Oleh Tengsoe Tjahjono
Upaya mengantarkan Taufiq Ismail menuju panggung tertinggi sastra dunia terus memperoleh dukungan yang semakin luas. Sejumlah kalangan: akademisi, komunitas budaya, diaspora Minang, guru besar, diplomat, juga organisasi profesi kini bergandengan tangan mengusulkan nama Taufiq Ismail sebagai calon penerima Penghargaan Nobel Sastra tahun 2027.
Dalam gerakan besar tersebut, Himpunan Sarjana Kesusastraan Indonesia (HISKI) memperoleh kehormatan sekaligus tanggung jawab penting sebagai organisasi profesi yang turut mengusung nama sastrawan legendaris Indonesia itu untuk meraih penghargaan prestisius: Nobel.
Dalam mekanisme pengusulan Nobel, terdapat beberapa pihak yang memiliki legitimasi untuk mengajukan kandidat, di antaranya organisasi profesi yang relevan, para guru besar, penerima Nobel sebelumnya, dan akademi atau lembaga ilmiah tertentu. Dalam konteks Indonesia, HISKI dipandang sebagai organisasi yang sangat tepat untuk memberikan dukungan akademik dan intelektual terhadap pengusulan Taufiq Ismail. Sebagai organisasi profesi yang menghimpun sarjana, peneliti, dan akademisi bidang sastra dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia, HISKI memiliki kapasitas keilmuan yang kuat untuk memperkuat argumentasi mengenai kontribusi Taufiq Ismail bagi sastra Indonesia maupun sastra dunia.
Gerakan pengusulan ini tidak berdiri sendiri. Di belakangnya terdapat kerja bersama berbagai elemen bangsa. Komunitas Diaspora Minang, para akademisi dari berbagai universitas, para guru besar, budayawan, diplomat, serta sejumlah tokoh nasional telah membangun sinergi yang semakin solid. Berbagai tim pendukung dibentuk untuk menggarap aspek-aspek yang diperlukan dalam proses pengusulan, mulai dari penyusunan dokumen akademik, penguatan jejaring internasional, penerjemahan karya, hingga diplomasi kebudayaan.
Dukungan HISKI diwujudkan dalam bentuk yang konkret. Organisasi ini tengah menyiapkan berbagai tulisan akademik bersama yang melibatkan para guru besar, peneliti, dosen, mahasiswa pascasarjana, dan anggota HISKI dari berbagai daerah. Salah satu gagasan yang sedang dikembangkan adalah penyusunan sebuah buku bersama yang memuat kajian-kajian komprehensif mengenai karya, pemikiran, pengaruh, dan kontribusi Taufiq Ismail dalam perkembangan sastra Indonesia maupun percakapan kemanusiaan global. Buku tersebut direncanakan melibatkan para akademisi dari Aceh hingga Papua sebagai simbol kebersamaan bangsa dalam mendukung salah satu putra terbaik Indonesia.
Mengapa Taufiq Ismail layak diusulkan? Pertanyaan ini sesungguhnya dapat dijawab melalui perjalanan hidup dan karyanya selama lebih dari enam dekade. Lahir di Bukittinggi, Sumatra Barat, pada 25 Juni 1935, Taufiq Ismail merupakan salah satu penyair paling berpengaruh dalam sejarah sastra Indonesia modern.
Ia dikenal sebagai tokoh sentral Angkatan ’66 yang menjadikan puisi bukan sekadar wahana estetika, melainkan juga suara nurani bangsa. Dalam karya-karyanya, ia memadukan kedalaman spiritual, kepekaan sosial, kesadaran sejarah, dan keberanian moral untuk menyuarakan kemanusiaan, kebebasan, pendidikan, serta tanggung jawab kebangsaan.
Perjalanan intelektual Taufiq Ismail menunjukkan keluasan wawasan yang luar biasa. Setelah menyelesaikan pendidikan di Fakultas Kedokteran Hewan dan Peternakan Universitas Indonesia di Bogor, ia aktif dalam dunia pendidikan, kebudayaan, dan kepengarangan.
