“Jika Surabaya hari ini dikenal sebagai kota yang berhasil mempertahankan kehidupan kampung di tengah modernisasi, maka di balik cerita itu terdapat jejak pemikiran Prof. Johan Silas. Ia tidak sekadar membangun kota, tetapi membangun cara pandang tentang bagaimana sebuah kota seharusnya memperlakukan warganya.”
Senin (8/6/2026) dini hari, saya menerima kabar duka, Prof Johan Silas meninggal dunia. Kabar itu mengagetkan saya. Jumpa saya terakhir dengan beliau pada akhir Januari 2026 lalu. Niatnya untuk menyiapkan biografi beliau sempat tertunda. Pesan beliau melalui WhatsApp: Mas Kemi nanti kita janjian untuk ketemuan lagi, saya masih diminta untuk istirahat oleh dokter setelah tadi malam kontrol.”
Rencana tinggal rencana, niat untuk membuat biografi Johan Silas untuk memasuki usia beliau 90 tahun pada 24 Mei lalu belum terealisasi. Tuhan lebih menyayangi Pak Silas –demikian saya biasa memanggil– untuk menghadap ke pangkuan-Nya.
Kepergian Prof. Johan Silas tidak hanya meninggalkan duka bagi dunia akademik, tetapi juga bagi jutaan warga kota yang mungkin tidak pernah mengenalnya secara langsung, namun merasakan manfaat dari gagasan-gagasannya. Namanya lekat dengan Program Perbaikan Kampung (KIP) di Surabaya, sebuah pendekatan pembangunan kota yang menempatkan warga sebagai subjek, bukan objek pembangunan. Di saat banyak kota di dunia memilih menggusur permukiman rakyat demi modernisasi, Johan Silas menawarkan jalan berbeda: memperbaiki kampung tanpa menghilangkan kehidupan sosial yang telah tumbuh di dalamnya.
Melalui pemikiran, penelitian, dan keterlibatannya bersama Pemerintah Kota Surabaya, Prof. Johan Silas membantu membangun paradigma bahwa kampung bukan masalah yang harus disingkirkan, melainkan aset kota yang harus ditingkatkan kualitas lingkungannya. Perbaikan jalan kampung, drainase, sanitasi, dan fasilitas umum dilakukan dengan melibatkan masyarakat setempat sehingga tercipta rasa memiliki dan keberlanjutan. Pendekatan ini kemudian menjadi rujukan nasional bahkan mendapat pengakuan internasional sebagai salah satu model penataan permukiman berbasis masyarakat yang berhasil.
Warisan terbesar Prof. Johan Silas bukanlah bangunan fisik yang berdiri kokoh, melainkan keyakinan bahwa pembangunan harus memanusiakan manusia. Di tengah arus urbanisasi yang sering mengabaikan kelompok rentan, beliau menunjukkan bahwa kemajuan kota dapat berjalan seiring dengan keadilan sosial. Karena itu, nama Johan Silas akan selalu hidup dalam sejarah Surabaya, bukan hanya sebagai guru besar dan arsitek, tetapi sebagai penjaga martabat kampung dan warganya.
Saya ingat seorang sahabat di bidang konsultan pembangunan di Jakarta yang bekerja di lembaga donor internasional. Ia ditugasi kantornya untuk belajar tentang arsitektur lokal dan pembangunan permukiman di Belanda, di sana ia menemukan nama Johan Silas beberapa kali disebut oleh tokoh di sana. Sahabat saya bertanya siapa Johan Silas, begitu terkenal teori dan pendekatannya di Belanda? Kata sahabat saya: “Tahu seperti ini ngapain gue jauh-jauh ke Belanda….ke Surabaya saja lebih dekat dan murah.”
Memang jika berbicara tentang Kampung Improvement Program (KIP) nama Johan Silas begitu akrab. Hubungan beliau dengan KIP Surabaya hampir tidak bisa dipisahkan. Bahkan, di tingkat internasional nama Prof. Johan Silas sering disebut sebagai salah satu intelektual dan praktisi yang memberi landasan konseptual bagi keberhasilan Program Perbaikan Kampung (KIP) di Surabaya.
Dalam dunia akademik dan praktik perencanaan kota, Johan Silas dikenal bukan karena retorika besar atau klaim kepeloporan, melainkan karena konsistensi sikap: mendahulukan manusia dalam setiap keputusan ruang. Sikap ini, yang mungkin terasa sederhana, justru menjadi semakin langka di tengah arus pembangunan yang kerap mengedepankan kecepatan, skala, dan keuntungan.
