SIDOARJO (RadarJatim.id) Ketua Kelompok Fraksi (Kapoksi) Komisi VII DPR RI Fraksi Partai Gerindra, Ir.H.Bambang Haryo Soekartono, M.I.Pol menilai, kebiasaan donor darah perlu ditanamkan sejak usia muda. Sekolah Menengah Atas (SMA) dan sederajat, serta perguruan tinggi dinilai memiliki potensi besar untuk membangun kesadaran generasi muda mengenai pentingnya membantu sesama melalui donor darah.
Hal itu disampaikan saat BHS usai melakukan donor darah di kantor PMI Cabang Sidoarjo dalam rangka Hari Sumpah Pemuda. Saat ini keberlanjutan pasokan darah tidak hanya bergantung pada ketersediaan stok, tetapi juga regenerasi pendonor.
Keterlibatan generasi muda menjadi perhatian untuk menjaga kesinambungan donor darah di tengah kebutuhan layanan kesehatan yang dapat meningkat sewaktu-waktu. BHS saat itu melakukan donor darah bersama PT Dharma Lautan Utama dan tim BHS Peduli. Kegiatan ini sekaligus menjadi momentum untuk memperluas partisipasi masyarakat dalam aksi kemanusiaan.
“Donor darah ini harus dimulai sejak kita masih berusia muda dan dibiasakan. Sekolah-sekolah, mulai dari SMA, serta universitas di Sidoarjo bisa didorong untuk melakukan kegiatan ini sebagai bentuk kepedulian dan upaya saling membantu sesama,” kata BHS.
Dewan Pakar DPP Partai Gerindra ini menambahkan donor darah bukan sekadar kegiatan sosial, melainkan bentuk nyata solidaritas kemanusiaan. Semangat tersebut sejalan dengan nilai persatuan dan kepedulian yang dapat diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk melalui keterlibatan generasi muda dalam kegiatan kesehatan masyarakat.
Sementara itu, Kepala Bidang Pengelolaan Darah PMI Sidoarjo dr Shelivia Destiana menyampaikan jumlah pendonor di wilayahnya rata-rata mencapai sekitar 4.000 orang setiap bulan. Saat ini, stok darah PMI Sidoarjo dalam kondisi aman dan dinilai mencukupi kebutuhan pelayanan.
“Untuk ketersediaan saat ini aman. Alhamdulillah, stok darah tercukupi,” ujar Shelivia.
Meski begitu, kebutuhan darah dapat meningkat pada periode tertentu, terutama saat musim penghujan ketika kasus demam berdarah berpotensi bertambah. Peningkatan kebutuhan tersebut membuat ketersediaan darah dan kesinambungan partisipasi pendonor tetap perlu dijaga.
Selain memenuhi kebutuhan rumah sakit dan masyarakat di Sidoarjo, PMI setempat juga dapat membantu PMI maupun rumah sakit di daerah lain yang membutuhkan pasokan darah, sesuai ketersediaan stok. Kondisi ini menjadikan partisipasi pendonor sebagai bagian penting dalam mendukung layanan kesehatan lintas wilayah.
Disinggung mengenai pendonor darah diusia muda, dr Shelivia Destiana menyampaikan bahwa saat ini memang perlu digiatkan pendonor dari usia muda. “Usia minimal sudah bisa mendonor pada 17 tahun. Memang bagusnya sejak muda ikut donor darah karena produksi darahnya untuk pemulihannya lebih cepat,” pungkasnya. (RJ1)







