SIDOARJO (RadarJatim.id) — Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemenkomdigi) menegaskan komitmennya dalam mewujudkan transformasi digital yang inklusif di Indonesia, khususnya bagi OPDis (Organisai Penyandang Disabilitas), melalui program Digital Talent Scholarship (DTS).
Kemenkomdigi terus berupaya membuka ruang pembelajaran yang luas bagi kelompok penyandang disabilitas guna meningkatkan kemampuan komunikasi digital mereka.
Hal tersebut ditegaskan Bagus Winarko selaku Kepala Balai Pelatihan SDM dan Penelitian Komunikasi dan Digital/Komdigi Surabaya, saat menjadi keynote speaker dalam diskusi KBK (Komunitas Belajar Komunikasi) Bersama OPDis Sidoarjo, yang diselenggarakan oleh INOVASI (Inovasi untuk Anak Indonesia). pada (24/5/2026) di Hotel Aston Sidoarjo.
Menurutnya, selama ini, banyak organisasi disabilitas yang memiliki semangat advokasi yang kuat. Namun, mereka kerap menghadapi kendala dalam menyusun strategi komunikasi yang terarah, konsisten, dan mampu menjangkau audiens yang tepat. “Kemenkomdigi menilai tantangan tersebut dapat diatasi dengan pemanfaatan teknologi digital,” katanya.
Di Indonesia, kita memiliki beberapa contoh inspiratif tentang bagaimana strategi komunikasi mampu mengubah keterbatasan menjadi kekuatan, seperti yang kita kenal sosok Angkie Yudistia, penyandang disabilitas tuli yang berhasil menjadi entrepreneur, sociopreneur, staf khusus presiden.
Kesuksesannya tidak hanya karena kemampuan bisnis, tetapi karena kemampuan membangun komunikasi publik yang kuat, personal branding yang positif, dan pemanfaatan teknologi digital untuk memperluas pengaruh serta jejaring sosialnya.

Di tingkat dunia, kita ada dua tokoh yang dapat kita contoh. Yaitu Nick Vujicic, seorang penyandang disabilitas tanpa tangan dan kaki yang mampu menginspirasi jutaan orang melalui strategi komunikasi motivasional berbasis media digital, public speaking, dan storytelling. Kita juga mengenal Helen Keller, yang menjadi simbol perjuangan hak disabilitas dunia melalui kemampuan komunikasi, literasi, dan advokasi yang luar biasa pada zamannya.
”Contoh-contoh tersebut menunjukkan bahwa keterbatasan fisik bukan penghalang untuk menjadi penggerak perubahan,” tegasnya.
Sementara itu, Handoko Widagdo selaku Wakil Direktur Bidang Ekosistem Pendidikan dan Manajemen INOVASI, juga menegaskan kalau INOVASI merupakanprogram kerja sama antara Pemerintah Indonesia dengan Pemerintah Australia yang dirancang untuk meningkatkan mutu pendidikan, khususnya aspek literasi, numerasi, dan karakter.
Dalam menjalankan mandat tersebut, kami menyadari bahwa peningkatan kualitas pendidikan tidak akan dapat dicapai tanpa memastikan bahwa setiap anak, tanpa terkecuali, memiliki kesempatan yang sama untuk belajar, termasuk anak-anak penyandang disabilitas.
Oleh karena itu, Inovasi secara konsisten mendorong tersedianya layanan yang inklusif, termasuk anak-anak penyandang disabilitas. “Mereka berhak mendapatkan pendidikan yang bermutu, lingkungan belajar yang aman dan nyaman, serta dukungan yang memadai sehingga mereka bisa belajar secara optimal,” tegasnya.
Dalam konteks ini, OPDis juga memiliki peran yang sangat strategis. Inovasi memandang bahwa penguatan kapasitas OPDis menjadi kunci agar organisasi-organisasi ini semakin mampu menjalankan perannya, tidak hanya sebagai pendamping tetapi juga sebagai advokat yang kuat dalam memperjuangkan kesetaraan akses pendidikan.
”Lebih jauh, OPDis juga diharapkan dapat berperan sebagai mitra pemerintah daerah, universitas, dan satuan pendidikan, khususnya dalam memastikan tersedianya akomodasi yang layak,” harapnya.
Menurutnya, akomodasi yang layak untuk OPDis ada empat kategori di antaranya, penyediaan alat bantu yang bisa digunakan langsung oleh para siswa.”Penyesuaian kurikulum yang membuat semua anak bisa belajar dengan baik.Layanan pendampingan termasuk terapi. Tersedianya sarana prasarana yang membuat anak-anak disabilitas bisa belajar dengan aman dan nyaman,” katanya.
Ia tegaskan pada workshop advokasi seri pertama, telah mengenali isu-isu kunci dan menegaskan bahwa peran strategis OPDis tidak hanya dalam pendampingan tapi juga sebagai penggerak kebijakan. Kita juga melihat banyak praktik baik, namun semuanya belum terkomunikasikan secara kuat kepada publik dan kepada pengambil kebijakan.

”Karena itu, pada seri kedua ini, kita harus lebih fokus dan lebih tajam supaya OPDis bisa mengomunikasikan hal-hal yang diperlukan oleh para pengambil kebijakan dan juga yang mereka menjalankan tugas ini bisa mendapatkan informasi yang memadai, sehingga pemenuhan akomodasi yang layak itu bisa terlaksana dengan baik,” tegasnya.
Kami mengapresiasi komitmen dari Bapak/Ibu OPDis, serta dukungan dari PKL SDM Komnas DI, Umsida, dan seluruh mitra yang terus memperkuat ekosistem kolaborasi ini.
”Kami berharap melalui kegiatan hari ini dan kegiatan selanjutnya, Bapak/Ibu dapat semakin efektif dan produktif dalam mengelola komunikasi organisasi, serta mampu merumuskan langkah-langkah yang lebih konkret, strategis, dan berdampak,” harap Handoko Widagdo.
Hadir dalam kesempatan tersebut, INOVASI menghadirkan narasumber Sunarman Sukamto-Aktivis Disabilitas dan Praktisi Advokasi Kebijakan, Cheta Nilawaty-Jurnalis dan Praktisi Komunikasi, Amellia Rizkyka, H-Dewan Pimpinan Cabang Gerkatin Sidoarjo, dan Kemil Wachidah-Kepala Prodi Pendidikan Guru SD Umsida.
Dengan fasilitator Dani Heru Dwi H-Ketua Komunitas Matahati, Endah Imawati-Wartawan Senior dan Dosen IKIP Widya Darma, Anita Yudi Jayanti-Pranata Humas Kominfo Sidoarjo dan Erix Hutasoit-Manager Komunikasi Strategsi INOVASI.(mad)







