SIDOARJO (RadarJatim.id) — Tim INOVASI (Inovasi untuk Anak Sekolah Indonesia) perupakan program kemitraan pemerintah Indonesia dan Australia dalam bidang pendidikan telah melaksanakan kunjungan ke sejumlah lembaga pendidikan untuk menjalankan riset aksi partisipatif (Participatory Action Research).
Prosesi kunjungan kali ini kedua satuan pendidikan, yakni SD Negeri Permisan di Jabon dan MI Darul Mutaqin di Kecamatan Taman Sidoarjo, pada (27/10/2026) pagi.
Menurut Provincial Manager INOVASI Jawa Timur M. Andri Budi menjelaskan kalau kegiatan penelitian partisipatif ini berfokus pada evaluasi dan pemetaan layanan pendidikan inklusif melalui tiga rangkaian kegiatan utama. Yaitu Observasi kelas dan penggalian data, Penilaian Accessbilitas, serta FGD dan wawancara.
“Mereka mengamati langsung proses pembelajaran di kelas 2 untuk melihat interaksi serta partisipasi peserta didik dengan hambatan fungsional. Kegiatan ini melibatkan pendamping seperti Bu Made dari HWDI, Bu Kusumalawatoni, dan Pak Agus,” jelasnya.
Jadi tim ini melakukan tinjauan lapangan untuk menilai tingkat aksesibilitas fasilitas dan sarana-prasarana bagi anak-anak dengan hambatan fungsional. “Secara umum, ditemukan bahwa beberapa fasilitas gedung belum ramah disabilitas, seperti bangunan dua lantai di MI Darul Mutaqin yang masih menggunakan tangga berisiko serta keberadaan balok plafon yang terlalu rendah,” ungkapnya.
Lanjutnya, dari kunjungan kedua lokasi tersebut, berikutnya dilakukan diskusi kelompok terarah digelar bersama kepala sekolah, guru, peserta didik, serta orang tua murid. Dalam sesi ini, orang tua siswa berbagi cerita secara lugas mengenai pengalaman serta tantangan menyekolahkan anak-anak dengan hambatan fungsional di madrasah.

Menurutnya, salah satu hal menonjol yang ditemukan di MI Darul Mutaqin adalah tingginya tingkat kepercayaan masyarakat. Banyak orang tua dengan anak berkebutuhan khusus yang telah mendaftar (inden) hingga dua tahun ke depan. “Saat ini, madrasah tersebut menampung lebih dari 30 siswa bertalenta khusus dari total sekitar 290 siswa, yang berarti proporsi siswa inklusi telah melebihi 10 persen,” terang Pak Adri_sapaan akrabnya.
Melalui kegiatan Participatory Action Research ini, diharapkan para rekan pendamping/peneliti (Optis) memiliki pemahaman dan kemampuan yang memadai dalam mengambil data kondisi nyata di lapangan.
“Terakhir mereka akan menganalisis data kebutuhan pendidikan inklusif. Menyajikan dan menyerahkan data hasil penelitian kepada para pemangku kepentingan/pembuat kebijakan sebagai dasar advokasi perbaikan layanan pendidikan inklusif ke depan,” pungkas Pak Adri.(mad)








