• Pasang Iklan
  • Redaksi
  • Contact
Minggu, 16 Agustus 2026
No Result
View All Result
e-paper
Radar Jatim
  • Home
  • Bisnis
  • Hukum dan Kriminal
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Lifestyle
  • Contact
  • Home
  • Bisnis
  • Hukum dan Kriminal
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Lifestyle
  • Contact
No Result
View All Result
Radar Jatim
No Result
View All Result
Home Sastra/Budaya

Pameran Reuni 11 Alumni Seni Rupa Unesa (IKIP Surabaya) Angkatan 1993: Dari Kelas, Jalanan, hingga Langit

by Radar Jatim
16 Agustus 2026
in Sastra/Budaya
0
Pameran Reuni 11 Alumni Seni Rupa Unesa (IKIP Surabaya) Angkatan 1993: Dari Kelas, Jalanan, hingga Langit
21
VIEWS

Kuratorial oleh Arik S. Wartono

33 Tahun: Merayakan Jarak yang Menyatukan

Akhir pekan selalu terasa istimewa. Bukan karena hari itu lebih panjang dari hari lain, tapi justru karena cuma dua hari. Bayangkan kalau libur itu 365 hari penuh. Lama-lama kita tidak akan lagi merindukannya.

Sama seperti hujan. Rintik-rintiknya terasa menenangkan, karena kita tahu ia tidak akan turun deras tanpa henti. Kalau hujan terus-menerus, yang ada malah banjir dan sumpek.

Pelangi juga begitu. Ia terlihat sangat indah karena hanya muncul sebentar setelah hujan. Coba kalau pelangi nampang seharian di langit, kita mungkin tidak akan repot-repot menoleh atau mengabadikannya lagi.

Rindu pun terasa berharga karena ada jarak di antaranya. Jarak membuat kita menghargai pertemuan. Coba kalau kita menempel 24 jam dalam sehari dengan orang yang kita sayang, rasa kangen itu mungkin tidak akan pernah lahir.

Termasuk secangkir kopi, semangkok bakso, atau bangun tidur setelah lelah berjuang. Semua terasa nikmat karena ada batasnya, karena tidak setiap hari, karena kita tahu kapan harus berhenti dan kapan harus mensyukuri.

Bertemu kawan lama pun sama. Rasanya seru karena sesekali, bukan nongkrong tiap hari. Jarak waktu itulah yang membuat obrolan terasa hangat, tawa terasa lebih lepas, dan cerita terasa baru lagi.

Pameran ini lahir dari rasa itu. Tahun 1993 kami duduk di kelas yang sama di IKIP Surabaya yang sekarang berubah nama menjadi Universitas Negeri Surabaya (Unesa). Dulu masih di kampus Ketintang. Saat ini tahun 2026, 33 tahun berselang, saat usia kami masing-masing sudah lebih dari setengah abad, kami berkumpul lagi. Bukan untuk bernostalgia semata, tapi untuk merayakan: bahwa kami masih berkarya, masih belajar, masih bertumbuh.

Inilah ajang reuni. Merayakan 33 tahun berkawan. Dari kelas, ke jalanan, hingga ke langit.

Pameran Seni Rupa ini berlangsung 15 – 19 Agustus 2026 di Rumah Budaya Malik Ibrahim Sidoarjo.

Catatan Visual: Ruang Kenangan, Manusia, Alam, Akar Nilai Kearifan dan Renungan Zaman

Sukhanan — Cak Su
Di sudut Gresik tahun 1975 lahir Cak Su. Ketertarikannya pada seni muncul sejak pelajaran Seni Rupa di SMP. Dari situlah ia belajar, bahwa komunikasi lewat gambar bisa menumbuhkan ketertarikan luar biasa pada orang lain. Bagi Cak Su, “melukis adalah catatan visual atas refleksi fakta yang terjadi di lingkungan kita. Catatan pribadi untuk merekam kegiatan, pengalaman, pikiran, dan perasaan sehari-hari. Melukis itu seperti mencatat di buku diary.”

