SIDOARJO (RadarJatim.id) — Para guru dan kepala sekolah di Kabupaten Sidoarjo menyatakan komitmennya untuk mematuhi arahan Bupati Sidoarjo agar kegiatan Outing Class atau Outdoor Learning (ODL) tidak dilakukan terlalu jauh.
Pemerintah Daerah mengimbau agar kegiatan ODL diprioritaskan di dalam wilayah Sidoarjo dengan memanfaatkan potensi dan wisata kearifan lokal.
Namun, pelaksanaan imbauan tersebut menghadapi kendala di lapangan. Sejumlah tenaga pendidik mengeluhkan minimnya fasilitas sarana dan prasarana di objek wisata lokal yang dinilai belum layak dan belum memenuhi syarat sebagai destinasi edukasi anak-anak.
Keluhan tersebut mengemuka dalam acara Bedah Buku Kearifan Lokal yang diselenggarakan pada Senin (19/10/2026) siang di Gedung Bolam Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Sidoarjo. Turut dihadiri oleh jajaran Komisi D DPRD Sidoarjo, di antaranya M. Dhamroni Chudlori dan Suradji.
Menanggapi keluhan para pendidik, Anggota Komisi D DPRD Sidoarjo, M. Dhamroni Chudlori, menegaskan dukungannya terhadap kebijakan Bupati, namun dengan catatan perbaikan sarana secara menyeluruh.
“Saya akan lebih sepakat mendukung Pak Bupati bahwa ODL di Sidoarjo saja, ketika sarana-sarana untuk anak-anak itu terpenuhi,” ungkap Dhamroni di hadapan peserta bedah buku.
Ia menyoroti beberapa objek wisata dan situs sejarah lokal yang aksesnya masih dinilai kurang memadai untuk rombongan siswa. Salah satunya adalah akses menuju Candi Pari di Porong yang terbilang sempit sehingga menyulitkan bus rombongan sekolah.
Dhamroni menambahkan bahwa Sidoarjo sebenarnya memiliki kekayaan destinasi wisata berbasis warisan budaya (heritage) serta latar belakang sejarah lokal yang sangat potensial untuk digali.
Ia menyebutkan beberapa potensi seperti eks pabrik gula heritage di Tulangan dan Watu Toelis, potensi wisata kawasan Tanggulangin, hingga keunikan nama-nama desa yang memiliki nilai historis dan filosofi tinggi, seperti Desa Bokong Duwur dan Bokong Nisor.
“Sidoarjo itu punya potensi besar. Kenapa ada nama Desa Bokong Duwur dan Bokong Nisor ? Itu pasti ada asal-usul dan nilai filosofinya. Hal-hal seperti ini yang harus digali betul untuk memperkaya literasi dan bisa dikemas menjadi daya tarik cerita lokal yang menarik,” katanya.
Guna mewujudkan destinasi wisata lokal yang layak dan aman bagi kegiatan ODL siswa, Dhamroni mendorong Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait untuk berani mencantumkan program pengembangan dalam DPA (Dokumen Pelaksanaan Anggaran).
Ia memastikan bahwa DPRD Sidoarjo melalui Badan Anggaran (Banggar) siap memberikan dukungan anggaran apabila program tersebut sudah tercantum dalam perencanaan dinas. “Kalau program ini penting untuk kebutuhan masyarakat dan anak-anak kita, cantumkan saja di DPA. Berapa pun anggarannya, yang penting ada ‘cantolannya’. Tugas kami di Banggar nanti yang akan menambahkan kekurangannya sesuai kebutuhan,” tegas Dhamroni.
“Dengan adanya sinergi antara kebijakan Pemkab, dukungan anggaran DPRD, serta pengemasan literasi sejarah lokal yang kreatif, diharapkan tempat-tempat kearifan lokal di Sidoarjo segera siap menjadi destinasi ODL yang layak, edukatif, dan aman bagi siswa,” harap politisi PKB ini.(mad)