Dalam hal pemeringkatan perguruan tinggi, Johan Silas yang tercatat sebagai salah satu pendiri Fakultas Teknik Arsitektur ITS pada tahun 1965, pernah mengingatkan hendaknya perguruan tinggi jangan terlalu ribut dengan ranking, untuk menunjukkan mutu pendidikan. Menurutnya yang penting adalah apakah perguruan tinggi itu hadir atau absen di saat masyarakat punya masalah. Mengambil peran nyata itulah yang penting. Waktu ada bencana tsunami di Aceh ITS hadir sampai selesai. Saat ada bencana gempa bumi tahun 2009 di Sumatra Barat ITS juga peduli. Begitu juga saat pandemi Covid-19, ITS menghadirkan robot Raisa.
“Jadi menurut saya keberadaan perguruan tinggi itu juga harus diukur dari kehadirannya bila masyarakat punya masalah,” katanya, seperti tertulis dalam Buku Biografi Kolonel Laut Ir Marseno Wirjosaputro, Rektor ITS 1964-1968: Insinyur, Tentara Pendidik, dan Profesional (halaman 103),
Di ITS, Silas membangun lebih dari sekadar institusi pendidikan. Ia membangun tradisi berpikir. Mahasiswa diajaknya keluar dari ruang kelas, menapaki gang-gang sempit kampung kota, menyimak kehidupan yang berjalan tanpa rencana induk, tetapi penuh kecerdikan sosial. Kampung-kampung itu, yang sering dicap sebagai masalah, justru memperlihatkan daya lenting kota, kemampuannya untuk bertahan dan beradaptasi.
Ketika ia terlibat dalam penyusunan rencana induk Surabaya, Silas berada di persimpangan yang rumit. Di satu sisi ada tuntutan modernisasi dan pertumbuhan ekonomi, di sisi lain ada warga yang hidup di ruang-ruang yang tidak pernah masuk peta resmi. Ia menyadari bahwa setiap garis yang ditarik di atas peta bisa berarti pemindahan, kehilangan, atau keterputusan bagi orang lain. Karena itu, ia menolak melihat kampung sebagai kesalahan perencanaan. Kampung, baginya, adalah hasil sejarah sosial yang tidak bisa dihapus begitu saja.
Pendekatan perbaikan kampung yang ia perjuangkan lahir bukan dari romantisme kemiskinan, melainkan dari penghormatan terhadap kehidupan. Ia percaya bahwa pembangunan seharusnya memperkuat apa yang sudah hidup, bukan menggantikannya dengan sesuatu yang asing. Gagasan ini membuatnya dikenal di tingkat internasional, tetapi yang lebih penting, membuatnya tetap relevan bagi warga kota yang jarang disebut dalam laporan resmi.
Lalu bagaimana dengan judul pada tulisan ini? Johan Silas Seorang Penyanyi? Saya mengambilnya dari tulisan Freek Colombijn berjudul “I Am a Singer: A Conversation with Johan Silas, Architect and Urban Planner in Surabaya, Indonesia”, yang diterbitkan oleh Cornell University Southeast Asia Program.
Dalam refleksi pribadinya, Silas menyebut dirinya seorang penyanyi. Ia tidak ingin menjadi arsitek yang berbicara paling keras atau mendominasi ruang dengan egonya. Ia memilih menyanyikan lagu kota, lagu yang tersusun dari banyak suara, sering kali tidak selaras, tetapi justru di situlah kejujurannya. Seorang penyanyi, baginya, harus peka terhadap pendengar, memahami konteks, dan tahu kapan harus diam.
Warisan Johan Silas tidak mudah diukur dengan bangunan ikonik atau monumen. Warisannya hidup dalam cara berpikir para muridnya –Tri Risma Harini, Eri Cahyadi adalah murid-muridnya– dalam kebijakan yang memilih merawat daripada menggusur, dan dalam kesadaran bahwa kota adalah ruang hidup bersama. Ia mengajarkan bahwa arsitektur yang baik bukan yang paling megah, tetapi yang paling manusiawi. Selamat jalan Prof Johan Silas. (Ir Sukemi, penulis biografi)






