SIDOARJO (RadarJatim.id) — “Aksara Jawa itu susah, membosankan, dan kuno.” Anggapan ini sempat terlontar dari para siswa kelas 4.3 SD Al Falah Darussalam 2 Sidoarjo saat mengikuti mata pelajaran Bahasa Jawa. Bagi anak-anak, menghafal bentuk aksara, membaca pasangan, dan menuliskannya terasa monoton serta jauh dari kehidupan sehari-hari.
Persoalan ini terlihat jelas dari capaian belajar kelas. Dari 30 siswa di kelas 4.3, awal mulanya hanya tiga anak (10%) yang berhasil mencapai KKM (Ketuntasan Kriteria Minimum) 75. Sebanyak 27 siswa (90%) lainnya belum tuntas karena metode belajar konvensional yang berpatokan pada buku dan papan tulis membuat mereka cepat bosan.
Melihat tantangan tersebut, guru Bahasa Jawa SD Al Falah Darussalam 2, Imawati, M.Pd., pada 21 September 2026 mengembangkan sebuah inovasi pembelajaran berbasis teknologi, permainan, dan seni bernama CENIL VIRAL BU BEJO (Coding Edukasi NumerasI Literasi VIRtual gALeri BUdaya BElajar aksara JOwo).
Ia menguaraikan kalau Inovasi ini memanfaatkan model Discovery Learning yang dikemas dalam lima bagian menarik:
CENIL VIRAL (Virtual Gallery): Siswa menjelajahi galeri aksara Jawa virtual lewat aplikasi Artsteps 360°. Berperan sebagai “detektif budaya”, mereka aktif mencari informasi sejarah hingga lagu metode aksara Jawa secara mandiri.
CENIL BEJO (BElajar aksara JOwo): Siswa mendalami cara membaca dan menulis aksara Jawa menggunakan metode khas yang diciptakan guru dan telah mengantongi sertifikat HAKI.
CENIL ECO (Edukasi COding): Melatih logika berpikir kritis lewat permainan interaktif. Siswa mengikuti instruksi arah coding untuk mencapai misi tertentu.
CENIL SELASI (SEmangat Literasi numerASI): Mengaitkan materi berhitung dengan budaya lokal, seperti simulasi bertransaksi membeli jajanan pasar tradisional cenil.
CENIL WENAK (Wujud Ekspresi Nyata Anak Kreatif): Siswa mengekspresikan pemahaman mereka dengan membuat karya dua atau tiga dimensi berbentuk aksara Jawa memanfaatkan barang bekas seperti kardus, koran, hingga stik es krim.
“Penerapan CENIL VIRAL BU BEJO terbukti membawa dampak signifikan. Tingkat ketuntasan belajar siswa kelas 4.3 melonjak tajam, dari yang semula 10% (3 siswa) menjadi 86,67% (26 siswa),” terang Imawati pada (23/9/2026) pagi.
“Tak sekadar meningkatkan nilai akademis, metode ini juga mendorong keterlibatan aktif siswa di kelas. Anak-anak menjadi lebih berani bertanya, berdiskusi, dan percaya diri saat melakukan presentasi,” jelas Imawati.
Tantangannya bukan sekadar membuat anak mampu menghafal aksara Jawa, melainkan bagaimana membuat mereka tertarik dan merasa bahwa aksara Jawa tetap relevan dengan kehidupan mereka saat ini.
“Jadi, sangat jelas melalui inovasi ini, pembelajaran aksara Jawa yang sempat dianggap kuno berhasil disulap menjadi pengalaman belajar yang aktif, kreatif, dan menyenangkan bagi generasi muda,” jelas Imawati.(mad)








