pasaran dijual sekitar Rp 21 ribu hingga Rp 22 ribu perliter.
Lonjakan harga ini dikeluhkan para konsumen dan berharap agar pemerinah turun tangan mengatasi mahalnya migor minyakkita. Para pembeli mengeluh jika saat ini selain sulit mendapatkan migor, harganya juga naik drastic.
Untuk memastikan kondisi dilapangan terkait kelangkaan dan mahalnya migor minyakkita, Ketua Kelompok Fraksi (Kapoksi) Komisi II DPR RI Fraksi Partai Gerindra, Ir.H.Bambang Haryo Soekartono (BHS) langsung turun ke lokasi. BHS datang meninjau harga di Pasar Krian, Krian, Kabupaten Sidoarjo, Selasa (21/4/2026).
Bambang Haryo menyatakan, harga minyak goreng yang mencapai Rp 21.000 hingga Rp 22 ribu liter jauh melampaui HET yang sudah ditetapkan pemerinah sebesar Rp 15.700 perliter. Kondisi ini tidak sejalan dengan posisi Indonesia sebagai salah satu produsen kelapa sawit terbesar di dunia.
“Tidak ada alasan minyak goreng langka dan mahal di dalam negeri, karena kita adalah produsen sawit terbesar,” kata BHS di sela kunjungan di Pasar Krian, Selasa (21/4/2026).
Dewan Pakar DPP Partai Gerindra ini juga menyoroti lemahnya pengawasan terhadap distribusi dan harga komoditas strategis sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2014 tentang Perdagangan. Pemerintah melalui Satgas Pangan dan Kementerian Perdagangan harus segera turun tangan untuk memastikan stabilitas pasokan dan harga di lapangan.
“Satgas Pangan harus segera mengecek kondisi di daerah, jangan sampai masyarakat dirugikan akibat kelangkaan dan lonjakan harga,” tegasnya.
BHS menyampaikan alasan kenaikan harga akibat biaya kemasan plastik dinilai tidak logis. Sebab kontribusi biaya plastik terhadap harga minyak goreng relatif kecil, sehingga tidak bisa menjadi pembenaran kenaikan signifikan.
“Komponen plastik itu paling hanya sekitar 2 sampai 5 persen dari harga. Jadi tidak rasional kalau dijadikan alasan kenaikan hingga ribuan rupiah,” terangnya.
Founder BHS Peduli ini meminta adanya transparansi dalam rantai produksi hingga distribusi minyak goreng. Termasuk perlunya pengawasan menyeluruh mencegah praktik permainan harga di tingkat produsen maupun distributor.
“Kalau perlu, lakukan audit dari hulu ke hilir agar harga bisa dikendalikan sesuai HET dan pasokan tetap terjaga,” pungkasnya.
Dari pantauan di Pasar Krian, kendati hargga migor mengalami kenaikan namun untuk komoditas lainnya mengalami penurunan, seperti harga gula, bawang merah hingga harga beras yang sudah stabil.
Sementara itu, salah satu tokoh pedagang H Sholeh mengatakan harga migor minyakkita penjualannya memang naik drastis diatas HET yang ditetapkan pemerintah. Konsumen juga mengeluhkan kenaikan harga ini.
“Atas keluhan ini kami langsung menyampaikan aspirasi ke Pak BHS. Dan hari ini beliau hadir di Pasar Krian. Harapan kami harga bisa kembali normal dan sesuai dengan HET yang sudah ditetapkan pemerintah,” kata H Sholeh. (RJ1)







