SIDOARJO (RadarJatim.id) — Universitas Muhammadiyah Ponorogo (UMPO) bersama Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (UMSIDA) memperkuat kolaborasi penelitian melalui kegiatan validasi dataset dan Focus Group Discussion (FGD), dalam pengembangan prototipe analisis komunikasi akademik berbasis text mining dan Artificial Intelligence (AI).
Kegiatan ini merupakan bagian dari Riset Terapan Luaran Prototipe BIMA Kemendiktisaintek 2026 yang dikembangkan oleh Tim Prototipe UMPO bersama perguruan tinggi mitra.
Kegiatan di UMSIDA melibatkan Dr. Yuli Astutik, M.Pd. sebagai dosen mitra dari UMSIDA, tim Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM) UMSIDA, serta Tim Prototipe UMPO. Tim peneliti UMPO diketuai oleh Dr. Elok Putri Nimasari, M.Pd., dengan anggota Dr. Ariyanti, M.Pd.; Ir. M. Bhanu Setyawan, M.Kom.; dan Ir. Adi Fajaryanto C., M.Kom.
Menjadi mitra penelitian UMPO sejak 2025 dalam penelitian terapan model BIMA 2025, UMSIDA kembali menjadi mitra pada kelanjutan penelitian terapan prototipe BIMA 2026 Universitas Muhammadiyah Ponorogo.
Kolaborasi lintas bidang antara linguistik terapan, pendidikan, teknologi informasi, text mining, dan AI menjadi kekuatan utama penelitian ini. Penelitian berangkat dari persoalan komunikasi dalam pembimbingan tugas akhir, khususnya praktik advice-giving, pemberian umpan balik, serta dinamika relasi kuasa antara dosen dan mahasiswa yang dapat memengaruhi kualitas proses pembimbingan dan well-being mahasiswa.
Ketua Tim Peneliti UMPO Dr. Elok Putri Nimasari, M.Pd menjelaskan kalau salah satu agenda utamanya adalah validasi dataset percakapan akademik. Validasi dilakukan untuk memastikan bahwa data yang digunakan dalam pengembangan prototipe benar-benar merepresentasikan konteks komunikasi dosen dan mahasiswa.
“Jadi, mitra memberikan masukan terhadap interpretasi data, konteks ujaran, serta kategorisasi pola komunikasi yang menjadi dasar analisis sistem, yang sudah dikemas dalam FGD pada 22 Juli 2026 lalu,” ungkapnya.
Selain validasi dataset, FGD menjadi forum untuk mendiskusikan kebutuhan pengguna, pengembangan fitur, implementasi prototipe, serta peluang pemanfaatannya untuk mendukung peningkatan mutu layanan akademik di perguruan tinggi.
“Peran mitra menjadi penting karena pengembangan AI tidak hanya membutuhkan ketepatan komputasional, tetapi juga validasi kontekstual dari pengguna dan pemangku kepentingan pendidikan tinggi,” jelasnya pada (17/8/2026) siang.
Prototipe dikembangkan bukan sekadar sebagai alat transkripsi. Sistem diarahkan untuk mampu mentranskripsikan percakapan, menganalisis pola advice-giving, membaca dinamika relasi kuasa, serta memberikan masukan terhadap kualitas komunikasi akademik. Analisis antara lain mencakup kecenderungan pola power-over, power-gaining, dan power-maintaining berdasarkan ciri linguistik seperti instruksi langsung, mitigasi, klarifikasi, validasi, dan ungkapan empatik.
Dengan kemampuan tersebut, sistem diharapkan dapat membantu pengguna mengenali apakah interaksi cenderung otoritatif, kolaboratif, atau telah memberikan ruang yang lebih besar bagi mahasiswa untuk terlibat dan mengambil keputusan akademik.
“Prototipe juga diarahkan untuk memberikan rekomendasi terhadap bagian komunikasi yang masih dapat ditingkatkan agar lebih dialogis, empatik, etis, dan memberdayakan,” kata Dr. Elok.
Pada tahap pengembangan selanjutnya, prototipe memiliki peluang untuk diperluas ke arah analisis indikator well-being mahasiswa.
Ia uraikan, arah ini didasarkan pada penelitian sebelumnya yang menunjukkan bahwa pengalaman supervisi akademik berkaitan dengan dimensi positive emotion, positive relationship, engagement, meaning, dan accomplishment. “Dengan demikian, teknologi ke depan berpotensi tidak hanya membaca struktur bahasa, tetapi juga mengidentifikasi indikator komunikasi yang berkaitan dengan kualitas pengalaman mahasiswa selama proses supervisi,” urainya.
Adapun, nilai strategis lain dari prototipe adalah relevansinya dengan siklus PPEPP—Penetapan, Pelaksanaan, Evaluasi, Pengendalian, dan Peningkatan dalam Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI). Perguruan tinggi dapat menetapkan standar mutu pembimbingan, melaksanakan proses supervisi berdasarkan standar tersebut, kemudian menggunakan hasil analisis prototipe sebagai salah satu sumber data untuk evaluasi.
Hasil evaluasi selanjutnya dapat mendukung proses pengendalian terhadap aspek pembimbingan yang perlu diperbaiki dan menjadi dasar peningkatan mutu secara berkelanjutan.
“Dengan demikian, data percakapan yang sebelumnya bersifat kualitatif dan sulit dievaluasi secara sistematis dapat diolah menjadi informasi pendukung untuk evidence-based quality assurance,” terang Dr. Yuli Astutik menambahkan.

Keterkaitan yang kuat dengan PPEPP juga membuka potensi besar bagi hilirisasi dan pengembangan bisnis hasil penelitian. Karena seluruh perguruan tinggi membutuhkan proses evaluasi dan peningkatan mutu secara berkelanjutan, prototipe memiliki peluang pasar yang luas. Karakter produk berbasis perangkat lunak memungkinkan sistem direplikasi dan diimplementasikan pada berbagai institusi pendidikan tinggi.
Ke depan, prototipe berpotensi dikembangkan menjadi platform analitik supervisi akademik, dashboard monitoring mutu komunikasi, instrumen pendukung Audit Mutu Internal, perangkat pelatihan dosen, maupun layanan analisis komunikasi akademik.
“Model hilirisasi dapat diarahkan melalui lisensi institusi, layanan Software as a Service (SaaS), kerja sama implementasi dengan unit penjaminan mutu, hingga integrasi dengan sistem akademik perguruan tinggi,” tambahnya.
“Melalui kolaborasi UMPO dan UMSIDA, penelitian ini diharapkan tidak berhenti pada publikasi dan prototipe, tetapi bergerak menuju inovasi yang dapat digunakan, direplikasi, serta memiliki nilai akademik, sosial, dan ekonomi,” harap Dr. Elok_sapaan akrabnya.(mad)






