Oleh Tengsoe Tjahjono
Di usia senja, perjalanan bukan lagi sekadar berpindah tempat. Perjalanan menjadi cara untuk menemukan kembali makna hidup, memperluas cakrawala batin, sekaligus mensyukuri hari-hari yang masih dianugerahkan Tuhan. Itulah yang dialami anggota Komunitas Lansia Tangguh dan Happy (KLTH) dari Malang ketika berkunjung dan menginap di Omah Petroek, Yogyakarta, pada 16 Juni 2026.
Komunitas yang digawangi oleh Caecilia Lilik Muharwati ini selama ini dikenal aktif mengembangkan berbagai kegiatan yang menjaga keseimbangan hidup para lansia. Di bidang rohani, mereka rutin mengadakan doa bersama, ibadah, dan aktivitas menulis sebagai sarana refleksi iman. Di bidang jasmani, mereka berlatih line dance dan berbagai olah raga ringan untuk menjaga kebugaran tubuh. Sementara di bidang sosial, mereka aktif melakukan bakti sosial, mengunjungi anggota yang sakit, serta memberikan penguatan kepada keluarga yang sedang berduka.
Karena itu, perjalanan ke Yogyakarta bukanlah wisata biasa. Perjalanan ini merupakan bagian dari upaya KLTH untuk terus belajar, bertumbuh, dan memperkaya pengalaman hidup di usia lanjut. Mereka ingin membuktikan, bahwa lansia bukanlah masa menunggu, melainkan masa memanen kebijaksanaan sambil terus membuka diri terhadap pengalaman baru.
Omah Petroek menjadi tujuan yang tepat. Terletak di Karang Klethak, Wonorejo, Hargobinangun, Pakem, Sleman, di lereng Gunung Merapi yang sejuk dan damai, tempat ini merupakan rumah budaya yang didirikan oleh budayawan dan imam Jesuit, Romo Sindhunata SJ. Bangunan berarsitektur Jawa itu dikelilingi pepohonan rindang, udara pegunungan yang segar, dan suasana yang mengundang orang untuk hening sekaligus berdialog dengan kehidupan.
Di tempat ini, seni, budaya, spiritualitas, dan kemanusiaan hidup berdampingan. Terdapat pendopo-pendopo budaya, Museum Anak Bajang, ruang pertunjukan seni, perpustakaan, tempat diskusi, serta kawasan peribadatan berbagai agama yang dibangun secara harmonis. Langgar, kapel, dan berbagai simbol kepercayaan berdiri berdampingan tanpa saling meniadakan. Omah Petroek bukan hanya rumah budaya, melainkan juga rumah persaudaraan.
Bagi anggota KLTH, pengalaman berada di ruang seperti itu terasa sangat berharga. Mereka melihat secara nyata bahwa Indonesia yang majemuk sesungguhnya dapat dirawat melalui penghormatan terhadap perbedaan. Di tengah berbagai ketegangan sosial yang kadang muncul atas nama identitas, Omah Petroek menawarkan pelajaran sederhana namun mendalam: manusia dapat berbeda keyakinan, tetapi tetap tinggal dalam satu halaman kemanusiaan yang sama.
Salah satu pengalaman yang paling membekas adalah ketika para lansia diajak mengenal kisah tentang Mbok Turah. Di salah satu sudut kawasan Omah Petroek terdapat sebuah pendopo dengan patung seorang perempuan Jawa yang duduk bersimpuh. Di dekatnya terdapat patung seorang anak kecil dan seorang bayi yang terbaring di palungan. Patung-patung itu tidak sekadar benda seni. Di baliknya tersimpan kisah yang menggetarkan hati.
Menurut cerita masyarakat sekitar Merapi, Mbok Turah adalah sosok perempuan yang memiliki welas asih luar biasa. Ia dikisahkan merawat bayi-bayi yang dibuang dan ditelantarkan. Dalam bahasa Jawa, turah berarti lebih atau berlimpah. Nama itu seakan menandakan kasih yang melimpah, cinta yang tidak mengenal batas, dan kemurahan hati yang melampaui kepentingan dirinya sendiri.
Kisah tersebut menyentuh hati para anggota KLTH. Sebagai orang-orang yang telah melewati berbagai fase kehidupan —membesarkan anak, merawat keluarga, menghadapi kehilangan, dan menjalani aneka perjuangan hidup— mereka menemukan resonansi yang kuat dalam figur Mbok Turah. Sosok itu mengingatkan bahwa ukuran kemanusiaan seseorang bukan terletak pada apa yang dimilikinya, melainkan pada kemampuan untuk mengasihi mereka yang paling membutuhkan.