Perjalanan seninya dimulai dari lomba-lomba semasa SMP, SMA, hingga kuliah di IKIP Surabaya. Tahun 1991 ia ikut mendirikan Sanggar Pijar bersama teman-teman seniman Gresik. Hingga kini Cak Su aktif melukis, pameran, dan berkiprah bersama Komunitas Seniman Muslim KHAT.

Dalam pameran reuni ini, Cak Su menghadirkan tiga lukisan. Salah satunya berjudul ‘Perahu Negeri‘ (2026). Karya itu lahir dari kondisi sosial politik saat ini. Ada hal penting yang menarik untuk dicatat dan direnungkan, karena menjadi perbincangan hangat publik. Ungkapan cinta dan sayang, rasa keperihatinan dan kepedulian. Marah dan sedih bercampur.

Semua tertuang dalam simbol dan warna batin yang nyata: Darurat. Gelap. Bubar. Kata-kata yang mencerminkan realita. Semua itu ia bungkus dalam sebuah tanda tanya besar (?) — penasaran untuk dibincangkan bersama kawan-kawan. “Bersama Konco Alumni SR ’93 pajang karya dan bincang cangkrukan adalah kebanggaan intelektual.”

Di luar melukis, ia pernah jadi sales, tukang cetak, desainer di Cafeprinta, dan kini mengajar Seni Budaya di SMP Ponpes Nibrosul Ulum Sidoarjo. Prinsipnya sederhana: “Terus belajar baik dan berbuat baik.”

Teguh TP
Di Surabaya, ada Teguh T. P. yang saat ini mengabdi sebagai guru seni dan budaya di SMP Muhammadiyah 5. Ia masuk IKIP Surabaya tahun 1993 dan lulus Unesa tahun 2000. Teguh merasakan dua zaman lokasi kampus: dari Ketintang ke Lidah Wetan. Selain mengajar, ia juga masuk tim kreatif sekolah.

Untuk pameran ini Teguh membawa karya lukisan berjudul ‘Sesi Potret‘ (2026). Judulnya ia ambil dari salah satu lagu yang sedang viral. Visual yang tampil adalah sebuah rumah yang dulunya pernah ada kehangatan, sebuah keluarga. Sekarang hanya tinggal tersisa sebuah kenangan saja. Wajah-wajah yang tertinggal hanya bayangan semu. Lewat karya itu Teguh mengajak kita merenung tentang ruang yang dulu hidup, kini hanya tinggal gema.

Dyah Purnawati
Dari Kediri, Dyah jatuh cinta pada coretan sejak kecil. Baginya mencoret-coret bukan sekadar hobi, tapi bahasa. Bahasa untuk bicara dengan dirinya sendiri dan dengan dunia. Di tengah media seni yang semakin canggih, Dyah memilih sederhana: pensil dan kertas. Ia mengeksplorasi tekstur, arsiran, dan keheningan garis.

Dalam pameran ini, salah satu karya Dyah menghadirkan karyanya media pensil di atas kertas, berjudul ‘Rumah di Atas Awan‘ (2024). Secara harfiah, rumah adalah tempat seseorang merangkai kisah hidup, bertumbuh, dan merasa nyaman. Tetapi bagi Dyah, rumah memiliki makna simbolis: ia bisa menjadi sebuah dunia, sebuah jiwa, atau bahkan harapan.

Lewat gambar pensil dengan rumah kecil yang bertengger di atas awan, batu, atau pohon, Dyah ingin mengatakan, bahwa rumah tidak harus menetap. Ia bisa bergerak bebas ke mana saja seperti “dia” ingin. Rumah bisa putih atau hitam, kokoh atau melayang.

Bagi Dyah Purnawati, menggambar adalah cara untuk pulang. Saat ia mengarsir batu, awan, dan atap kecil itu, ia sedang membangun tempat tinggal bagi pikiran dan perasaannya sendiri. Sederhana, sunyi, tapi jujur.

