SURABAYA (RadarJatim.id) — The 3rd Apebskid International Conference on Multidisciplinary Studies (AICoMS 3) yang digelar Universitas Negeri Surabaya (Unesa) bersama Asosiasi Peneliti Bahasa, Sastra, dan Budaya (Apebskid) di Graha Utama di BBMPP Jawa Timur, Surabaya, 18-20 September 2026, menjadi panggung penting bagi gagasan, bahwa kearifan lokal adalah kunci pembangunan berkelanjutan.
Dalam salah satu presentasi utama, Dr Ir Hugua, MLing, Wakil Gubernur Sulawesi Tenggara, memaparkan praktik baik pembangunan Wakatobi 2006–2016 yang membuktikan, bahwa visi “Terwujudnya Surga Nyata Bawah Laut di Pusat Segitiga Karang Dunia” dapat diwujudkan melalui prinsip budaya memberikan kontribusi kepada alam.
Dalam presentasinya, Dr Hugua juga menawarkan “HUGUA Model” dengan lima pilar: Humanity, Uniqueness, Governance, Universal Promotion, dan Accessibility, sebagai strategi hibrida yang memadukan standar global dengan kearifan lokal agar pariwisata inklusif dan resilien.
Model ini menegaskan, bahwa pembangunan berkelanjutan tidak dapat direduksi menjadi satu kerangka universal semata, melainkan harus memberdayakan komunitas lokal sebagai agen aktif pembangunan.
BACA JUGA:
Dijelaskan, Wakatobi yang terletak di jantung Coral Triangle dengan 750 spesies karang dan 942 spesies ikan, serta diakui sebagai Cagar Biosfer UNESCO ini, berhasil mengatasi masalah racun dan bom ikan, perdagangan gelap, coral bleaching, dan pengambilan batu karang berlebihan melalui revitalisasi lembaga adat, reformasi birokrasi berbasis budaya lokal, dan pembangunan jaringan global.
“Hasilnya, pertumbuhan ekonomi mencapai 13,67%, pendapatan per kapita naik dari 5,6 juta menjadi 12 juta rupiah, dan kemiskinan turun dari 24,56% menjadi 17,58%,” ujarnya.
Gagasan dan praktik baik tersebut sejalan dengan tema besar AICoMS 3, “Embedding the SDGs into Culture, Language, Literature, Communication, Arts, and Design for a Digital Age“, yang menegaskan, bahwa dimensi lunak pembangunan manusia adalah jantung peradaban,” ungkap Ketua Apebskid Indonesia, Prof Dr Suwardi Endraswara, MHum.
Sementara itu, Rektor Unesa, Prof Dr Nurhasan, MKes, dalam sambutannya menekankan, bahwa perubahan iklim, ketimpangan sosial, perdamaian, dan keadilan berakar pada cara pandang, etika, dan narasi yang dibentuk oleh budaya, bahasa, sastra, komunikasi, seni, dan desain. Kearifan sosial, menurutnya, sangat relevan dalam pembangunan berkelanjutan.
Konferensi yang diikuti 200 peserta secara luring dari berbagai kalangan ini mempresentasikan makalah dalam enam subtema. Keenamnya: Budaya, Sastra, Bahasa, Komunikasi, Seni, dan Desain, serta menginisiasi MoU Corner untuk memperkuat kolaborasi antarinstitusi dalam mewujudkan Sustainable Development Goals (SDG). (sha)








