Oleh M. Ubaidillah Abdi
Tepat pada 2 Mei 2026 hari ini, di bawah naungan peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas), kita disuguhi tontonan ironi yang memilukan di rumah kita sendiri, Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Pasuruan. Di luar sana, orang-orang merayakan kebebasan belajar dan kemerdekaan berpikir. Di sini, kita justru sedang melawan kebobrokan birokrasi yang mencoba membunuh nalar kritis mahasiswanya sendiri melalui janji palsu dan intimidasi.
Mari kita putar kembali ingatan kita pada tepat satu tahun yang lalu, di tahun 2025. Sebuah audiensi resmi antara BEM UNU dan birokrasi kemahasiswaan telah menyepakati sebuah komitmen penting: seluruh pagu anggaran Organisasi Mahasiswa (Ormawa) akan dicairkan secara penuh dan tunai (cash). Kesepakatan ini terekam jelas, bukti videonya masih ada sampai hari ini, menjadi monumen kebohongan yang terus kita rawat ingatannya.
Hingga opini ini ditulis, sepeser pun hak mahasiswa tidak pernah dicairkan. Namun, kejahatan birokrasi tidak berhenti pada penggelapan janji. Ketika pengurus BEM UNU menuntut haknya, birokrasi justru merespons dengan cara-cara represif. Intimidasi ditebarkan ke seluruh jajaran pengurus. Tekanan psikologis dan ancaman ini pada akhirnya membuahkan hasil yang diinginkan penguasa kampus: roda organisasi BEM UNU dibuat mandek, lumpuh oleh ketakutan yang disuntikkan secara sistematis.
Birokrasi mungkin merasa menang. Mereka mengira dengan mengintimidasi struktur formal BEM, suara mahasiswa akan mati dan kebobrokan mereka akan tertutupi. Mereka salah besar!
Pendidikan telah mengajarkan, bahwa ketika satu wadah dibungkam, kebenaran akan selalu mencari jalan keluarnya sendiri. Karena BEM UNU dibuat lumpuh secara struktural, saya bersama kawan-kawan mahasiswa yang masih merawat kewarasan dan kesadaran, memilih untuk tidak tinggal diam. Ketakutan itu kami ubah menjadi bahan bakar perlawanan baru dengan membentuk Aliansi Mahasiswa UNU.
Aliansi ini adalah bukti nyata, bahwa mematikan BEM tidak sama dengan mematikan mahasiswa. Aliansi Mahasiswa UNU hadir sebagai wadah alternatif, sebuah barisan yang tidak terikat oleh sangkar birokrasi yang penuh ancaman. Kami berdiri bersama, menyatukan setiap elemen mahasiswa yang muak dengan penindasan di dalam kampus berlabel Nahdlatul Ulama ini.
Hardiknas tahun ini adalah deklarasi perlawanan. Melalui Aliansi Mahasiswa UNU, kami akan terus menagih janji anggaran yang menguap dan melawan segala bentuk intimidasi. Kampus ini milik mahasiswa, bukan milik segelintir birokrat arogan yang antikritik.
Video itu masih ada, janji itu masih berutang, dan kini, barisan mahasiswa sadar telah berlipat ganda. Selamat Hari Pendidikan Nasional. BEM boleh mandek, tapi mahasiswa akan terus bergerak! {*}
*) M. Ubaidillah Abdi, Presiden Mahasiswa UNU Pasuruan dan Koordinator Aliansi BEMPAS Raya.