Yanu Irwan
Dari Sidoarjo, Yanu adalah pendidik seni dan pelukis. Bakat menggambarnya sudah terlihat sejak usia 5 tahun. Ia menempuh pendidikan di SMPN Buduran, SMSR Surabaya, dan IKIP Surabaya. Tahun 1993-2009 ia berkarier sebagai pelukis potret profesional, mengelola galeri, dan mengajar ekstrakurikuler di TK. Sejak 2009 ia mengabdi sebagai guru Seni Budaya di SMPN 2 Jabon, Sidoarjo.

Yanu percaya “Seni adalah bahasa jiwa yang mampu menjembatani pendidikan, budaya, dan kehidupan.” Baginya, mengajar bukan hanya mentransfer teknik, tapi menumbuhkan kepekaan. Ia aktif OTS, pameran bersama komunitas pelukis Surabaya-Sidoarjo, dan terus mengembangkan kreativitas visual murid-muridnya.

Dalam pameran reuni ini, Yanu menghadirkan salah sartu karya yang berjudul ‘Sepenggal Kisah dari Candi Pari‘ (2018). Lukisan ini lahir dari refleksi atas kekayaan sejarah yang tersembunyi di tengah dinamika modernisasi Kabupaten Sidoarjo. Candi Pari, sebagai salah satu cagar budaya penting peninggalan masa Majapahit, berdiri tegak menyuarakan keagungan masa lalu melalui susunan bata merahnya yang khas.

Yanu tidak sekadar merekam wujud fisik bangunan. Lewat sapuan warna dan suasana yang ia bangun, ia mencoba menangkap keheningan dan nilai spiritual yang masih tinggal di sekitar candi. Di antara kesibukan saat ini, Yanu mengajak kita berhenti sejenak, menatap warisan leluhur, dan bertanya: apa yang masih bisa kita pelajari dari batu bata tua itu tentang kesabaran, tentang ketekunan, tentang membangun sesuatu yang bertahan ratusan tahun.

Bagi Yanu, seni dan pendidikan harus berjalan beriringan. Melukis candi adalah cara ia mengajar sejarah tanpa ceramah. Menunjukkan kepada anak-anak bahwa akar budaya kita tidak jauh, ia ada di halaman sendiri.

Heri Gembong
Jika Yanu dekat dengan manusia, Heri Gembong menemukan jiwanya di alam. Lulusan Seni Rupa ini punya ketertarikan kuat pada tanaman caudex dan fosil kayu. Pengalaman merawatnya jadi inspirasi utama dalam drawing dan lukisannya.

“Bagi saya, tanaman dan seni memiliki kesamaan: keduanya tumbuh melalui proses, kesabaran, dan perhatian terhadap detail,” ujarnya.

Salah satu karyanya dalam pameran ini ‘Dasar‘ (2025), sebatang kayu mati, retak, berlubang, dan mengalami erosi oleh waktu, dipilih Heri untuk menjadi fondasi. Di atasnya, dua tanaman hidup: kaktus berduri dengan bunga merah muda, dan sukulen kecil yang rapat.

‘Dasar‘ adalah metafora tentang satu kehidupan yang harus menopang banyak hal. Kayu itu tidak lagi tumbuh, tapi ia tetap berdiri. Ia menahan, menaungi, dan memberi ruang agar yang lain bisa hidup.

Heri melihat ini dalam dirinya sendiri dan di sekitar kita: orang tua, guru, pekerja. Luka dan keriputnya bukan kelemahan. Justru dari situlah kekuatan lahir. Karena kadang menjadi “dasar” berarti rela menua demi kehidupan lain bertumbuh. Lewat usaha tamanan hiasnya Javanicus Exoticplant, Heri Gembong membuktikan, bahwa seni rupa bisa diaplikasikan pada dunia tanaman eksotis.

Arif Setyawan
Anak ketiga dari empat bersaudara, Arif lahir di Surabaya dari keluarga pedagang. Belajar advertising di SMSR lalu IKIP Surabaya. Delapan tahun di dunia seni rupa membuatnya matang sebagai desainer komunikasi visual.

