• Pasang Iklan
  • Redaksi
  • Contact
Sabtu, 20 Juni 2026
No Result
View All Result
e-paper
Radar Jatim
  • Home
  • Bisnis
  • Hukum dan Kriminal
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Lifestyle
  • Contact
  • Home
  • Bisnis
  • Hukum dan Kriminal
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Lifestyle
  • Contact
No Result
View All Result
Radar Jatim
No Result
View All Result
Home pinggiran

Spirit Hijrah; Meluruskan Mitos Tahun Baru Islam

by Radar Jatim
16 Juni 2026
in pinggiran, Religi
0
Spirit Hijrah; Meluruskan Mitos Tahun Baru Islam

Suhartoko

75
VIEWS

Catatan Pinggiran Suhartoko

Tahun baru Islam, 1 Muharram 1448 Hijriyah, bisa dimanfaatkan sebagai sarana merefleksi diri atas perjalanan roda kehidupan. Kita bisa memutar kembali memori atas apa saja yang terjadi pada masa silam –paling tidak dalam periodisasi setahun sebelumnya–, lalu menjadikannya sebagai sarana perbaikan kualitas diri dalam memasuki gerbang tahun baru.

Namun, momentum tahunan ini tak jarang tergerus oleh kuatnya mitos dibanding spirit hijrah yang mestinya jadi pijakan dalam perbaikan dan kualitas keimanan dan ikhtiar menapaki jalan kehidupan. Padahal, bagi umat Muslim seharusnya ini menjadi momen sakral untuk mengevaluasi total perjalanan hidup yang telah dilalui, menuju kehidupan yang lebih baik.  

Masih kerap ditemui –terutama dalam kultur Jawa– setiap 1 Muharram tiba, media sosial (medsos) atau ruang-ruang publik terjejali ungkapan: ‘jangan menikah di bulan Suro, jangan keluar malam pada 1 Suro nanti diculik Nyai Roro Kidul, harus ruwatan, mandi kembang 7 rupa’ dan sejenisnya.

Di sisi lain, suasana masjid-masjid atau musala-musala nampak berbeda dari hari-hari biasanya. Tempat ibadan umat Muslim itu menjadi lebih semarak: ada pengajian, prosesi doa akhir dan awal tahun Hijriyah, zikir bersama, khataman Al-Quran, santunan anak yatim, dan amalan-amalan baik lainnya.

Meluruskan Mitos Bulan Angker

Diakui atau tidak, dalam kultur atau budaya Jawa, sebagian masyarakat masih menganggap bulan Suro/Muharram identik dengan hal-hal mistis. Di antaranya, mitos bulan Suro merupakan  bulan sial. Karena itu, meraka menghindari hajatan, pindah rumah, menikah pada bulan ini. Bahkan, pada malam 1 Suro, tak jarang yang melakukan “tirakatan” khusus juga kirab pusaka.

Faktanya, dalam Islam tidak dikenal bulan sial. Nabi ﷺ bersabda: “Tidak ada tiyarah/anggapan sial” (HR. Bukhari). Semua bulan itu baik, termasuk Muharram (Suro dalam kultur Jawa). Malah sebaliknya, Muharram disebut sebagai syahrullah, bulan Allah, bulan mulia.

Mandi kembang, sesajen, labuhan ke laut Selatan dan sejenisnya, itu akulturasi budaya, bukan ajaran Islam. Jika lelaku tersebut diniatkan untuk tolak bala, dikhawatirkan masuk dalam kubangan syirik. Sementara jika diniati melestarikan budaya tanpa keyakinan mistis, di kalangan ulama mash terjadi perbedaan pendapat (ikhtilaf).

Apa yang seharusnya dilakukan ketika memasuki Tahun Baru Hijriyah? Belum ditemukan ajaran yang secara khusus mengharuskan merayakan Tahun Baru Hijriyah dengan pesta pora sebagaimana lazim dilakukan saat peringaan Tahun Baru Masehi. Sebaliknya, direkomendasikan memasuki bulan Muharram sebagai pintu gerbang memasuki Tahun Baru Hijriyah, sejumlah amalan baik sangat dianjurkan. Di antaranya, muhasabah (introspeksi), evaluasi total dan niat hijrah. Evaluasi perlu dilakukan atas apa yang telah dilakukan sebelumnya sebagai ikhtiar perbaikan untuk masa yang akan datang.

Sementara ‘hijrah’ artinya berpindah. Dulu Nabi Muhammad harus berpindah dari Mekah ke Madinah sebagai jalan dakwah menyusul kondisi yang tidak kondusif di Mekah. Sekarang, yang bisa diambil sebagai pelajaran adalah: kita harus hijrah dari kebiasaan buruk ke jalan kebaikan, menjadikan hidup –dengan segala kompleksitasnya—menjadi lebih baik dari era sebelumnya.

Selain itu, dianjurjurkan melakukan puasa Asyura pada 10 Muharram. Ini amalan sunnah muakkadah. Pahalanya: menghapus dosa satu tahun lalu (HR Muslim).

