KEDIRI (RadarJatim.id) – Nama Soekarno dikenal luas sebagai simbol perjuangan kemerdekaan Indonesia. Namun, tidak banyak yang mengetahui, bahwa nama tersebut diyakini lahir dari sebuah peristiwa yang terjadi di Ndalem Pojok, Kediri, Jawa Timur, ketika sang proklamator itu masih bernama Koesno.
Sejarah itu kembali diangkat dalam peringatan Ruwat Agung Soekarno di Situs Persada Soekarno, Ndalem Pojok, Kecamatan Wates, Kabupaten Kediri, Minggu (14/6/2026).
Ketua Harian Situs Persada Soekarno Kediri, Kushartono, mengatakan, bahwa pergantian nama Koesno menjadi Soekarno dilakukan oleh Raden Mas Panji Sumosewoyo atau yang dikenal dengan nama samaran Raden Mas Mendung. Menurutnya, tokoh tersebut bukan sosok biasa. Ia merupakan putra Raden Mas Panji Sumohatmojo, seorang patih Keraton Surakarta pada masa pemerintahan Pakubuwono IX.
“Beliau yang mengobati dan menyarankan pergantian nama Koesno menjadi Soekarno,” kata Kushartono.
Kisah ini berawal dari perjalanan hidup Raden Mas Panji Sumohatmojo yang memilih meninggalkan lingkungan keraton. Meski berasal dari keluarga bangsawan dengan posisi terhormat, ia memutuskan meninggalkan kehidupan istana untuk membuka wilayah baru di kawasan Pojok, Kediri.
Keputusan tersebut kemudian menjadi awal lahirnya hubungan historis antara keluarga Panji Sumohatmojo dengan keluarga Bung Karno. Dari garis keturunan itulah lahir Raden Mas Panji Sumosewoyo yang kemudian dikenal dekat dengan keluarga Soekarno.
Dalam tradisi yang berkembang di Ndalem Pojok, ia disebut sebagai ayah angkat Bung Karno sekaligus tokoh yang berperan dalam pergantian nama Koesno. Pergantian nama sendiri bukan hal yang asing dalam budaya Jawa.
Pada masa itu, perubahan nama kerap dilakukan ketika seorang anak sering sakit atau mengalami berbagai kesulitan hidup. Nama baru dipercaya membawa harapan, doa, sekaligus semangat baru bagi perjalanan hidup seseorang.

Bagi masyarakat Ndalem Pojok, pergantian nama Koesno menjadi Soekarno tidak hanya dimaknai sebagai tradisi budaya. Peristiwa tersebut dianggap sebagai bagian dari awal perjalanan sejarah seorang anak yang kelak tumbuh menjadi pemimpin bangsa.
Kushartono menjelaskan, cerita mengenai pergantian nama tersebut selama ini diwariskan secara turun-temurun. Namun, menurutnya, terdapat sejumlah sumber yang turut memperkuat kisah tersebut. Salah satunya berasal dari keterangan Raden Mas Said Sumodiharjo, tokoh yang dikenal sebagai pejuang perintis kemerdekaan.
Dalam berbagai dokumen, Raden Mas Said juga tercatat pernah menjadi Kepala Rumah Tangga Istana dan penasihat Presiden Soekarno.
“Keterangan ini bukan hanya cerita tutur. Ada dokumen yang menjelaskan posisi dan peran Raden Mas Said Sumodiharjo,” ujarnya.
Selain itu, nama Raden Mas Said juga disebut dalam buku karya Jenderal A.H. Nasution berjudul Memenuhi Panggilan Tugas. Dalam buku tersebut, ia digambarkan sebagai salah satu tokoh yang memiliki kedekatan dengan lingkungan Istana Kepresidenan.
Bagi pengelola Situs Persada Soekarno, keberadaan dokumen dan literatur tersebut menjadi bagian penting dalam menjaga jejak sejarah yang berkembang di Ndalem Pojok. Sebab, dari tempat itulah masyarakat meyakini lahir nama Soekarno, nama yang kemudian menjadi bagian penting dalam perjalanan bangsa Indonesia.
Lebih dari seabad kemudian, kisah itu masih terus diceritakan. Dari seorang anak bernama Koesno di sebuah kampung di Kediri, lahirlah nama Soekarno yang kemudian dikenal dunia sebagai proklamator kemerdekaan Indonesia. (rul)