Di sela jadi desainer dan Ketua RT, Arif punya hobi unik: mengoleksi dan membuat sendiri lebih dari seribu cincin batu nusantara dan belati baja. “Legoh iso naklukno atose watu lan wojo” — senang bisa menaklukkan kerasnya batu dan baja.

Dalam pameran reuni ini, Arif menghadirkan salah satu karyanya ‘The Lading‘ (2026). Deretan bilah ladang, parang, dan pisau terpajang rapi di atas papan kayu tua. Gagang dan sarungnya dari kayu pilihan, dipoles, diikat tali, disusun seperti barisan prajurit.

‘The Lading‘ adalah penghormatan Arif pada kerja tangan dan alat yang menemani hidup orang desa. Lading bukan sekadar senjata. Ia alat untuk membuka hutan, menanam, memanen, dan menjaga. Benda yang kasar tapi jujur.

Bagi Arif, tiap goresan urat kayu dan baja punya cerita tentang kesabaran, ketekunan, dan kearifan lokal. Konsep dan gagasan dituangkan melalui perantara media, mengalir bersama waktu hingga goresan terakhir. Dan apapun hasilnya, itulah pemberhentian sementara yang menjadi satu bab dalam album potret perjalanan berkarya.

Melukis itu seperti bercinta. Dia menggembirakan, menyenangkan, menenangkan, terapi batin sekaligus pengobat rindu dalam berisiknya dunia yang serba tak menentu. Merah dan birunya rasa berpadu dalam sapuan, ada cipratan pengharapan di tepi hitam yang menyelimuti kegelisahan.

Di tengah dunia digital, Arif mengingatkan kita pada nilai dasar: bekerja dengan tangan, merawat alat, dan menghormati yang menaklukkan kerasnya batu dan baja demi kehidupan.

Arik S. Wartono
Melangkah lebih jauh, Arik membawa seni sampai ke langit. Pendiri Sanggar DAUN sejak 2004 ini adalah astrofotografer dan Pembina DAUN Art School. Selama 22 tahun, murid-muridnya meraih lebih dari 3.000 penghargaan internasional. Sanggarnya mengantongi 5 Anugerah Kebudayaan Republik Indonesia. Ia juga menulis puisi, menerbitkan buku Pagi Segala Musim, dan aktif sebagai kurator serta penulis esai kritik seni.

Bagi Arik, langit malam adalah kanvas terbesar. Astrophotography baginya bukan sekadar memotret bintang. Ia adalah cara memahami posisi kita di semesta: fotografi benda-benda langit, lanskap malam yang diambil antara tengah malam hingga menjelang fajar, dengan teknik dan kesabaran khusus.

Semua foto yang ia pamerkan adalah foto asli. Bukan hasil rekayasa AI, bukan tumpuk digital dari foto berbeda. Seperti ‘Malam Galunggung‘, panorama inti Milkyway yang membentang dari Utara ke Selatan. Dan ‘Malam Bromo‘ (2019) — karya blend dua shot: gunung saat blue hour setelah fajar, dan langit bertabur bintang sebelum fajar.

Untuk membuktikan keasliannya, Arik menambahkan garis-garis imajiner rasi bintang beserta namanya. Karena baginya penting: langit punya batas, punya nama, punya aturan. Seperti 88 rasi resmi yang ditetapkan Himpunan Astronomi Internasional.

“Bromo lagi, Bromo lagi. Aku tidak akan bosan memotret Bromo,” tulisnya.

“Karena Bromo sudah seperti halaman belakangku. Landscape purba dengan pemandangan menakjubkan seperti negeri dongeng,” tambahnya.