Tak kalah pentingnya, perbanyaklah amal di bulan Muharram. Muharram termasuk 4 bulan haram, selain Dzulqa’dah, Dzulhijjah, dan Rajab. Di bulan-bulan ini pahala amal kebajikan dilipatgandakan. Karena itu, hindari semaksimal mungkin perbuatan maksiat dan dosa. Maka, sudah selayaknya memperbanyak istighfar, sedekah, membaca Al-Quran, menyantuni anak yatim, dan berbagai amalan Kebajikan lainnya, jadi jalan terbaik dalam menandai masuknya Tahun Baru 1448 H ini.

Kiranya, kita mesti bijak dan tidak perlu membenturkan produk adat/tradisi dengan ajaran  agama, yang justru berdampak pada terjadinya gesekan sosial dalam bermasyarakat. Toh, Wali Songo dulu dalam dakwahnya juga memanfaatkan produk budaya lokal (Jawa) sebagai sarana dakwah. Mereka tidak frontal memberangus kebiasaan lama yang telah mandarah daging, tetapi secara perlahan memasukkan ajaran-ajaran Islam lewat kebiasaan atau budaya Masyarakat.

Karena itu, manfaatkan 1 Muharram sebagai momentum hijrah batin. Jangan sampai sibuk takut dengan aura mistis Suro, sehingga lupa takut kepada Allah SWT. Jangan sibuk ruwatan diri, tapi lupa merawat hati dari sikap dan laku iri, dengki, malas ibadah, dan penyakit hati lainnya. Kita jadikan gerbang Tahun Baru 1448 H ini sebagai jalan baru menapaki kehidupan yang lebih baik dan berkualitas, baik dalam perspektif sosial maupun spiritual. {*}

*) Suhartoko, Pemimpin Redaksi www.radarjatim.id

Tags: Mitos ahun BaruSpirit Hijrahsuhartoko

Related Posts

Memerdekakan Merdeka Belajar

Pemuda dalam Momentum Kebangkitan Nasional

by Radar Jatim
20 Mei 2026
0

Catatan Pinggiran SUHARTOKO Momentum Hari...

Kesakralan Ramadan dan Paradoks Konsumerisme

Kesakralan Ramadan dan Paradoks Konsumerisme

by Radar Jatim
7 Maret 2026
0

Oleh Suhartoko Bulan Ramadan, bulan...

Orang Kuat

Orang Kuat

by Radar Jatim
21 April 2025
0

Cerpen SUHARTOKO Jiamput! Kate gak...

Load More
Next Post
AP CUP UMSIDA 2026 Berakhir Meriah, SMAN 1 Wonoayu Sapu Bersih Gelar Juara Putra dan Putri

AP CUP UMSIDA 2026 Berakhir Meriah, SMAN 1 Wonoayu Sapu Bersih Gelar Juara Putra dan Putri

Radar Jatim Video Update

Berita Populer

  • Tangis Haru Mewarnai Suasana Penjemputan Siswa SMA Negeri 1 Wonoayu

    Tangis Haru Mewarnai Suasana Penjemputan Siswa SMA Negeri 1 Wonoayu

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Soft Launching KM Dharma Kencana V, Fasilitas Mewah Berkapasitas 1.400 Penumpang

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ribuan Warga Doakan Keluarga Besar SMK Antartika 2 Sidoarjo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Analisis Semantik Puisi ‘Aku Ingin’ Karya Sapardi Djoko Damono

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kampus yang Tak Lagi Dihuni Intelek: Mengapa Dosen Mencari Eksistensi Diri di Luar Kampus?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Radar Jatim adalah media online Jatim yang memberikan informasi peristiwa dan berita Jawa Timur dan Surabaya terkini dan terbaru.

Kategori

  • Artikel dan Opini
  • Ekonomi Bisnis
  • Ekosistem Lingkungan
  • Esai/Kolom
  • Feature
  • Finance
  • HAM
  • Hukum dan Kriminal
  • Infrastruktur
  • Kamtibmas
  • Kemenkumham
  • Kesehatan
  • Komunitas
  • Kuliner
  • Lain-lain
  • Layanan Publik
  • Lifestyle
  • Literasi
  • Nasional
  • Olah Raga
  • Ormas
  • Otomotif
  • Pariwisata
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Peristiwa
  • Pertanian
  • pinggiran
  • Politik
  • Religi
  • Sastra/Budaya
  • Sosial
  • Tekno
  • TNI
  • TNI-Polri
  • Transportasi
  • video
  • Wisata

Kami Juga Hadir Disini

© 2020 radarjatim.id
Susunan Redaksi ∣ Pedoman Media Siber ∣ Karir

No Result
View All Result
  • Home
  • Politik
  • Hukum dan Kriminal
  • Nasional
  • Lifestyle
  • Tekno
  • Ekonomi Bisnis
  • Artikel dan Opini

© 2020radarjatim.id

Login to your account below

Forgotten Password?

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In