KEDIRI (RadarJatim.id) – Kasus kebakaran di Kabupaten Kediri menunjukkan tren peningkatan sepanjang lima bulan pertama 2026. Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Kediri mencatat sebanyak 63 kejadian kebakaran terjadi pada periode Januari hingga Mei 2026 atau naik sekitar 28 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang tercatat 49 kasus.
Kepala Satpol PP Kabupaten Kediri, Kaleb Untung Satrio Wicaksono, mengatakan, peningkatan jumlah kejadian tersebut dipengaruhi oleh kombinasi faktor cuaca dan kelalaian manusia. Menurut dia, musim kemarau yang lebih panjang membuat kondisi lingkungan menjadi lebih kering, sehingga material yang mudah terbakar menjadi semakin rentan memicu kebakaran.
“Kalau di tahun 2026 Januari sampai Mei kita ada 63 kejadian, berarti ada peningkatan dibandingkan tahun 2025,” kata Kaleb saat ditemui di kantornya, Selasa (9/6/2026).
Meski demikian, Kaleb menilai faktor manusia atau human error masih menjadi salah satu penyebab utama kebakaran yang terjadi di wilayah Kabupaten Kediri. Beberapa kasus bermula dari aktivitas pembakaran sampah yang ditinggalkan tanpa pengawasan hingga api merambat ke area lain.
Selain itu, kebiasaan membakar sisa panen tebu juga masih kerap ditemukan dan berpotensi menimbulkan kebakaran ketika kondisi cuaca sedang kering. Tak hanya itu, instalasi listrik yang sudah tua dan tidak pernah diperbarui juga menjadi faktor dominan penyebab kebakaran rumah maupun bangunan lainnya.
“Kurangnya perhatian terhadap peremajaan instalasi listrik juga sering menyebabkan kebakaran,” ujarnya.
Berdasarkan data yang dihimpun Satpol PP Kabupaten Kediri, nilai kerugian akibat kebakaran sepanjang tahun ini bervariasi. Dalam beberapa kejadian, kerugian tercatat sekitar Rp 5 juta, sementara pada kasus yang lebih besar nilainya bisa mencapai Rp 100 juta.
Di sisi lain, tugas pemadam kebakaran kini tidak hanya berkutat pada penanganan api. Petugas juga menangani berbagai operasi penyelamatan atau rescue non-kebakaran yang jumlahnya justru meningkat lebih tinggi dibandingkan kasus kebakaran.
Selama Januari hingga Mei 2025, Damkar Kabupaten Kediri menangani 470 kejadian non-kebakaran. Angka tersebut melonjak menjadi 769 kejadian pada periode yang sama tahun 2026. Layanan tersebut meliputi evakuasi ular, penanganan sarang tawon vespa, penyelamatan ternak yang terjebak, hingga berbagai kondisi darurat lain yang membutuhkan respons cepat petugas.
Melihat tingginya angka kejadian tersebut, Satpol PP Kabupaten Kediri terus mengintensifkan sosialisasi dan edukasi pencegahan kebakaran kepada masyarakat. Kegiatan itu menyasar sekolah, kelompok masyarakat, pelaku usaha hingga dapur program Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Menariknya, seluruh kegiatan edukasi dan simulasi pencegahan kebakaran diberikan secara gratis. Masyarakat hanya diminta menyediakan sarana pendukung yang digunakan saat praktik pemadaman.
“Kami tetap memberikan pelayanan secara gratis sebagai bentuk pelayanan kepada masyarakat,” ujar Kaleb.
Untuk mempercepat penanganan kejadian, Damkar Satpol PP Kabupaten Kediri menempatkan personel dan armada di tiga pos utama, yakni Pare, Grogol, dan Ngadiluwih. Keberadaan tiga pos tersebut diharapkan mampu memperluas jangkauan layanan ke seluruh wilayah Kabupaten Kediri.
Kaleb menjelaskan, sesuai Standar Pelayanan Minimal (SPM), petugas damkar ditargetkan tiba di lokasi maksimal 15 menit setelah laporan diterima. Namun, kendala yang masih sering dihadapi adalah keterlambatan laporan dari masyarakat. Dalam sejumlah kejadian, petugas baru menerima informasi ketika api sudah membesar karena warga panik atau belum mengetahui saluran pelaporan yang harus dihubungi.
“Kadang masyarakat lapornya terlambat atau tidak tahu harus melapor ke mana. Saat terjadi kejadian mereka panik terlebih dahulu sebelum akhirnya menghubungi petugas,” katanya.
Karena itu, Kaleb mengimbau masyarakat untuk segera melaporkan setiap kejadian kebakaran maupun kondisi darurat lainnya agar petugas dapat bergerak lebih cepat dan potensi kerugian dapat ditekan seminimal mungkin. (rul)