Arik mengajak kita keluar di malam yang gelap, ke sisi bumi paling sunyi, ke dark area. Menatap langit tanpa polusi cahaya. Di sanalah kita sadar: kita kecil, tapi bagian dari sesuatu yang sangat besar. Dari ruang kelas kuliah di Ketintang, lalu membangun pusat gerakan seni untuk mengembangkan talenta anak-anak dan seniman muda di Gresik, Surabaya, Sidoarjo, Malang dan sekitarnya, Arik membawa kita melewati perjalanan panjang, lalu menengadah ke langit.

Aris “Daboel” Sulistianto
Dari Mojokerto, Arif aktif berpameran sejak 1998. Jejaknya panjang: Pameran tunggal Kolaborasi di Museum Mpu Tantular, Kamboja di atas Pusara, GresArt #0.1 hingga #10, Gasruk, hingga Pekan Kebudayaan Nasional. Masa 2002-2015 ia sebut periode “Mencari Kitab Suci”.

Dalam pameran reuni ini, Daboel menghadirkan karya mixed media berjudul ‘RASIS‘ (2024). Karya ini lahir dari pengamatan Daboel tentang konflik antarkoloni. Ia mengambil contoh dunia semut: ketika koloni berbeda bertemu, mereka berebut ruang dan sumber daya, membangun batas, dan menolak yang lain. Ketidakmampuan menerima perbedaan itu kemudian ia sebut sebagai perilaku RASIS.

Bagi Aris Daboel, hal yang terjadi di alam semut adalah cermin interaksi manusia. Ketika identitas dan nilai kelompok dijaga dengan cara menutup dan menolak, yang muncul adalah ketidakharmonisan. Lewat sapuan material, tekstur kasar, dan susunan bentuk yang bertabrakan, ‘RASIS‘ menjadi catatan sosial yang jujur: bahwa perbedaan akan selalu ada, tapi cara kita menyikapinya menentukan apakah kita hidup bertikai atau berdamai.

Aris Daboel mengajak kita memahami fenomena ini secara mendalam. Bukan untuk menghakimi, tapi untuk mencari jalan yang lebih inklusif. Agar hubungan sosial bisa dibangun lebih sehat dan damai.

Andiy Qutuz
Itu nama pena Andi Arifianto asal Gresik. Sejak 1995 ia menerima beasiswa YSRI, hingga 2014 meraih penghargaan Kompetisi Lukis Guru Seni di Galeri Nasional Jakarta lewat karyanya “Guiding to the Light”. Bagi Andiy, “Dalam setiap goresan warna lukisan, ada cahaya yang berusaha menemukan jalannya menuju jiwa manusia.”

Di pameran ini ia menghadirkan empat karya yang sama-sama bersumber dari spiritualitas, tapi berjalan di dua arah: ke dalam diri dan ke luar ke dunia.

Salah satunya adalah lukisan yang berjudul ‘The Silent Ascent‘ (2026). Sebuah gunung terjal mendominasi kanvas. Ia bukan lanskap. Ia adalah diri kita. Pendakiannya sunyi. Tanpa sorak, tanpa tepuk tangan. Hanya dialog antara manusia dengan bayang-bayangnya sendiri.

Langit diselimuti sapuan hijau kebiruan yang kontemplatif. Cahaya bulan menjadi petunjuk kecil di tengah gelap. Tekstur kasar dan ekspresif merekam luka, ragu, dan lelah perjalanan batin. Kaligrafi menyatu dengan punggung gunung, mengingatkan bahwa mengenal diri tidak bisa lepas dari dimensi ketuhanan.

Andiy menjadikan kaidah sufi “Man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa rabbahu” — siapa mengenal dirinya, maka ia mengenal Tuhannya — sebagai kompas. Puncak gunung adalah makrifat. Jalan ke sana menuntut keberanian menatap ego, takut, dan serakah yang selama ini menutup kita. Keheningan dalam judulnya adalah ajakan: berhentilah sebentar dari bising dunia, dengar suara paling dalam. Karena di sanalah tabir antara hamba dan Tuhannya perlahan terbuka.