Bersama Mochtar Lubis dan sejumlah tokoh lainnya, ia turut mendirikan majalah Horison pada tahun 1966, sebuah institusi sastra yang memiliki peran sangat besar dalam perkembangan sastra Indonesia modern. Ia juga terlibat dalam pendirian Dewan Kesenian Jakarta, Taman Ismail Marzuki, dan Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta yang hingga kini menjadi pilar penting kehidupan seni dan budaya Indonesia.
Sebagai penyair, Taufiq Ismail telah menghasilkan puluhan karya yang menjadi bagian penting dari khazanah sastra Indonesia. Buku-buku puisinya seperti Tirani dan Benteng, Sajak Ladang Jagung, Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia, Puisi-Puisi Langit, dan berbagai karya lainnya menunjukkan konsistensinya dalam memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan. Puisi-puisinya tidak hanya dibaca sebagai karya sastra, tetapi juga menjadi bagian dari pendidikan moral dan kebangsaan bagi beberapa generasi pembaca Indonesia.
Pengaruh Taufiq Ismail juga melampaui batas-batas nasional. Karya-karyanya telah diterjemahkan ke berbagai bahasa dunia dan diperkenalkan dalam berbagai forum internasional. Salah satu bukunya bahkan telah diterjemahkan ke dalam dua belas bahasa utama dunia.
Ia telah menghadiri berbagai festival sastra internasional dan menjadi salah satu wajah sastra Indonesia yang paling dikenal di luar negeri. Dengan demikian, pengusulan Nobel Sastra terhadap Taufiq Ismail bukanlah semata-mata penghargaan terhadap seorang penyair nasional, melainkan pengakuan terhadap sosok yang telah menjembatani pengalaman Indonesia dengan percakapan kemanusiaan universal.
Keseriusan gerakan pengusulan ini nampak dari berbagai langkah koordinatif yang telah dilakukan. Sejak Rabu lalu, Ketua Umum HISKI, Prof Dr Novi Anoegrajekti, bersama Sastri Sunarti Sweeney dari BRIN berangkat ke Padang untuk melakukan koordinasi bersama Prof Dr Fasli Jalal yang bertindak sebagai koordinator pengusulan Taufiq Ismail meraih Nobel Sastra.
Dalam kegiatan tersebut turut hadir Taufiq Ismail dan istrinya, Ibu Atik, serta sejumlah kolega dari Universitas Andalas dan Universitas Negeri Padang. Pertemuan tersebut menjadi bagian penting dalam konsolidasi nasional menjelang tahapan pengusulan yang akan dilakukan pada September mendatang.
Upaya ini juga telah memperoleh perhatian dari kalangan diplomatik. Para penggagas pengusulan telah melaporkan perkembangan program tersebut kepada Duta Besar Republik Indonesia untuk Norwegia dan Islandia, Teuku Faizasyah. Langkah ini penting mengingat Nobel diberikan oleh lembaga yang berbasis di kawasan Skandinavia, sehingga dukungan diplomasi kebudayaan menjadi salah satu unsur strategis dalam keseluruhan proses.
Momentum pengusulan ini dinilai sangat tepat. Pada usia 92 tahun, Taufiq Ismail masih aktif mengikuti berbagai kegiatan kebudayaan dan, syukur alhamdulillah, tetap berada dalam kondisi kesehatan yang baik. Oleh karena itu, banyak pihak menilai, bahwa saat ini merupakan waktu yang tepat untuk memberikan pengakuan dunia atas dedikasi panjang beliau terhadap sastra dan kemanusiaan.
Jika upaya ini berhasil, Taufiq Ismail akan menjadi orang Indonesia pertama yang meraih Penghargaan Nobel Sastra. Prestasi tersebut bukan hanya menjadi kebanggaan pribadi, tetapi juga akan mengangkat marwah bangsa Indonesia sebagai negara besar yang memiliki kontribusi nyata terhadap peradaban dunia.
