Oleh Tengsoe Tjahjono
Bangsa yang besar tidak hanya dibangun oleh para pemimpin politik, ekonom, atau ilmuwan. Ia juga dibangun oleh para sastrawan. Mereka bekerja dengan kata-kata, tetapi pengaruhnya jauh melampaui kata-kata itu sendiri. Mereka menyalakan imajinasi kebangsaan, menumbuhkan kesadaran kemanusiaan, mengkritik kekuasaan, dan memelihara ingatan kolektif masyarakat.
Karena itu, pameran jejak kreatif Asrul Sani yang diselenggarakan oleh Pelaku Sanggar Pelakon, Himpunan Sarjana Kesusastraan Indonesia (HISKI), dan Perpustakaan Nasional (Perpusnas) Republik Indonesia sesungguhnya bukan sekadar pameran tentang seorang sastrawan. Ia adalah peristiwa kebudayaan yang mengingatkan kita tentang pentingnya para sastrawan dalam membangun Indonesia.
Menurut Prof Dr Novi Anoegrahjekti, Ketua HISKI, pameran yang berlangsung hingga 17 Juni 2026 tersebut menyajikan visualisasi peristiwa, pemikiran, pembaruan, karya, dan beragam prestasi yang dicapai Asrul Sani. Pengunjung tidak hanya diperlihatkan foto, manuskrip, atau dokumen sejarah, tetapi juga diajak memasuki dunia pemikiran seorang sastrawan yang selama hidupnya terus memperjuangkan kemerdekaan berekspresi, kemanusiaan, dan kebudayaan Indonesia.
Asrul Sani merupakan salah satu arsitek penting kebudayaan Indonesia modern. Ia adalah penyair, penulis esai, penulis skenario film, dan intelektual kebudayaan yang terlibat aktif dalam berbagai pergulatan bangsa sejak masa revolusi kemerdekaan.
Bersama generasi Angkatan ’45, Asrul Sani meyakini, bahwa kemerdekaan politik harus diikuti oleh kemerdekaan kebudayaan. Bangsa yang merdeka bukan hanya bangsa yang memiliki wilayah dan pemerintahan sendiri, tetapi juga bangsa yang memiliki kepribadian budaya dan keberanian untuk menciptakan karya-karya besar.
Sumbangan Asrul Sani tidak berhenti pada karya sastra. Melalui esai, pemikiran kebudayaan, dan kiprahnya di dunia perfilman, ia membantu membangun identitas Indonesia yang terbuka, modern, dan humanis. Ia menunjukkan, bahwa sastra bukan barang mewah yang terpisah dari kehidupan masyarakat, melainkan kekuatan yang membentuk cara manusia memandang dirinya, bangsanya, dan masa depannya.
Apa yang dilakukan Asrul Sani sesungguhnya juga dilakukan oleh banyak sastrawan besar Indonesia lainnya. W. S. Rendra, misalnya, membangun kesadaran sosial dan politik melalui puisi dan pertunjukan teaternya. Ia mengajarkan keberanian untuk bersuara, mempertanyakan ketidakadilan, dan membela martabat manusia. Puisi-puisinya menjadikan sastra sebagai suara nurani bangsa.
Sapardi Djoko Damono mengajarkan kehalusan budi, kepekaan perasaan, dan penghargaan terhadap kehidupan sehari-hari. Dalam puisi-puisinya yang nampak sederhana, tersimpan kedalaman filsafat dan kemanusiaan. Ia membangun bangsa melalui pendidikan rasa, sebab bangsa yang besar tidak hanya membutuhkan kecerdasan intelektual, tetapi juga kecerdasan emosional dan spiritual.
Sementara itu, Sutardji Calzoum Bachri melakukan pembaruan mendasar terhadap bahasa puisi Indonesia. Ia membebaskan kata-kata dari kungkungan makna yang mapan dan mengembalikan puisi pada daya mantra serta energi bunyinya. Pembaruan estetik semacam ini penting bagi kehidupan bangsa karena menunjukkan, bahwa kreativitas dan keberanian bereksperimen adalah syarat utama kemajuan kebudayaan.
Begitu pula Taufiq Ismail yang menjadikan puisi sebagai sarana pendidikan moral dan kebangsaan. Melalui karya-karyanya, ia menumbuhkan kepekaan terhadap persoalan sosial, kemiskinan, kemanusiaan, dan demokrasi. Puisinya mengingatkan bangsa ini agar tidak kehilangan nurani.
