SIDOARJO (RadarJatim.id) – Ketua Kelompok Fraksi (Kapoksi) Komisi VII DPR RI Fraksi Partai Gerindra, Ir.H.Bambang Haryo Soekartono, M.I.Pol (BHS) disambati pelaku usaha kerupuk di Tulangan terkait harga tepung yang naik drastis. Biasanya harga tepung dijual dikisaran Rp 6 ribu sampai Rp 10 ribu, kini naik menjadi Rp 16 ribu perkilogramnya.
Kenaikan harga bahan baku itu membuat pelaku usaha mengurangi frekuensi produksi karena kenaikannya tidak sebanding dengan harga jual kerupuk. Hal itu terungkap saat BHS meninjau industri kerupuk UD Purnama milik Nur Saidah di Sidoarjo. Industri itu memiliki kapasitas produksi sekitar 1,7 ton kerupuk per hari, tetapi kini menghadapi tekanan biaya produksi akibat kenaikan harga tepung tapioka.
Dewan Pakar DPP Partai Gerindra ini menyampaikan harga tepung tapioka yang sebelumnya berkisar Rp 6.000 per kilogram kini mencapai Rp16.000 per kilogram. Menurut dia, kenaikan tersebut perlu ditelusuri karena tapioka berbahan baku singkong yang dapat dibudidayakan di dalam negeri.
“Dalam waktu enam bulan, harga tepung tapioka naik dari Rp 6.000 menjadi Rp 16.000 per kilogram. Ini kenaikan yang sangat signifikan. Saya akan menanyakan persoalan ini kepada Kementerian Perdagangan dan Kementerian Pertanian,”ujar BHS, Kamis (22/10/2026).
Dikatakan, kenaikan harga bahan baku tersebut perlu mendapat perhatian pemerintah karena berpotensi mengganggu keberlangsungan industri pangan skala kecil dan menengah. Untuk itu BHS berencana menelusuri kondisi industri pengolahan tapioka, termasuk pabrik di Lampung, untuk mengetahui penyebab kenaikan harga di tengah ketersediaan bahan baku singkong di dalam negeri.
Pihaknya juga mendorong koordinasi Kementerian Perdagangan, Kementerian Pertanian, Satgas Pangan, dan Badan Pangan Nasional untuk menelusuri rantai pasok serta mencari langkah pengendalian harga. Menurut dia, kerupuk merupakan produk pangan yang banyak dikonsumsi masyarakat sehingga stabilitas pasokan dan harga bahan bakunya perlu dijaga.
Sementara itu, pemilik industri kerupuk, Nur Saidah, menyampaikan akibat kenaikan harga tepung tapioka berdampak langsung pada jadwal produksi dan aktivitas karyawan. Jika sebelumnya produksi dapat berjalan penuh selama sepekan, kini kegiatan produksi hanya berlangsung sekitar tiga hingga empat hari.
“Biasanya satu minggu bisa produksi penuh. Sekarang hanya tiga atau empat hari. Kasihan karyawan kalau terus-menerus diliburkan,” ujar Nur Saidah.
Dikatakan, harga jual kerupuk belum dapat dinaikkan secara sebanding dengan lonjakan harga bahan baku. Pelaku usaha harus mempertimbangkan kemampuan konsumen sekaligus menjaga agar produksi tetap berjalan. Kondisi ini membuat beban biaya semakin berat dan ruang usaha untuk mempertahankan jumlah produksi semakin terbatas. (RJ)