Berbagai persiapan substantif juga telah dilakukan. Dokumen-dokumen pengusulan yang memuat data kinerja, rekam jejak kepengarangan, pengaruh intelektual, serta kontribusi kemanusiaan Taufiq Ismail telah diserahkan kepada Menteri Kebudayaan, Fadli Zon, dan Sekretaris Jenderal Kementerian Luar Negeri, Denny Abdi, dalam sebuah acara resmi yang dihadiri sekitar seribu peserta di Universitas YARSI. Menindaklanjuti hal tersebut, Kementerian Kebudayaan dan Kementerian Luar Negeri telah bersepakat memberikan fasilitasi penuh melalui pembentukan kelompok kerja khusus di masing-masing kementerian.
Ke depan, tantangan yang harus dihadapi adalah memperluas jejaring internasional. Pengusulan Nobel tidak hanya membutuhkan dokumen yang kuat, tetapi juga pengenalan yang luas terhadap karya dan pemikiran kandidat di tingkat global. Karena itu, tim pengusul tengah menjangkau para penerima Nobel sebelumnya, kritikus sastra internasional, akademisi bahasa dan sastra dunia, serta berbagai forum sastra global yang relevan.
Salah satu langkah strategis yang sedang dilakukan adalah memperbanyak penerjemahan karya-karya Taufiq Ismail ke dalam bahasa Inggris dan bahasa-bahasa dunia lainnya. Di samping karya-karya yang telah diterjemahkan, tim inti kini terus memperluas akses internasional terhadap pemikiran dan karya beliau. Penguatan media sosial, pemanfaatan jejaring akademisi Indonesia di berbagai negara, serta diplomasi budaya melalui komunitas sastra internasional juga terus dilakukan untuk membangun dukungan yang lebih luas.
Bagi HISKI, keterlibatan dalam gerakan ini merupakan peluang emas sekaligus bentuk pengabdian kepada bangsa. Di tengah kerja besar yang telah dilakukan oleh Prof Fasli Jalal bersama tim inti, Kementerian Kebudayaan, diaspora Minang, para duta besar, dan berbagai elemen masyarakat, HISKI hadir untuk memberikan kontribusi akademik yang khas: memperkuat landasan intelektual dan dokumentasi ilmiah yang menunjukkan, bahwa Taufiq Ismail merupakan salah satu penyair paling penting yang pernah dimiliki Indonesia.
Nobel Sastra bukan sekadar penghargaan bagi seorang individu. Nobel adalah pengakuan terhadap tradisi intelektual, kebudayaan, dan nilai-nilai kemanusiaan yang diperjuangkan melalui karya sastra. Ketika bangsa Indonesia bersama-sama mengusung Taufiq Ismail menuju Nobel, sesungguhnya yang sedang diperjuangkan adalah pengakuan dunia terhadap kekayaan bahasa, sastra, dan kebudayaan Indonesia.
Karena itu, mari menyatukan langkah dan energi. Dari Aceh hingga Papua, dari kampus hingga komunitas sastra, dari tanah air hingga diaspora dunia, dukungan terus mengalir. Semoga ikhtiar bersama ini menjadi jalan bagi hadirnya sejarah baru: seorang penyair Indonesia berdiri di panggung Nobel, membawa nama bangsa dan kebudayaan Indonesia ke hadapan dunia. {*}
*) Tengsoe Tjahjono, Sastrawan dan dosen FIB Universitas Brawijaya Malang. Peraih Penghargaan Bidang Sastra dari Gubernur Jawa Timur (2012), Anugerah Sutasoma dari Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur (2017), Penghargaan 40 Tahun Berkarya dari Pemerintah melalui Badan Bahasa (2024), dan Anugerah Sabda Budaya dari FIB Universitas Brawijaya Malang sebagai Sastrawan Berdampak (2025).