Kemudian Putu Wijaya memperlihatkan, bahwa sastra dapat menjadi ruang untuk menggugat berbagai kemapanan. Melalui cerpen, novel, dan drama, ia mengajak masyarakat berpikir kritis, mempertanyakan hal-hal yang dianggap biasa, dan melihat kenyataan dari sudut pandang yang tidak lazim. Kemampuan untuk berpikir kritis dan kreatif inilah yang sesungguhnya menjadi modal utama sebuah bangsa untuk terus berkembang.
Masih banyak nama lain yang telah mengukir jejak besar dalam pembangunan kebangsaan melalui sastra: Pramoedya Ananta Toer yang membangun kesadaran sejarah; Toeti Heraty yang memperjuangkan pemikiran kritis dan kesetaraan; serta Ahmad Tohari yang menghadirkan suara masyarakat kecil dan kearifan lokal dalam karya-karyanya.
Para sastrawan tersebut mengajarkan satu hal penting: bangsa dibangun bukan hanya dengan jalan raya, gedung pencakar langit, atau angka pertumbuhan ekonomi. Bangsa juga dibangun oleh ide, imajinasi, etika, dan cita-cita bersama. Sastra membantu masyarakat memahami makna keadilan, kemanusiaan, cinta tanah air, keberagaman, dan harapan. Dalam pengertian inilah para sastrawan adalah pembangun bangsa dan penjaga kebangsaan.
Karena itu, pameran jejak kreatif para sastrawan memiliki arti yang sangat penting. Pameran ini menghadirkan kembali para tokoh tersebut ke tengah masyarakat. Arsip, manuskrip, foto, surat, dan berbagai dokumentasi tidak lagi menjadi benda mati yang tersimpan di lemari perpustakaan, tetapi berubah menjadi jendela yang membuka pemahaman baru tentang perjalanan kebudayaan Indonesia.
Bagi generasi muda, pameran semacam ini memiliki nilai pendidikan yang luar biasa. Banyak pelajar mengunjungi pameran jejak kreatif Asrul Sani. Kehadiran mereka menunjukkan bahwa generasi muda sesungguhnya memiliki rasa ingin tahu terhadap sejarah dan kebudayaan bangsanya. Ketika mereka melihat naskah asli, foto-foto lama, atau perjalanan kreatif seorang sastrawan, mereka tidak sekadar memperoleh informasi, tetapi juga mengalami perjumpaan emosional dengan sejarah.
Hubungan antara sastrawan, pameran, dan generasi muda sesungguhnya adalah hubungan pewarisan kebudayaan. Sastrawan mewariskan gagasan dan karya; pameran menjembatani warisan itu agar dapat diakses dan dipahami; sedangkan generasi muda menjadi pewaris yang akan menentukan keberlanjutan kebudayaan bangsa. Tanpa pameran dan upaya dokumentasi, jejak para sastrawan akan perlahan memudar dari ingatan publik. Tanpa generasi muda yang mau membaca dan mempelajarinya, warisan kebudayaan akan kehilangan penerus.
Karena itu, pameran jejak kreatif Asrul Sani yang diprakarsai Pelaku Sanggar Pelakon, HISKI, dan Perpusnas ini patut dipandang sebagai kerja kebudayaan yang sangat penting dan strategis. Pameran ini bukan sekadar mengenang masa lalu, melainkan menyalakan kembali api kreativitas dan kebangsaan. Ia mengingatkan, bahwa Indonesia dibangun bukan hanya oleh para pejuang di medan perang atau para pemimpin di ruang kekuasaan, tetapi juga oleh para sastrawan yang berjuang melalui kata-kata, imajinasi, dan pemikiran.
Di tengah zaman yang serba cepat dan cenderung melupakan sejarah, pameran ini menjadi penanda, bahwa bangsa yang beradab adalah bangsa yang menghormati para pemikir dan senimannya. Selama jejak kreatif para sastrawan terus dirawat, dipamerkan, dan diperkenalkan kepada generasi muda, selama itu pula api kebudayaan Indonesia akan tetap menyala. {*}
*) Tengsoe Tjahjono, Sastrawan dan dosen FIB Universitas Brawijaya Malang. Peraih Penghargaan Bidang Sastra dari Gubernur Jawa Timur (2012), Anugerah Sutasoma dari Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur (2017), Penghargaan 40 Tahun Berkarya dari Pemerintah melalui Badan Bahasa (2024), dan Anugerah Sabda Budaya dari FIB Universitas Brawijaya Malang sebagai Sastrawan Berdampak (2025).






