PASURUAN (RadarJatim.id) – Tongkat estafet perjuangan resmi berganti. Pengurus Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Komisariat Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Pasuruan, bersama pengurus tingkat fakultas, yakni Rayon Pandora dan Rayon Manunggal, telah memantapkan langkah dalam kepengurusan baru.
Prosesi sakral pelantikan ini mengusung tajuk gagah, “Manifesto Pergerakan: Peneguhan Nilai Pemimpin Revolusi Populis,” yang menggema di Gedung Fakultas Ilmu Pendidikan UNU Pasuruan, Sabtu (8/8/2026). Momentum ini dirancang bukan sekadar sebagai seremonial belaka, melainkan bentuk simbolik kebangkitan untuk terus memasifkan kaderisasi dan mencetak kader-kader penggerak yang progresif.
Nafas perjuangan ini ditegaskan langsung oleh Wahyu, Ketua Komisariat terlantik, dalam wawancaranya usai kegiatan.
“Dalam mimbar ini kita ingin menegaskan, bahwa sebagai pengurus baru, baik di barisan komisariat maupun rayon, kita adalah pengemban harapan. Tugas kita adalah terus mewariskan ideologi dan ruh pergerakan organisasi, menjawab tantangan zaman, serta hadir sebagai solusi konkret bagi kebutuhan kader dan masyarakat, baik untuk hari ini maupun kelak,” serunya.
Ruang pelantikan tersebut turut disaksikan oleh para alumni yang telah lebih dulu mengawal komisariat, delegasi komisariat se-Pasuruan Raya, serta Ketua PC PMII Pasuruan, Sahabat Zulfan Abida, bersama Ketua KOPRI PC PMII Pasuruan, Sahabati Iradatus Sholihah, selaku pihak yang memberikan mandat. Suasana khidmat memuncak saat prosesi baiat yang dipandu langsung oleh Ketua Umum PC PMII; sebuah sumpah setia dari para pengurus baru untuk terus mengibarkan panji-panji pergerakan.
Lebih dari sekadar pelantikan, forum ini juga menjadi ruang refleksi Hari Lahir (Harlah) Komisariat yang ke-5. Peringatan ini diisi dengan napak tilas sejarah berdirinya komisariat, sebuah pengingat bahwa jalan panjang yang ditempuh hingga terpilihnya nakhoda baru ini dibangun di atas fondasi dialektika dan perjuangan.
Nur Atiatul Chusnia, selaku Ketua Pelaksana yang akrab disapa Tia, turut memaparkan urgensi dari muatan historis tersebut.
“Jadi, memang dalam acara kali ini kita tidak hanya melaksanakan proses pelantikan, tapi juga merawat ingatan lewat peringatan Harlah Komisariat yang sejatinya jatuh pada 25 Juli kemarin. Momentum Harlah ini kami isi dengan pembacaan sejarah pergerakan. Tujuannya agar setiap kader dan anggota memiliki pijakan yang kuat, tidak buta sejarah, dan sama-sama mengerti beratnya perjuangan dalam mendirikan PMII Komisariat UNU,” tegasnya.
Dengan tuntasnya prosesi pelantikan dan refleksi historis ini, seluruh jajaran pengurus PMII Komisariat UNU Pasuruan, Rayon Pandora, dan Rayon Manunggal kini berdiri kokoh di garis depan. Sumpah telah diikrarkan dan sejarah telah menjadi pijakan kukuh. Berbekal spirit Manifesto Pergerakan, kepengurusan yang baru tidak lagi sekadar merawat wacana, melainkan mewujudkannya dalam kerja-kerja nyata. Mereka kini memantapkan langkah dan barisan: pantang mundur, siap bergerak progresif, dan bertekad penuh untuk mencetak pergerakan yang berdampak masif bagi masyarakat, agama, dan bangsa. (M. Ubaidillah Abdi)