Dari pendakian sunyi menuju Tuhan, sampai seruan lantang tentang keadilan di dunia, karya-karya Andiy saling melengkapi. Ia percaya seni adalah jalan. Jalan pulang ke diri, sekaligus jalan menjaga sesama.

Khoirul Umam
Lahir di Lamongan, kini ia menetap di Sidoarjo. Di atas kertas CV ia menulis: tukang sablon, tukang kebon. Di lapangan, ia juga tukang rapat RT, tukang gowes, tukang ngritik koncoe, dan kadang-kadang tukang “ghibah” rezim penguasa, biar waras.

Hari-harinya penuh tamu. RT, RW, aparat desa datang silih berganti membicarakan MBG dan Kopdes. “Diajak ngobrol lukisan tidak nyambung,” katanya sambil tertawa. Maka ia menyelipkan waktu untuk scrolling. Mencari info pameran di Yogyakarta, di Malang. Ini bukan untuk gaya-gayaan. Tapi untuk literasi. Untuk anaknya. Untuk dirinya sendiri. Agar tetap nyambung dengan dunia seni yang dulu kami hirup bersama di Ketintang.

Umam percaya satu hal: segala sesuatu laku karena branding-nya dulu. Maka, ia pun suka barang branded. Bukan karena sombong, tapi karena ia tahu, di dunia usaha, rupa adalah bahasa pertama sebelum isi bicara.

Di pameran ini ia hadir dengan salah satu karya lukisan yang berjudul ‘Lupa Waktu‘ (2026). Di atas bidang merah menyala, ia menulis ‘Kebanyakan Scrolling‘ dengan coretan hitam yang spontan, hampir marah. Di tengahnya berdiri panah naik-turun, seperti detak yang kehilangan arah.

Merah itu tanda darurat. Tanda bahwa kita sedang terhisap layar. Men-scroll tanpa henti sampai lupa detik, lupa jam, lupa anak di samping, lupa langit sore. “Lupa Waktu” bukan cuma judul. Ia teguran.

Karya ini jujur. Sama jujurnya seperti Khoirul Umam yang dari tukang sablon jadi pengusaha Rimba Grafis. Dari sebuah kampung nelayan di Lamongan sampai punya mesin cetak yang menjadi tulang punggung penghidupan orang-orang di sekitarnya. Ia membuktikan: ilmu seni rupa tidak harus menggantung di galeri. Ia bisa jadi industri, bisa jadi lapangan kerja, bisa menebar manfaat.

Bagi Khoirul Umam, berkarya itu ya hidup. Antara banner pesanan, kebun di belakang rumah, rapat RT, dan satu-dua jam untuk melihat pameran orang lain. Di sela itulah ia tetap menjadi seniman. Seniman yang tahu kapan harus berhenti scroll, dan mulai menatap nyata.

Hendro Sudarto
Ia seniman, pendidik, dan wirausahawan asal Surabaya yang saat ini tinggal di Sidoarjo, berusia 55 tahun. Lulusan SMSR dan IKIP Surabaya (Unesa), juga dikenal sebagai magician. Filosofinya: “Berfokus pada pengembangan kreativitas, ketekunan, dan apresiasi seni budaya lokal demi membangun karakter generasi muda bangsa.”

Selain itu, Hendro peka terhadap nilai budaya, spiritualitas, dan kearifan alam. Ia percaya warisan leluhur bukan sekadar mitos, tapi bentuk perlindungan dan pendidikan.

Karyanya ‘Gagak vs Semut‘ (2026) mengangkat terapi alami anting. Gagak membiarkan semut merayap agar asam formatnya membasmi kutu dan jamur. Setelah “mandi asam”, gagak memakan semut itu. Burung setara kecerdasan anak 7 tahun ini tahu memanfaatkan lingkungan, rela menahan sakit demi kesehatan.

Dari hadits, dari mitos, dari perilaku hewan — semua menginspirasi cara Hendro mendidik. Seni baginya adalah membaca tanda-tanda.