Bagi sebagian anggota yang beriman Katolik, Mbok Turah bahkan menghadirkan asosiasi spiritual yang menarik. Sosok perempuan Jawa yang penuh belas kasih itu mengingatkan mereka pada Bunda Maria, yang dalam tradisi Gereja dikenal sebagai Bunda yang berbelas kasih.
Namun, yang menarik, perjumpaan ini tidak terjadi dalam bentuk pertentangan antara budaya lokal dan iman religius. Justru sebaliknya, budaya lokal menjadi jembatan untuk memahami nilai-nilai universal tentang kasih, pengorbanan, dan kepedulian terhadap sesama.
Di sinilah para lansia KLTH menemukan pelajaran yang lebih dalam. Mereka menyadari bahwa kebudayaan bukan sekadar tarian, bangunan, atau benda-benda warisan masa lalu. Kebudayaan adalah cara manusia memaknai hidup dan mengekspresikan nilai-nilai luhur yang diyakininya. Kisah Mbok Turah mengajarkan bahwa belas kasih dapat berbicara melalui bahasa Jawa, melalui legenda rakyat, melalui simbol-simbol lokal, namun pesannya dapat dipahami oleh siapa saja.
Pengalaman tersebut juga mengingatkan pada pemikiran teolog Jepang, Kosuke Koyama, yang pernah mengatakan bahwa teologi harus lahir dari tanah tempat manusia hidup. Kebenaran dan nilai-nilai spiritual tidak selalu hadir melalui konsep-konsep besar yang jauh dari kehidupan sehari-hari. Kadang-kadang ia hadir melalui kisah seorang ibu desa yang sederhana, melalui cerita rakyat yang diwariskan turun-temurun, atau melalui patung perempuan Jawa yang duduk bersimpuh di sebuah pendopo di lereng Merapi.
Bagi para anggota KLTH, perjumpaan dengan Mbok Turah menjadi semacam cermin. Mereka melihat kembali perjalanan hidup mereka sendiri. Bukankah selama puluhan tahun mereka juga telah menjadi “Mbok Turah” bagi keluarga masing-masing?
Mereka telah memberikan lebih dari yang dimiliki. Mereka telah mengorbankan waktu, tenaga, pikiran, bahkan impian pribadi demi anak-anak, cucu-cucu, dan orang-orang yang mereka cintai. Mereka mungkin tidak pernah masuk legenda, tetapi kehidupan mereka sendiri adalah kisah tentang kasih yang berlimpah.
Ketika malam turun di Omah Petroek dan udara Merapi semakin dingin, para lansia itu tidak hanya membawa pulang foto-foto perjalanan atau kenangan rekreasi. Mereka membawa pulang sesuatu yang lebih berharga: kesadaran, bahwa usia lanjut bukanlah masa untuk merasa usang dan ditinggalkan. Sebaliknya, usia lanjut adalah masa untuk menemukan kembali makna terdalam dari pengalaman hidup yang telah dijalani.
Perjumpaan dengan Mbok Turah di Omah Petroek telah mengajarkan satu hal penting kepada mereka: manusia menjadi semakin muda bukan karena umur yang bertambah sedikit, melainkan karena hati yang tetap mampu berbelas kasih. Dan selama kasih itu masih hidup, seseorang tidak pernah benar-benar menjadi tua.
Mungkin itulah oleh-oleh terindah yang dibawa pulang KLTH dari lereng Merapi: keyakinan, bahwa hidup yang bermakna bukanlah hidup yang panjang, melainkan hidup yang terus menghadirkan cinta bagi sesama. Sebagaimana Mbok Turah, sebagaimana para ibu dan bapak lansia itu, kasih selalu menemukan jalannya untuk tetap bertumbuh, bahkan ketika usia telah senja. {*}
*) Tengsoe Tjahjono, Sastrawan dan dosen FIB Universitas Brawijaya Malang. Peraih Penghargaan Bidang Sastra dari Gubernur Jawa Timur (2012), Anugerah Sutasoma dari Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur (2017), Penghargaan 40 Tahun Berkarya dari Pemerintah melalui Badan Bahasa (2024), dan Anugerah Sabda Budaya dari FIB Universitas Brawijaya Malang sebagai Sastrawan Berdampak (2025).







