• Pasang Iklan
  • Redaksi
  • Contact
Senin, 13 Juli 2026
No Result
View All Result
e-paper
Radar Jatim
  • Home
  • Bisnis
  • Hukum dan Kriminal
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Lifestyle
  • Contact
  • Home
  • Bisnis
  • Hukum dan Kriminal
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Lifestyle
  • Contact
No Result
View All Result
Radar Jatim
No Result
View All Result
Home Esai/Kolom

Kontroversi Pencalonan Nobel Sastra dari Indonesia

by Radar Jatim
13 Juli 2026
in Esai/Kolom
0
Kontroversi Pencalonan Nobel Sastra dari Indonesia

Much. Khoiri

31
VIEWS

Oleh Much. Khoiri

Hadiah Nobel Sastra adalah penghargaan paling prestisius di dunia sastra. Namun bagi Indonesia, perjalanan menuju penghargaan ini selalu diwarnai kontroversi. Ada nama-nama besar —Pramoedya Ananta Toer dan Denny J.A— masing-masing membawa cerita polemik yang mencerminkan dinamika, ideologi, dan “diplomasi sastra” yang unik di negeri ini.

Selain dua nama itu, ada pula Mochtar Lubis dan Y.B. Mangunwijaya yang pernah disebut-sebut dalam percakapan tentang kandidat Nobel Sastra dari Indonesia, meskipun jejak pencalonan mereka tidak terdokumentasi secara formal, seperti Pramoedya atau Denny JA.

Pram: Sastra yang Dilarang di Negeri Sendiri

Pramoedya Ananta Toer adalah sastrawan Indonesia yang dianggap berkaliber Nobel, dan bahkan ia sendiri sempat yakin akan meraihnya pada 2004. Namun, keyakinan itu tak pernah menjadi kenyataan. Banyak spekulasi mengapa Nobel tak mampir ke Pram. Salah satunya adalah masalah penerjemahan ke bahasa Inggris yang buruk, yang membuat kualitas kesusastraannya merosot di mata juri. Spekulasi lain menyebut stigma politik yang melekat padanya sebagai anggota Lekra yang berafiliasi dengan Partai Komunis Indonesia (PKI).

Kontroversi terbesar justru terjadi di dalam negeri. Karya-karya Pramoedya, termasuk tetralogi Bumi Manusia, dilarang beredar oleh Kejaksaan Agung, karena dituding mengandung pesan Marxisme-Leninisme. Ironisnya, karya-karya itu justru lebih dihargai di luar negeri. Di Malaysia, novel-novel Pram diajarkan di SMA, sementara di Indonesia banyak guru Bahasa Indonesia yang belum pernah membacanya.

Ketika Pramoedya menerima Hadiah Magsaysay pada 1995, sekelompok sastrawan dan seniman  justru menolaknya. Mereka menilai Magsaysay “tidak sepenuhnya memahami peran tidak terpuji Pramoedya pada masa paling gelap bagi kreativitas” ketika ia memimpin penindasan terhadap sesama seniman yang tidak sepaham dengannya.

Mochtar Lubis dan Y.B. Mangunwijaya

Selain Pramoedya, menurut beberapa sumber, nama Mochtar Lubis dan Y.B. Mangunwijaya pernah masuk sebagai nominator peraih Nobel Sastra, meskipun mereka masih belum beruntung. Mochtar Lubis, seorang jurnalis dan pengarang ternama, dikenal melalui novel-novelnya seperti Jalan Tak Ada Ujung dan Harimau! Harimau! yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris . Pada masa pemerintahan Soekarno, ia dijebloskan ke penjara hampir sembilan tahun dan baru dibebaskan pada 1966 .

Namun, berbeda dengan Pramoedya yang beberapa kali disebut-sebut masuk dalam daftar nominasi informal, pencalonan Mochtar Lubis tidak pernah terdokumentasikan sebagai nominasi formal. Hal yang sama berlaku untuk Y.B. Mangunwijaya (Romo Mangun), seorang pastur, arsitek, dan sastrawan yang dikenal melalui novel-novel seperti Burung-Burung Manyar dan Durga Umayi . Nama Mangunwijaya muncul dalam diskusi tentang keterpisahan antara sastra dan politik, dan ia mengungkapkan keprihatinan atas jurang pemisah tersebut.

Tak dimungkiri, kerahasiaan proses nominasi Nobel —yang baru akan terungkap 50 tahun kemudian—menyulitkan konfirmasi apakah kedua nama ini benar-benar pernah secara resmi diajukan atau hanya menjadi bagian dari percakapan intelektual tentang kelayakan sastra Indonesia di mata dunia.

Denny JA: Diplomasi Sastra ala Konsultan Politik

Pada Desember 2021, nama Denny JA mencuat sebagai kandidat Nobel Sastra 2022. Pencalonan ini dimulai dari klaim Komunitas Puisi Esai yang menyatakan telah menerima undangan resmi dari Akademi Swedia untuk mencalonkan sastrawan Indonesia, dan nama yang diajukan adalah Denny JA.

Kontroversi segera meledak. Akademi Swedia menegaskan, bahwa nama nominee tidak boleh diumumkan dan baru akan terungkap 50 tahun kemudian. Mereka juga menyatakan, bahwa tidak diperlukan surat undangan khusus untuk terlibat dalam proses nominasi. Pernyataan ini langsung memicu pertanyaan tentang keabsahan klaim Komunitas Puisi Esai. Denny JA membantah tuduhan hoaks, dengan alasan surat undangan memang ada.

