SIDOARJO (RadarJatim.id) Ketua Kelompok Fraksi (Kapoksi) Komisi VII DPR RI Fraksi Partai Gerindra, Ir.H.Bambang Haryo Soekartono, M.I.Pol mendorong penguatan industri tahu di wilayah Kabupaten Sidoarjo. Industri tahu di Sidoarjo juga perlu dilakukan pendampingan agar mereka terus bisa naik kelas.
PPihaknya juga meminta pemerintah menekan harga kedelai untuk menjaga keberlangsungan industri tahu. Selain bahan baku, penguatan pemasaran digital, pembenahan mesin produksi, dan pendampingan perizinan dinilai penting agar industri kecil mampu berkembang dan bersaing.
Hal itu disampaikan saat BHS mengunjungi industri tahu Tropodo milik Umar Amin di Tropodo, Krian, Sidoarjo. Industri tahu yang telah beroperasi lebih dari 40 tahun ini memproduksi sekitar satu ton tahu setiap hari, terdiri atas 800 kilogram tahu goreng dan 200 kilogram tahu mentah untuk memenuhi pasar Surabaya, Sidoarjo, Mojokerto, dan sekitarnya.

“Usaha ini memiliki potensi besar untuk berkembang, terutama jika didukung pemanfaatan teknologi digital. Beliau ini belum memasarkan melalui media sosial. Kalau memasarkan melalui media sosial atau digital, saya yakin penjualannya akan lebih meningkat lagi,” ujar BHS, Kamis (29/10/2026).
Dewan Pakar DPP Partai Gerindra ini menyampaikan harga kedelai yang kini mencapai lebih dari Rp11.000 per kilogram menjadi salah satu persoalan yang perlu mendapat perhatian pemerintah. Pihaknya meminta kebijakan harga bahan baku lebih berpihak pada keberlangsungan industri tahu.
BHS juta mengapresiasi penggunaan kayu sebagai bahan bakar ketel produksi di industri tersebut. Industri tahu dilokasi tersebut juga terintegrasi dengan lokasi peternakan sapi yang memanfaatkan limbah tahu seperti ampas tahu untuk makanan ternah sapi perah. Termasuk menegaskan tim BHS peduli akan ikut serta melakukan pendampingan untuk membantu pemasaran dari sisi media sosialnya hingga perbaikan mesin produksi.
Sementara itu, Pemilik industri Tahu Tropodo, Umar Amin, berharap pendampingan yang dijanjikan dapat membantu memulihkan penjualan dan memperbaiki fasilitas produksi. Ia mengaku kenaikan harga di tingkat konsumen turut berdampak terhadap permintaan produknya.
“Kalau perusahaan tidak bisa rugi, yang menjadi tidak enak itu konsumen terakhir. Saya mendapatkan imbasnya saja, penjualannya agak kendur,” ujarnya.
Pihaknya berharap hharga kedelai bisa stabil agar tidak berdampak pada penjualan tahu produksinya. Umar juga menyambut baik rencana pendampingan untuk pembenahan mesin produksi yang belum dapat beroperasi serta penguatan pemasaran melalui media sosial oleh tim BHS Peduli.
Ditempat yang sama, Kepala Bidang Perindustrian Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Sidoarjo, M. Syaifudin, mengatakan pemerintah daerah akan mendampingi pelaku industri kecil dan menengah (IKM), terutama dalam pemenuhan legalitas usaha. Pendampingan mencakup Nomor Induk Berusaha (NIB), klasifikasi kegiatan usaha, dan perizinan melalui kolaborasi dengan dinas pelayanan perizinan serta organisasi perangkat daerah terkait.
“Kami utamakan perizinan-perizinan yang belum bisa dipenuhi oleh teman-teman IKM,” ujar Syaifudin. (RJ1)








