Oleh Tengsoe Tjahjono
Pengusulan seorang sastrawan untuk memperoleh Nobel Sastra tidak dapat dilakukan hanya atas dasar kekaguman terhadap karya-karyanya. Ia memerlukan legitimasi akademik, jejaring internasional, dokumentasi ilmiah yang memadai, serta dukungan komunitas intelektual yang mampu menunjukkan signifikansi karya tersebut bagi peradaban dunia.
Dalam konteks inilah langkah Himpunan Sarjana Kesusastraan Indonesia (HISKI) mengusung Taufiq Ismail menuju Nobel Sastra sungguh relevan. Yang sedang dibangun HISKI bukan sekadar sebuah nominasi, melainkan fondasi akademik yang memungkinkan karya seorang penyair Indonesia dibaca dan dipahami dalam percakapan sastra dunia.
HISKI memiliki legitimasi yang kuat untuk menjalankan peran tersebut. Sebagai organisasi profesi yang menghimpun para sarjana kesusastraan Indonesia dari berbagai perguruan tinggi, HISKI merepresentasikan komunitas akademik yang selama puluhan tahun mengembangkan penelitian, kritik, dan pendidikan sastra.
Dukungan yang diberikan bukan merupakan pendapat perseorangan, melainkan hasil kerja kolektif para pakar sastra dari berbagai wilayah Indonesia. Keterlibatan komisariat HISKI dari Aceh hingga Papua menunjukkan, bahwa gerakan ini memperoleh dukungan basis nasional yang luas sekaligus mencerminkan keberagaman perspektif akademik terhadap karya Taufiq Ismail.
Legitimasi tersebut semakin kuat, karena diwujudkan melalui kerja ilmiah yang sistematis. HISKI menyelenggarakan lokakarya penyamaan persepsi guna memetakan fokus kajian para penulis dan menghindari pengulangan tema. Mekanisme seleksi dilakukan berdasarkan kesesuaian tema, kebaruan, pendekatan, serta sebaran wilayah dan afiliasi akademik.
Dari proses tersebut terkumpul 51 abstrak guru besar dan 26 abstrak terpilih dari kalangan doktor dan magister. Dengan demikian, buku yang sedang disusun bukan sekadar bunga rampai penghormatan, melainkan himpunan kajian ilmiah yang memperlihatkan keluasan, kedalaman, dan keragaman pembacaan terhadap karya-karya Taufiq Ismail.
Upaya HISKI juga menunjukkan pemahaman, bahwa Nobel Sastra menuntut lebih dari sekadar mutu karya sastra. Ia memerlukan dokumentasi yang komprehensif, jejaring akademik internasional, serta komunikasi lintas negara. Karena itu, koordinasi bersama Diaspora Minang, akademisi, komunitas sastra, dan berbagai pemangku kepentingan menjadi bagian penting dari strategi pengusulan. Kehadiran dukungan dari akademisi luar negeri menunjukkan, bahwa proses ini diarahkan untuk membangun pengakuan internasional melalui jalur akademik yang kredibel.
Di sisi lain, kelayakan Taufiq Ismail sebagai kandidat penerima Nobel Sastra tidak hanya bertumpu pada produktivitas kepenyairannya, tetapi juga pada keluasan pengaruh yang ditimbulkannya selama lebih dari setengah abad. Ia merupakan salah satu penyair Indonesia yang berhasil menjadikan puisi sebagai ruang dialog antara estetika, moral, sejarah, dan kemanusiaan.
Puisi-puisinya tidak berhenti sebagai ekspresi individual, melainkan berkembang menjadi kesaksian sosial yang merekam pergulatan bangsa sekaligus menyuarakan nilai-nilai universal, seperti keadilan, kebebasan, martabat manusia, dan solidaritas. Tema-tema tersebut merupakan persoalan yang melampaui batas geografis Indonesia, sehingga memungkinkan karya-karyanya dibaca dalam horizon kemanusiaan yang lebih luas.
Keistimewaan lain terletak pada konsistensi Taufiq Ismail dalam menjembatani sastra dengan dunia pendidikan. Ia tidak hanya menghasilkan karya sastra yang berpengaruh, tetapi juga aktif membangun budaya literasi, menggerakkan pembacaan puisi, memperkenalkan sastra kepada generasi muda, serta mengembangkan berbagai kegiatan kebudayaan yang menjadikan sastra sebagai bagian dari pembentukan karakter bangsa. Dengan demikian, kontribusinya tidak berhenti pada penciptaan karya, melainkan juga pada pembentukan ekosistem sastra Indonesia.
Karya-karya Taufiq Ismail juga memperlihatkan keseimbangan yang jarang ditemukan antara kekuatan estetik dan tanggung jawab etik. Bahasa puisinya sederhana tetapi padat makna; citra-citranya dekat dengan pengalaman sehari-hari, namun mampu menghadirkan refleksi yang mendalam mengenai kemanusiaan.
Kesederhanaan bentuk justru memperluas daya jangkau pembaca, sementara kedalaman gagasan menjadikan puisinya tetap relevan melintasi generasi. Perpaduan antara mutu artistik dan keberpihakan pada nilai-nilai kemanusiaan inilah yang membuat karya-karyanya memiliki resonansi universal.
Atas dasar itulah langkah HISKI mengusung Taufiq Ismail menuju Nobel Sastra memiliki landasan yang kokoh. Organisasi ini menawarkan proses akademik yang terukur, melibatkan komunitas ilmiah nasional, membangun jejaring internasional, dan menyusun dokumentasi ilmiah yang komprehensif.
Pada saat yang sama, sosok Taufiq Ismail menghadirkan rekam jejak kepenyairan yang panjang, kontribusi kebudayaan yang luas, serta karya-karya yang menghubungkan pengalaman Indonesia dengan nilai-nilai kemanusiaan universal.
Apabila Nobel Sastra merupakan penghargaan bagi seorang pengarang yang menghasilkan karya dengan sumbangan penting bagi kemanusiaan melalui sastra, maka ikhtiar HISKI merupakan langkah yang wajar dan cukup beralasan untuk menghadirkan Taufiq Ismail ke dalam percakapan sastra dunia. Langkah ini bukan semata-mata demi penghargaan itu sendiri, melainkan untuk memperlihatkan, bahwa sastra Indonesia memiliki capaian intelektual dan moral yang layak memperoleh pengakuan internasional. {*}
*) Tengsoe Tjahjono, Sastrawan dan dosen FIB Universitas Brawijaya Malang. Peraih Penghargaan Bidang Sastra dari Gubernur Jawa Timur (2012), Anugerah Sutasoma dari Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur (2017), Penghargaan 40 Tahun Berkarya dari Pemerintah melalui Badan Bahasa (2024), dan Anugerah Sabda Budaya dari FIB Universitas Brawijaya Malang sebagai Sastrawan Berdampak (2025).