Polemik yang lebih dalam adalah tentang dasar pencalonan Denny JA: inovasi genre “Puisi Esai”. Bagi sebagian sastrawan, genre ini dianggap tidak puitis, dangkal, dan kering nuansa. Denny bahkan dianggap sebagai “perusak dunia sastra Indonesia” dan “bukan sastrawan” karena latar belakangnya sebagai konsultan politik. Namun, pendukung Denny melihat sisi lain: ia berhasil mendirikan Komunitas Puisi Esai, menerjemahkan lebih dari 100 karyanya ke bahasa Inggris, dan mengembangkan puisi esai hingga ke Malaysia.

Tiga Wajah Kontroversi

Nama-nama ini mewakili tiga jenis kontroversi yang berbeda. Pramoedya adalah kasus sastra yang dilarang karena alasan politik. Denny JA adalah kasus “diplomasi sastra” yang keabsahan dan substansinya dipertanyakan.  Sementara itu, Mochtar Lubis dan Y.B. Mangunwijaya lebih merupakan bagian dari diskusi dan spekulasi intelektual yang sulit dikonfirmasi secara formal.

Namun, dalam semua kontroversi ini, ada benang merah yang menarik: setiap pencalonan selalu memicu perdebatan sengit di dalam negeri, jauh sebelum kata-kata ‘Nobel’ sempat dipertimbangkan oleh juri di Stockholm. Pertanyaannya kemudian: apakah kontroversi-kontroversi ini akan mengurangi peluang, atau justru menjadi bukti bahwa sastra Indonesia —dengan segala dinamikanya— memang layak diperbincangkan di panggung dunia?

Sekarang, Himpunan Sarjana Kesustraan Indonesia (HISKI) akan mengajukan Taufiq Ismail sebagai penerima Hadiah Nobel. Saatnya kita berdamai dari setiap kontroversi. Seperti yang pernah ditulis oleh novelis Anindita S. Thayf: “Nobel Sastra diperuntukkan bagi sastrawan yang karyanya dianggap terbaik oleh Akademi Swedia, bukan untuk memilih sastrawan malaikat terbaik di dunia.”

Sekali lagi, kita wajib berdamai. Sudah saatnya kita melihat kontroversi sebagai bagian dari dinamika sastra yang hidup, bukan sebagai alasan untuk saling menjatuhkan. {*}

*) Much. Khoiri (nama pena Dr Drs Much. Khoiri, MSi) adalah Pengajar/peneliti Kajian Sastra/Budaya dan Menulis Kreatif di FBS Universitas Negeri Surabaya, founder Rumah Virus Literasi, editor, penulis 81 buku, serta peresensi dan penulis esai lepas untuk berbagai media massa. Profil lengkap: https://muchkhoiri.com/2021/01/tentang-penulis/

Tags: KontroversiMuch. KhoiriNobel SastraSastrawan Indonesia

Related Posts

Langkah Besar HISKI Mengusung Taufiq Ismail Menuju Nobel Sastra

Langkah Besar HISKI Mengusung Taufiq Ismail Menuju Nobel Sastra

by Radar Jatim
11 Juli 2026
0

Oleh Tengsoe Tjahjono Pengusulan seorang...

Menyalakan Lilin Keilmuan: Refleksi Editor Buku Seni, Sastra, dan Budaya Lokal

Menyalakan Lilin Keilmuan: Refleksi Editor Buku Seni, Sastra, dan Budaya Lokal

by Radar Jatim
29 Juni 2026
0

Oleh Much. Khoiri Di tengah...

Menulis dari Ruang Ketiga: Refleksi, Perlawanan, dan Ibadah

Menulis dari Ruang Ketiga: Refleksi, Perlawanan, dan Ibadah

by Radar Jatim
21 Juni 2026
0

Oleh Much. Khoiri Pernahkah Anda...

Load More

Radar Jatim Video Update

Berita Populer

  • Tangis Haru Mewarnai Suasana Penjemputan Siswa SMA Negeri 1 Wonoayu

    Tangis Haru Mewarnai Suasana Penjemputan Siswa SMA Negeri 1 Wonoayu

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Soft Launching KM Dharma Kencana V, Fasilitas Mewah Berkapasitas 1.400 Penumpang

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ribuan Warga Padati Alun-alun Tugu Malang, Dukung MBG Menuju 82 Juta Penerima Manfaat

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ribuan Warga Doakan Keluarga Besar SMK Antartika 2 Sidoarjo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Analisis Semantik Puisi ‘Aku Ingin’ Karya Sapardi Djoko Damono

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Radar Jatim adalah media online Jatim yang memberikan informasi peristiwa dan berita Jawa Timur dan Surabaya terkini dan terbaru.

Kategori

  • Artikel dan Opini
  • Ekonomi Bisnis
  • Ekosistem Lingkungan
  • Esai/Kolom
  • Feature
  • Finance
  • HAM
  • Hukum dan Kriminal
  • Infrastruktur
  • Kamtibmas
  • Kemenkumham
  • Kesehatan
  • Ketenagakerjaan
  • Komunitas
  • Kuliner
  • Lain-lain
  • Layanan Publik
  • Lifestyle
  • Literasi
  • Nasional
  • Olah Raga
  • Ormas
  • Otomotif
  • Pariwisata
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Peristiwa
  • Pertanian
  • Peternakan
  • pinggiran
  • Politik
  • Religi
  • Sastra/Budaya
  • Sosial
  • Tekno
  • TNI
  • TNI-Polri
  • Transportasi
  • video
  • Wisata

Kami Juga Hadir Disini

© 2020 radarjatim.id
Susunan Redaksi ∣ Pedoman Media Siber ∣ Karir

No Result
View All Result
  • Home
  • Politik
  • Hukum dan Kriminal
  • Nasional
  • Lifestyle
  • Tekno
  • Ekonomi Bisnis
  • Artikel dan Opini

© 2020radarjatim.id

Login to your account below

Forgotten Password?

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In