Lewat Point One Creative Foam Decoration, ia lebih dari 25 tahun membuat properti event, maket, dan maskot foam untuk pasar domestik dan ekspor. Lukisan dan kaligrafi kayunya sudah dikoleksi hingga Belanda dan Nigeria. Ia juga aktif mengajar, workshop, dan merintis usaha kuliner. Pengalaman sebagai desainer sepatu membuatnya dipercaya menangani proyek dekorasi berskala besar.

Bagi Hendro, kreativitas harus berakar. Berakar pada nilai, budaya, dan cara alam bekerja. Karena dari sanalah karakter generasi muda tumbuh.

Benang Merah

Delapan guru, tiga wirausahawan. Ada yang lewat pensil, lewat kamera, lewat batu, lewat tanaman, lewat foam, sampai lewat langit. Tapi benang merahnya sama: kami percaya bahwa seni bukan hanya untuk dipamerkan, tapi untuk mengajar, menyembuhkan, merekam zaman, dan membangun karakter.

33 tahun bukan waktu yang sebentar. Cukup lama untuk rindu, cukup singkat untuk tetap hangat. Dan seperti secangkir kopi, pertemuan ini nikmat justru karena kita tahu: tidak setiap hari.

Pameran ajang reuni ini berlangsung 15 – 19 Agustus 2026 di Rumah Budaya Malik Ibrahim Sidoarjo. Pameran terbuka untuk umum, galeri terbuka mulai pukul 10.00 – 21.00 WIB, gratis tanpa tiket masuk. Penutupan pameran tanggal 19 Agustus 2026 digelar diskusi seni tentang bagaimana kiprah para alumni Unesa/IKIP Surabaya angkatan 1993 dalam medan seni rupa kontemporer Indonesia.

Penutup: 81 Tahun, Tanah yang Kita Tumpangi

Di tahun 2026 ini, Republik Indonesia genap 81 tahun. Usia yang seharusnya sudah cukup dewasa untuk jujur pada dirinya sendiri.

Kita semua tahu rasanya: ketika tanah tempat kita berpijak terasa retak. Ketika tiang-tiang yang dulu dijanjikan menopang, justru keropos dimakan ologarki. Ketika dinding-dinding dipoles indah, tapi di baliknya ada kebocoran yang tak pernah diperbaiki. Ketika atap yang mestinya melindungi, justru merembes air lindi.

Data 5 tahun terakhir cukup bicara. Catatan ICW menyebut 2021 ada 533 kasus, 2022 naik jadi 579 kasus, 2023 memuncak 791 kasus dengan 1.695 tersangka dan potensi kerugian Rp28,4 triliun. Di 2024 kasus turun jadi 364 dengan 888 tersangka, tapi potensi kerugian negara justru meledak ke Rp 279,9 triliun karena satu kasus besar di sektor komoditas.

Dari sisi penuntutan uang pengganti, Kejagung mencatat tuntutan hingga Rp 82 triliun, sementara KPK Rp 675 miliar. Angka-angka ini bukan sekadar statistik. Ia adalah cermin retak di tiang, bocor di dinding, dan rembes di atap rumah besar bernama Indonesia.

Di tengah itu, kami 11 orang ini memilih pulang. Berkumpul di sebuah rumah budaya. Rumah yang tanahnya lekat dalam ingatan, yang tiangnya kita harap bisa menampung cerita. Entah dari mana asal setiap batanya. Entah siapa yang dulu menaruh paku di setiap kayunya. Kita tidak sedang menutup mata. Kita hanya sedang memilih: tetap tinggal di dalam rumah itu sambil menyalakan lampu.

Karena sejujurnya, kami masih mencintai rumah besar bernama Indonesia ini. Meski kadang cinta itu rasanya seperti merawat rumah tua: harus berani membongkar yang lapuk, mengganti yang rapuh, dan jujur mengakui kalau fondasinya sudah miring.

Jika suatu hari rumah ini benar-benar roboh karena pembusukan yang tak terkendali, biarlah kami dikenang sebagai penghuni yang pernah menyapu halamannya, memaknai dindingnya dengan karya dan mengundang orang untuk duduk bersama di terasnya.

