SURABAYA (RadarJatim.id) — Universitas Negeri Surabaya (Unesa) menggandeng Asosiasi Peneliti Bahasa, Sastra, dan Budaya (Apebskid) untuk menggelar The 3rd Apebskid International Conference on Multidisciplinary Studies (AICoMS 3) di Graha Utama, BBMPP Jawa Timur, Surabaya, 18-20 September 2026.
Konferensi internasional yang menghadirkan pembicara dari Indonesia, Jepang, Austria, Jerman, dan China ini menjadi bagian dari rangkaian perayaan Dies Natalis ke-62 Unesa dan mengusung tema “Embedding the SDGs into Culture, Language, Literature, Communication, Arts, and Design for a Digital Age“.
Rektor Unesa, Prof Dr Nurhasan, MKes, dalam sambutan pembukaannya yang dibacakan Dekan FBS Syafiul Anam, PhD, menegaskan, konferensi ini bukan sekadar agenda tahunan, melainkan hadiah ilmiah Unesa dan Apebskid bagi dunia.
“Ini menegaskan komitmen kami untuk tetap selangkah di depan dalam menjawab tantangan global,” ujarnya, Jumat (18/9/2026).
Ia menekankan, pembangunan berkelanjutan tidak dapat dicapai hanya melalui pendekatan ekonomi dan teknologi. Dimensi lunak pembangunan manusia –budaya, bahasa, sastra, komunikasi, seni, dan desain- adalah tempat nilai-nilai kemanusiaan hidup dan bernapas.
“Perubahan iklim, ketimpangan sosial, perdamaian, dan keadilan berakar pada cara pandang, etika, dan narasi yang dibentuk oleh bidang-bidang tersebut. Kita tidak sedang membicarakan hal yang marginal—kita sedang membicarakan jantung peradaban,” tegasnya.
Nurhasan juga menegaskan relevansi tiga nilai inti Unesa dalam mendukung agenda SDG. Pertama, Growing with Character, yang berarti Unesa tidak hanya menghasilkan lulusan terampil, tetapi juga individu berkarakter, berkesadaran sosial, etika, dan komitmen terhadap keberlanjutan. Kedua, Satu Langkah di Depan, di mana Unesa memilih memimpin di era disrupsi digital. Ketiga, Bersama Bisa Bekerjasama, dengan menggandeng Apebskid sebagai bukti hidup berbagi tujuan.
Sementara itu, Ketua Panitia AICoMS 3, Dr Drs Much. Khoiri, MSi, dalam laporannya menyampaikan, bahwa konferensi ini diikuti oleh 200 peserta luring yang terdiri atas para akademisi, peneliti, guru, mahasiswa, praktisi, seniman, desainer, dan aktivis sosial dari berbagai penjuru negeri. Makalah, lanjutnya, dipresentasikan dalam enam subtema: Budaya, Sastra, Bahasa, Komunikasi, Seni, dan Desain.
Kehadiran mereka bukan hanya untuk memenuhi agenda ilmiah, melainkan juga sebagai wujud nyata kecintaan dan kebanggaan terhadap organisasi profesi Apebskid. Semangat kekeluargaan dan loyalitas terhadap organisasi terlihat jelas dalam setiap sesi, baik pleno maupun paralel.
Menurut Khoiri, untuk memperkuat komitmen mewujudkan SDG dalam kajian subtema tersebut, konferensi juga menginisiasi peluang kolaborasi antar-institusi dan antara institusi dengan Apebskid.
“Kami menyediakan MoU Corner untuk memfasilitasi peserta untuk membangun kerjasama di berbagai bidang multidisiplin. Diharapkan, kolaborasi penguatan integrasi SDG ini berdampak besar bagi masyarakat, dan memberikan manfaat, balik untuk Unesa sendiri dan Apebskid di masa depan,” pungkasnya. (sha)







