SIDOARJO (RadarJatim.id) – Lingkungan sekolah yang biasanya menjadi tempat aktivitas belajar dan olahraga berubah menjadi pusat kreativitas, sportivitas, dan inovasi melalui gelaran classmeeting tahunan bertajuk FESTAR (Festival of Sport and Talent SMANSTAR).
FESTAR hadir dengan konsep yang lebih segar dan edukatif, menggabungkan nilai-nilai budaya tradisional dengan perkembangan teknologi modern.
Puncaknya dibuka secara resmi oleh Kepala SMA Negeri 1 Tarik, Muhammad Fadloli, S.Pd., M.M, pada (17/6/2026) pagi di lapangan sekolah. Momen tersebut berlangsung meriah ketika kepala sekolah melakukan pemotongan pita sebagai simbol dimulainya FESTAR.
Menarik, Muhammad Fadloli juga sempat memperagakan tendangan bola handball langsung ke gawang, sebagai tanda dimulainya seluruh rangkaian perlombaan.
Ia tegaskan, implementasi nilai-nilai yang diperoleh dalam FESTAR tidak boleh berhenti hanya pada pelaksanaan kegiatan sekolah semata.
Sehingga kami berharap ke depan, murid harus mampu membawa pengalaman berharga ini ke dalam kehidupan nyata di lingkungan masing-masing.
“Jadi bekal yang mereka peroleh melalui kegiatan seperti ini menjadi salah satu tolok ukur bahwa SMA Negeri 1 Tarik mampu mengembangkan pribadi-pribadi yang terus bertumbuh, berkembang, kreatif, adaptif terhadap perubahan zaman, namun tetap berakar pada budaya dan karakter bangsa,” harapnya.

Beragam kompetisi yang dirancang untuk mengakomodasi minat dan bakat siswa. Mulai dari lomba fotografi yang mengasah kreativitas visual, pertandingan handball yang menguji ketangkasan dan kerja sama tim, hingga kompetisi E-Sport Free Fire yang menjadi salah satu cabang favorit Gen Z saat ini.
Namun demikian, perhatian terbesar justru tertuju pada Bazar Kuliner FESTAR yang tampil dengan konsep berbeda dari biasanya. Berbagai stan yang dikelola siswa menyajikan aneka makanan dan minuman tradisional yang dikemas secara modern dan menarik.
Pengunjung dapat menikmati beragam kuliner khas nusantara dengan tampilan yang lebih kekinian tanpa menghilangkan cita rasa dan nilai budaya yang melekat di dalamnya.
Keunikan bazar semakin terasa melalui penerapan sistem pembayaran yang inovatif. Panitia memperkenalkan konsep hybrid transaction, yaitu perpaduan antara teknologi keuangan digital dengan alat tukar tradisional. Sebelum memasuki area bazar, setiap siswa diwajibkan melakukan penukaran saldo digital melalui QRIS atau transfer menjadi Koin Gobog.
Koin Gobog yang terbuat dari bambu tersebut kemudian menjadi satu-satunya alat pembayaran resmi di seluruh area bazar. Konsep ini berhasil menarik perhatian siswa karena memberikan pengalaman bertransaksi yang berbeda sekaligus sarat makna edukatif.
Menurut Umi Nadhofa, S.Pd., selaku pembimbing Bazar Kuliner FESTAR, kegiatan tersebut menjadi sarana pembelajaran yang sangat relevan bagi generasi muda di tengah derasnya perkembangan teknologi. “Kami sangat bangga dengan terselenggaranya kegiatan ini,” ungkapnya.
Harapannya adalah memberikan pengalaman nyata kepada murid mengenai pelestarian budaya tradisional, khususnya dalam bidang ekonomi kreatif.
Di satu sisi, kami tetap mengikuti perkembangan zaman dengan meminimalisir penggunaan uang tunai melalui sistem e-money. “Namun di sisi lain, murid tetap dapat merasakan sensasi bertransaksi menggunakan koin bambu layaknya masyarakat pada masa lalu,” ujarnya.
“Melalui inovasi tersebut, siswa tidak hanya belajar memahami sejarah alat tukar tradisional, tetapi juga semakin terbiasa memanfaatkan teknologi keuangan digital yang kini menjadi bagian dari kehidupan masyarakat modern,” katanya.
Sementara itu kehadiran mahasiswa Program Pengenalan Lapangan Persekolahan (PLP) Universitas Negeri Surabaya (UNESA) Tahun 2026 dari Program Studi Pendidikan Kimia turut menambah semarak pelaksanaan FESTAR.
Tidak hanya berperan sebagai pengamat dan pendamping kegiatan, para mahasiswa praktikan juga merasakan secara langsung atmosfer kebersamaan dan kreativitas yang terbangun selama acara berlangsung.
Salah satu mahasiswa Halimatus Sa’diah, mengungkapkan kekagumannya terhadap konsep kegiatan yang dinilai mampu mengintegrasikan unsur budaya, pendidikan, dan hiburan dalam satu rangkaian acara yang menarik.

Senada, mahasiswa PLP lainnya, Citra Sari Nur Fadilah, menilai bahwa FESTAR menjadi contoh kegiatan sekolah yang mampu menciptakan ruang interaksi yang inklusif dan menyenangkan bagi seluruh warga sekolah.
“Bazar yang diselenggarakan tidak hanya menyajikan makanan yang lezat, tetapi juga menghadirkan suasana nostalgia yang sangat berkesan,” ungkapnya.
Koordinator Kegiatan, Akhmad Abudinata, S.Pd, menilai bahwa kegiatan ini menjadi media pembelajaran karakter yang efektif bagi murid.
Menurutnya, berbagai rangkaian perlombaan dan aktivitas kolaboratif yang diselenggarakan mampu memberikan pengalaman nyata dalam membangun kompetensi abad ke-21 yang dibutuhkan siswa.
“Melalui kolaborasi dalam FESTAR ini, kami berharap dapat memunculkan semangat kompetitif yang menjunjung tinggi nilai-nilai fair play,” harapnya.
Melalui kegiatan ini, siswa tidak hanya berkompetisi, tetapi juga belajar menjadi generasi yang siap menghadapi masa depan dengan tetap menghargai warisan budaya yang dimiliki.(mad)