Tiga puluh tiga tahun kami berteman. 81 tahun negeri ini merdeka. Jarak membuat rindu. Jarak juga membuat kita jujur.

Dari kelas, ke jalanan, hingga ke langit. Dan selama langit itu masih di atas kepala kita, kami akan terus bertumbuh, berkarya dan berkawan. {*}

*) Arik S. Wartono, Kurator, alumni Seni Rupa Unesa angkatan 1993, tinggal di Gresik.

Tags: Dari Kelas hingga LangitPameranReuni 11 AlumniSeni RupaUnesa (IKIP Surabaya)

Related Posts

Dinas Dikbud Sidoarjo Beri Apresiasi ‘Inobel Guru Al Falah Darussalam 2026’

Dinas Dikbud Sidoarjo Beri Apresiasi ‘Inobel Guru Al Falah Darussalam 2026’

by Radar Jatim
7 Juli 2026
0

SIDOARJO (RadarJatim.id) --  Menyambut Tahun...

Melalui Pameran, Pelaku Sanggar Pelakon – HISKI – Perpusnas Dekatkan Asrul Sani ke Publik

Melalui Pameran, Pelaku Sanggar Pelakon – HISKI – Perpusnas Dekatkan Asrul Sani ke Publik

by Radar Jatim
17 Juni 2026
0

Oleh Tengsoe Tjahjono Bangsa yang...

Siswa SMA Negeri 1 Gedangan Gelar ‘Panen Karya’ Pameran Seni Budaya

Siswa SMA Negeri 1 Gedangan Gelar ‘Panen Karya’ Pameran Seni Budaya

by Radar Jatim
26 Mei 2026
0

SIDOARJO (RadarJatim.id) -- Nuansa kreativitas...

Load More

Radar Jatim Video Update

Berita Populer

  • Tangis Haru Mewarnai Suasana Penjemputan Siswa SMA Negeri 1 Wonoayu

    Tangis Haru Mewarnai Suasana Penjemputan Siswa SMA Negeri 1 Wonoayu

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Soft Launching KM Dharma Kencana V, Fasilitas Mewah Berkapasitas 1.400 Penumpang

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ribuan Warga Padati Alun-alun Tugu Malang, Dukung MBG Menuju 82 Juta Penerima Manfaat

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ribuan Warga Doakan Keluarga Besar SMK Antartika 2 Sidoarjo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Analisis Semantik Puisi ‘Aku Ingin’ Karya Sapardi Djoko Damono

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Radar Jatim adalah media online Jatim yang memberikan informasi peristiwa dan berita Jawa Timur dan Surabaya terkini dan terbaru.

Kategori

  • Artikel dan Opini
  • Ekonomi Bisnis
  • Ekosistem Lingkungan
  • Esai/Kolom
  • Feature
  • Finance
  • HAM
  • Hukum dan Kriminal
  • Infrastruktur
  • Kamtibmas
  • Kemenkumham
  • Kesehatan
  • Ketenagakerjaan
  • Komunitas
  • Kuliner
  • Lain-lain
  • Layanan Publik
  • Lifestyle
  • Literasi
  • Nasional
  • Olah Raga
  • Ormas
  • Otomotif
  • Pariwisata
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Peristiwa
  • Pertanian
  • Peternakan
  • pinggiran
  • Politik
  • Religi
  • Sastra/Budaya
  • Sosial
  • Tekno
  • TNI
  • TNI-Polri
  • Transportasi
  • video
  • Wisata

Kami Juga Hadir Disini

© 2020 radarjatim.id
Susunan Redaksi ∣ Pedoman Media Siber ∣ Karir

No Result
View All Result
  • Home
  • Politik
  • Hukum dan Kriminal
  • Nasional
  • Lifestyle
  • Tekno
  • Ekonomi Bisnis
  • Artikel dan Opini

© 2020radarjatim.id

Login to your account below

Forgotten Password?

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In